Desain Ajaib Loka
Oleh: Kaam Aleia
(Kak Kaam Aleia adalah seorang penulis novel di platform digital. Ia juga salah satu kontributor tetap saungkanak.com yang berasal dari kota Malang)
Loka terlihat bingung. Ia berkali-kali menghapus sketsa dari sebuah buku besar di mejanya. Rupanya, Loka sedang berusaha mendesain gaun untuk kompetisi fashion. Ia memang sudah lama menantikan kompetisi bergengsi untuk desainer cilik ini. Namun, kali ini ia benar-benar tak punya ide. Tema lomba kali ini adalah “Kembali ke Alam”.
Awalnya, Loka berpikir untuk menggunakan koran bekas sebagai pengganti kain. Tapi, ide itu sudah biasa. Banyak desainer yang menggunakan koran sebagai bahan pakaian.
“Uh…! Harus pakai bahan apa, ya?” Loka menautkan alisnya.
Gadis kecil itu kemudian merasa haus dan pergi ke dapur. Di sana, ibunya sedang memasak terung berwarna ungu yang cantik. Kulit terung itu dikupas dan disisihkan.
“Aha…! Mungkin aku bisa gunakan kulit terung. Pasti warna bahanku akan sangat cantik.” Loka pun meminta kulit-kulit terung itu pada ibunya.
“Bu, kulit terungnya boleh buat Loka?” pinta Loka sembari mengatupkan telapak tangan.
“Untuk apa, Sayang? Itu kan sampah.” Ibu menyahut sembari menggoreng tahu.
“Ada deh, Bu. Rahasia. Nanti kalau sudah selesai akan Loka tunjukkan.” Gadis itu tersenyum riang.
“Loka mau buat kreasi baru? Oke! Tapi, jangan lupa untuk membereskannya! Kulit terung itu sayuran yang pasti akan busuk. Jangan sampai kamar Loka jadi bau busuk, ya!” Ibu terkekeh.
Candaan Ibu membuat Loka berpikir kembali. Akan sangat merepotkan jika gaun yang dibuatnya berbau busuk pada saat kompetisi berlangsung. Loka tentu juga membutuhkan banyak terung untuk mendapatkan kulit ungu yang menutupi seluruh gaun. Itu artinya, Ibu Loka akan memasak terung setiap hari.
“Hmm, Loka tidak jadi pakai kulit terung ini, Bu. Maaf ya, Bu.” Gadis itu berjalan gontai kembali ke kamarnya.
Loka mengempaskan tubuhnya ke ranjang. Ia jadi pusing memikirkan ide untuk kompetisi desain. Sesaat kemudian ia tertidur. Loka bermimpi. Ia berada di tengah taman bunga yang luas. Ada banyak serangga baik di taman itu. Mereka turut bermain dan berkejaran bersama Loka. Beberapa dari mereka bahkan bisa berbicara.
“Senang sekali bisa ngobrol dan bermain dengan para binatang. Walaupun itu hanya mimpi.” Loka bergumam setelah terbangun dari tidurnya.
Tiba-tiba sebuah ide terbersit di benaknya. Loka melompat dari tempat tidur. Ia berjalan menuju taman. Desainer cilik itu mengamati dedaunan dan memunguti sesuatu dari permukaannya.
Esok harinya, Loka melakukan hal yang sama. Hampir setiap hari ia sibuk dengan aktivitas di taman. Loka bahkan menggunakan penjepit kecil untuk mengambil benda putih kecil di permukaan daun. Dengan sangat berhati-hati, ia kemudian memasukkan benda-benda kecil itu ke dalam mangkuk.
“Yes! Kurasa ini cukup,” gumam Loka.
Dengan wajah berseri-seri ia kembali ke rumah. Loka juga berhasil mengumpulkan sestoples kumbang koksi. Ia senang sekali. Gadis itu yakin, gaun buatannya akan memukau pada kompetisi nanti.
Loka mulai menyiapkan kain sisa untuk bahan dasar gaun. Ia menjahitnya menjadi gaun yang begitu cantik. Namun, tak selesai di situ. Loka memasang sesuatu di permukaan gaun. Benda putih kecil yang didapatnya dari taman ditempelkannya dengan teliti. Loka menggunakan lem sebagai perekat.
Saat kompetisi pun tiba. Para desainer cilik unjuk kebolehan. Gaun-gaun cantik hilir mudik menghiasi panggung. Ada gaun dari kulit telur. Ada juga gaun dari klobot jagung yang dikeringkan. Ada juga gaun dari irisan batang pisang. Para desainer itu sungguh sangat kreatif.
Akhirnya, giliran Loka tampil tiba. Ia buru-buru membuka stoples berisi kumbang-kumbang koksi. Dengan cepat kumbang-kumbang yang lapar itu hinggap dan memenuhi permukaan gaun Loka. Warna perca dari gaun itu pun berubah kemerahan.
Loka berjalan dengan percaya diri. Saat memutar tubuhnya di depan juri, kumbang-kumbang koksi berwarna merah dan hitam beterbangan. Semua orang bertepuk tangan. Juri tampak sangat takjub melihat pemandangan ajaib yang diciptakan Loka.
Sesuai dugaan, Loka pun maju sebagai pemenang lomba. Saat tampil di podium, salah satu juri sempat bertanya, “Apa yang Loka lakukan hingga keajaiban tadi bisa terjadi?”
“Rahasia kecil saya adalah telur serangga. Saya ingin membuat gaun yang tak hanya disukai manusia, tetapi juga binatang-binatang baik di sekitar kita.” Semua orang kembali bertepuk tangan menyambut kemenangan Loka.
Rupanya, benda putih yang ditempelkan Loka pada gaun buatannya adalah telur-telur serangga, makanan kumbang koksi. Para juri pun menggeleng-geleng karena tak menyangka Loka bisa punya ide seajaib itu.
