Si Galak Makohe

Si Galak Makohe

Oleh: Rizka Amaliah

(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)

Air laut sedang surut. Binatang-binatang penghuni hutan bakau berkumpul. Mereka sedang membicarakan seekor kucing bakau bernama Tutul. Akhir-akhir ini, kucing berukuran cukup besar itu sering berkeliaran di hutan bakau. Beberapa ikan gelodok sudah menjadi santapannya.

“Bahaya juga kalau si Tutul terus di sini. Kemarin kulihat dia berenang dan menangkap Fishy. Aku yang kecil ini tentu tak bisa menolongnya.” Cuncung si kelomang tertunduk.

“Bukan salahmu Cuncung. Fishy saja yang apes, terlambat bersembunyi dari si Tutul.” Rara, monyet betina yang suka bergelantungan di pohon bakau, mencoba menenangkan hati Cuncung.

“Makohe! Kau sedang apa?” tanya Cuncung.

Udang bakau besar yang mirip kalajengking itu tak menyahut. Dia sibuk menggali lubang di pesisir berlumpur.

“Makohe! Kau tak dengar Cuncung bertanya?” tandas Rara.

“Jangan ganggu aku!” Makohe menjawab sengit.

“Bantu kamilah, Makohe! Ayo kita cari cara agar Tutul tak lagi mengganggu ikan-ikan dan binatang di sini. Sudah cukup banyak predator yang mengincar kita. Kalau ditambah si Tutul, bisa cepat habis isi hutan bakau ini.” Cuncung berteriak pada Makohe.

“Sudah kubilang jangan ganggu aku!” Suara Makohe meninggi.

“Ih, galak sekali dia.” Cuncung tampak kesal.

Makohe cukup lama menggali lubang. Ia kemudian menghilang entah ke mana.

“Dasar, Makohe! Bukannya dia sudah punya lubang sarang. Kenapa malah menggali di tempat si Tutul biasa muncul. Itu kan namanya cari masalah. Huh!” Cuncung menggerutu, tak habis pikir.

Beberapa saat kemudian, Makohe kembali dengan membawa beberapa lembar daun kering. Capitnya yang kuat menjepit lima hingga enam lembar daun sekaligus. Udang merah itu kemudian menatanya di atas lubang. Tak lupa, ia mengoleskan lumpur tipis di atasnya. Lalu ia perlahan merayap masuk ke dalam lubang. Seekor ikan gelodok bersantai di genangan, persis di sisi lubang.

“Loki! Kau sedang apa di situ?” Rara menyapa Loki si ikan gelodok.

“Sst… Jangan berisik!” Loki menyuruh Rara diam.

Sejurus kemudian, seekor kucing bakau melompat ke arah Loki. Ia tak menyadari bahwa ada lubang di sisi genangan. Kaki Tutul terperosok.

“Miaw…” jeritnya.

Ia terlihat kesakitan. Kakinya tak hanya terperosok. Di bawah, Makohe menjepit jari-jari kucing itu dengan kedua capitnya.

“Aw… Tolong aku! Sakit,” teriak Tutul.

Loki pura-pura bingung, “Kau kenapa, Tutul? Kenapa kakimu bisa terperosok begitu,” tanyanya.

“Aku tidak tahu, tadi tak ada lubang di sini,” seru Tutul.

“Jangan-jangan itu hantu bakau! Beberapa hari ini, binatang pendatang banyak yang diganggunya.” Loki mencoba menakuti Tutul.

“Hantu bakau? Lalu apa yang harus kulakukan supaya dia mau melepaskanku?” Tutul mengiba.

“Kau harus berjanji tidak akan berkeliaran lagi di sini. Dia pasti akan melepaskanmu,” tukas Loki.

“Benarkah? Wahai hantu bakau, tolong lepaskan aku! Aku janji tidak akan ke sini lagi.” Tutul meratap.

Benar saja, setelah dia mengatakan hal itu, kakinya terlepas. Tutul pun segera pergi menjauh dari area hutan bakau.

“Yeay! Berhasil.” Loki bersorak riang.

Makohe perlahan keluar dari lubang yang digalinya. Rara dan Cuncung yang mengintip kejadian itu pun turut keluar dan bertepuk tangan. Ia tak menyangka Makohe ternyata sedang melakukan misi penyelamatan hutan bakau.

“Hidup Makohe si galak.” Cuncung berteriak riang sekaligus mencibir Makohe. Makohe dan binatang lainnya pun tertawa melihat tingkah konyol si Cuncung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *