Es Campur Mama Ema

Oleh: Kak Ditarina

Kak Dita Arina Astrianda atau yang lebih dikenal sebagai Ditarina adalah seorang kasir di toko kelontong. Ia suka menulis dan berimajinasi. Tulisannya sudah banyak terbit di media online, termasuk buku cerita bergambar beserta ilustrasi hasil coretan digitalnya. Untuk pertama kalinya, Kak Dita mencoba “pamer” tulisan di Saung Kanak Nusantara dengan mengikuti tantangan 30 hari menulis di bulan Ramadan.

Suara gelas beradu dengan sendok terdengar hingga ke ruang keluarga. Belum lagi langkah kaki Mama Ema yang tiada hentinya. Sibuk ke sana kemari sambil sesekali membuka kulkas serta membalik cetakan agar-agar.

“Mama lagi buat apa?” tanya Ema.

“Mama lagi buat es campur. Mau ikut bantu?” tanya Mama Ema.

Ema mengangguk saja dan mulai mendekati mamanya, membantu melepas agar-agar dari cetakan bulat. Tak lupa ia menuang sirup dari botol ke dalam mangkuk besar. Sementara mamanya menyiapkan potongan buah segar.

“Setelah ini masuk kulkas dulu ya biar dingin. Nanti kita bawa ke masjid,” kata Mama Ema.

Sebelum buka puasa, Ema dan Mamanya pergi ke masjid. Ternyata teman-teman Ema dan ibunya datang membawa makanan serta minuman berbeda. Mereka akan ikut meramaikan buka puasa bersama nantinya.

Saat bedug ditabuh dan azan berkumandang, semuanya berbuka puasa di masjid. Mereka menikmati makanan dan minuman yang ada termasuk Es Campur buatan Mama Ema.

“Enak ya, es campur buatan mama kamu, Ma.” puji Lia. Ema senang mendengarnya. Memang es campur buatan mamanya selalu enak.

Saat sedang berbuka, anak-anak melihat Edo. Dia baru saja pulang dari memulung barang. Edo sempat melihat ke arah Ema dan teman-temannya sebentar, lalu berjalan lagi. Lia memanggilnya agar ke masjid. Awalnya Edo tidak mau karena malu, tapi tangannya langsung ditarik oleh Lia.

“Tapi aku nggak puasa seperti kalian. Aku kan … nonmuslim,” elak Edo malu.

Ema merasa Lia seharusnya tidak menarik Edo. Tapi, tampaknya Lia tak menyesal. Ia justru berani menegaskan sikap dan tetap mengajak Edo menikmati hidangan buka puasa.

“Nggak apa-apa, Edo. Ini bukan cuma buat yang muslim kok. Nih, cobain es campur buatan Mamanya Ema,” kata Lia sambil menyodorkan segelas es campur dalam gelas plastik.

Edo pun menerimanya dan mulai mencicipi. Dia senang sampai es campur itu habis diminumnya. Tiba-tiba, Ibu Edo memanggil anaknya untuk pulang. Ternyata, tadi Edo memulung bersama ibunya.  Mama Ema dan ibu-ibu lainnya pun menghampiri Edo dan ibunya. Bahkan mempersilahkan mereka makan. Keduanya sampai menangis karena di rumah memang sedang tidak ada makanan.

“Kalau begitu Ibu bawa ini buat di rumah, ya!” kata Ibu Lia sambil menyerahkan bungkusan mi goreng sayur buatannya.

“Iya, ini es campurnya masih banyak kalau mau nambah,” kata Mama Ema.

Edo dan ibunya tak berhenti melontarkan terima kasih. Lia, Ema dan anak-anak lainnya juga ikut memberi jajanan mereka pada Edo. Dia memang tidak seberuntung yang lain. Tetapi, selalu ada teman-temannya yang mau memberi. Ema tersenyum melihat Edo pulang bersama ibunya sembari membawa beberapa bungkus makanan serta Es Campur buatan mamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *