Oleh: Kak Rin Iroeta
Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan username Rin Iroeta.
Rio lebih memilih bermain di pantai dari pada berdiam diri di penginapan yang membosankan. Keputusan untuk mengikuti ibunya pelatihan, membuatnya menyesal.
Rio mencari tempat singgah yang nyaman untuk menyaksikan matahari terbenam. Kakinya terus berjalan agar sampai pada bebatuan yang sempat ia perhatikan dari balkon penginapan.
“Aku suka laut dan lumba-lumba, tapi kapan aku bisa liat lumba-lumba bermain di lautan, ya? Pasti senang rasanya,” gumam Rio
Sejak duduk di kelas 1 SD, Rio sangat menyukai segala hal tentang lumba-lumba. Setelah diajak ibunya melihat pertunjukan lumba-lumba, Rio menjadi lebih bersemangat mencari seluk-beluk hewan mamalia itu dari internet dan buku ensiklopedia hewan laut. Matanya berbinar ketika menonton video lumba-lumba berlompatan di lautan.
Lima menit lagi, matahari akan terbenam. Rio memilah dan memilih bebatuan yang tidak berlumut agar ia tidak terpeleset ketika berdiri di atasnya.
Pada lain dunia, terdapat dua ekor lumba-lumba bersembunyi di balik bebatuan yang besar dan kokoh. Mereka berbincang dengan keras sehingga memecah keseriusan Rio menikmati gejolak alam.
Bocah cilik itu celingukan, ”Suara siapa itu? Padahal tidak ada orang.” Raut wajah Rio mendadak berubah.
Ciko, salah satu anak lumba-lumba, terkejut melihat respon dari manusia yang ada di depannya. Ia berdebat dengan temannya, Alena, yang tidak percaya dengan hal mustahil itu.
“Dunia kita ini berbeda. Kamu ngarang, ah!”
“Nggak percaya? Aku panggil dia, ya? Kamu liat responsnya.”
Ciko mengetes suaranya terlebih dahulu seakan-akan bersiap untuk menyanyi. Alena memasang tatapan tajam untuk membuktikan pengakuan sahabatnya. Ombak masih terus berdatangan menyemarakkan suasana.
“Hai, manusia!” teriak Ciko dengan suara melengkingnya.
Rio kembali celingukan mencari sumber suara. Dan Alena terkejut menyaksikan fakta yang begitu ajaib. “Kami di sini, di depanmu. Tepatnya di sebelah batu yang paling besar.”
Bocah berkacamata itu menengok ke arah batu besar. Ia berjingkat menyaksikan dua lumba-lumba melompat ke udara dan mengajaknya berbincang. Rio pun berlari hingga jauh dari pandangan Ciko dan Alena.
Keesokan hari, Ciko kembali ke tepi batu tanpa Alena. Ia berharap Rio bersedia menolong permasalahannya.
Ketika Ciko sedang asik berolahraga, Rio kembali datang dan memanggilnya. Ia mendekati Ciko untuk memastikan penglihatannya,”Ini nyata?” ucap Rio, “Hei, ikan. Apa kamu benar-benar ikan? Tapi kok bisa berbahasa manusia?”
“Aku juga tak tahu. Kamu nggak takut sama aku?”
Rio tertawa,”Ngapain takut? Aku sangat mengenalmu. Dari video dan buku yang kubaca.”
“Ha? Apa itu?” jawab Ciko yang tidak paham dengan ucapan Rio.
Ciko dan Rio saling berkenalan. Anak lumba-lumba itu meminta tolong kepada Rio untuk menyelamatkan ibunya yang diringkus oleh manusia jahat untuk dijadikan artis sirkus. Harapan Ciko sangat besar kepada manusia yang baru ditemuinya itu.
“Aku dapat kabar, kalau tiga hari lagi ibuku ada pertunjukan di pantai. Kamu hanya perlu memecahkan kacanya. Maka ibuku langsung meluncur ke lautan.”
Ciko berbagi cerita kepada Rio bahwa banyak lumba-lumba kenalannya menjadi sasaran manusia jahat. Ada yang berhasil lolos, ada juga yang tidak pernah kembali. Hewan atau pun manusia memiliki keinginan hidup yang nyaman.
“Aku tunggu kamu tiga hari lagi, ya. Di sana.” Ciko menunjuk lokasi sirkus dengan isyarat matanya.
Tiga hari telah berlalu. Ciko dan Alena sudah berada di titik perjanjian. Mereka sempat khawatir jika Rio sama seperti manusia lainnya. Namun, kegelisahan itu terbayar ketika Rio datang dengan membawa ransel di punggungnya.
“Apa itu, Rio?” tanya Alena setelah berkenalan.
“Ini adalah ular palsu yang akan aku lempar ke para pengunjung. Ketika mereka berlarian, Aku akan memecahkan kaca kolam dengan batu yang kubawa.”
“Wah, idemu sangat cemerlang. Terima kasih, ya. Aku akan selalu mengingat kebaikanmu,” ucap Ciko.
Rio bersiap-siap meluncurkan rencananya. Para pengunjung telah berkumpul untuk menyaksikan atraksi para hewan laut. Ia melihat seekor lumba-lumba bercorak hitam di dekat alisnya yang sedang bersedih.
“Itu pasti ibunya Ciko. Aku sudah tidak sabar untuk menolongnya.”
Detik-detik yang ditunggu telah tiba. Rio melempar sepuluh ular palsu sehingga membuat para pengunjung berhamburan menuju pintu keluar. Rio mendekati ujung kolam dan mulai memukul kacanya dengan batu besar. Namun, apalah daya kekuatan anak sekecil Rio. Ia butuh orang dewasa.
Tidak disangka, dari arah belakang ada seorang wanita berseragam sirkus. “Kakak dari pecinta hewan laut yang sedang menyamar. Ayo kita pecahkan kaca ini! Biar mereka kembali ke habitatnya.”
Selang sepuluh menit, misi mereka berhasil. Ciko telah bertemu dengan ibunya. Mereka berpamitan dan mengucap rasa terima kasih dengan cara menyuguhkan lompatan indah.
“Sampai jumpa Ciko,” ucap Rio.

Great article.