Bong yang Sombong

Bong yang Sombong

Oleh: Kak Rin Iroeta

Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan username Rin Iroeta.

Bong, seekor kancil yang lincah, sedang memanen wortel di kebun samping rumahnya. Ia sangat bahagia karena hasil panen kali ini sangatlah melimpah. Terik siang tidak menghalangi semangatnya yang berkobar.

Bong tidak punya waktu bersantai karena ia harus berkeliling hutan untuk membagikan wortel dan kangkung kepada kawan-kawannya. Mereka sudah menunggu.

Kancil yang dermawan itu melewati anak sungai untuk mengambil jalan pintas menuju hutan seberang. Namun, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Hara, seekor kura-kura yang memiliki tempurung berwarna cokelat. Bong menggoda Hara yang jalannya sangat lamban.

“Hei, kamu Hara, kan? Yang terkenal pelit di seluruh hutan?”

Hara menghentikan langkahnya, “Kamu benar. Namaku Hara. Kamu siapa? Kita kenal?”

“Wah, sombong sekali kamu, Hara?”

“Aku  berkata yang sebenarnya. Kita tidak pernah bertemu. Bagaimana bisa aku tau namamu?” jawab Hara dengan santai.

Bong yang usil berdiri di depan Hara yang akan melanjutkan perjalanannya. “Kamu  mau ke mana?”

“Aku mau berkunjung ke rumah kawanku. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama berbincang denganmu. Dia sudah menunggu,” keluh Hara kepada Bong.

“Udah pelit, sombong lagi. Kayak aku nih setiap kali panen selalu berbagi kepada kawan-kawanku. Tuh lihat, sekarang aku mau bagi-bagi wortel jumbo!” lanjut Bong sambil memamerkan pemberiannya. Hara hanya tersenyum ketika Bong meledeki dirinya.

Hara menatap mata Bong dengan serius, “Pepatah mengatakan, ketika tangan kanan memberi sebaiknya tangan kiri tidak tahu. Lagi pula apa untungnya mengumumkan kebaikan kita kepada semua orang?”

“Wah, kesombongan si lamban ini benar-benar melebihi batas!” teriak Bong kesal.

“Minggir, aku mau lewat atau aku teriak memanggil si raja singa bahwa ada yang menganggu perjalananku!” Hara menghadapi Bong dengan sangat tenang. Ia pun melanjutkan perjalanan dengan memasang senyum lega.

Bong masih jengkel karena ucapan Hara yang menyakitkan. Ia pun bergegas melanjutkan perjalanan menuju hutan.

Suwa dan Suwe, kelinci yang hidup sebatang kara, sedang duduk memelas di depan rumahnya. Mereka satu-satunya penduduk hutan seberang yang tidak memiliki ayah dan ibu. Oleh karena itu, banyak hewan yang menyayangi mereka.

“Kenapa Hara lama sekali, ya, We? Apa terjadi sesuatu? Meski jalannya lamban, dia tidak mungkin terlambat sampai selama ini.”

Suwa mencoba menenangkan adiknya, “Sabar, We! Tunggu sebentar lagi! Kamu masuk rumah saja, biar aku yang menunggu sahabat kita!”

“Bagaimana bisa santai kalau sudah selama ini? Aku jemput Hara saja. Aku khawatir, Wa,” ucap Suwe dengan nada memaksa.

Suwa dan Suwe membuat kesepakatan, jika Hara tidak muncul dalam hitungan lima menit, mereka akan menyusul kawannya itu ke tengah hutan.

Waktu berjalan sangat lama. Ekspresi bosan mulai terpancar dari kakak beradik itu. Tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk tetap berdiam diri di rumah.

Ketika hendak melakukan misi menjemput Hara, muncullah sosok yang sangat ditunggu.

Hara tidak menceritakan hal yang telah membuatnya sangat terlambat. Ia lebih memilih mengeluarkan kangkung dan wortel untuk kedua bersaudara dari dalam tempurungnya.

Di lain tempat, Rusa yang mendengar percakapan Bong dan Hara telah membuat sebuah rencana. Ia harus mencuri wortel jumbo milik Bong.

Pom, si rusa pencuri, menyiapkan jebakan dari tanah berlubang yang ditutupi oleh limpahan daun kering.

“Aku hanya perlu memancingnya ke sini. Ha ha!” pekik Pom bangga.

Si rusa kelaparan. Ia membuat suara gaduh di sekitar semak. Hal itu membuat Bong risih dan mencari sumber suara.

Brak!

Terperosoklah Bong pada lubang yang dirancang oleh Pom. Ia mengeluh kesakitan, tapi pom hanya mempedulikan wortel jumbo yang sudah ada di dalam genggamannya.

Pom mengabarkan pada tupai yang sedang bersantai di atas pohon bahwa ada kancil yang membutuhkan pertolongan. Ia pun melarikan diri  dan bersembunyi ke tempat yang aman. Rusa takut ketahuan.

Keesokan hari, Bong bertemu lagi dengan Hara. Ia meminta maaf karena keangkuhannya telah mengundang masalah.

“Kesombongan akan menghanguskan amalan kita. Jadilah dermawan tanpa diketahui banyak orang!” pesan Hara kepada Bong. Kini mereka memutuskan untuk berteman selamanya. Namun, Bong masih tetap tidak mengetahui jika Hara juga gemar memberi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *