Gulali untuk Chika

Gulali untuk Chika

Oleh: Kaam Aleia

(Kak Kaam Aleia adalah seorang penulis novel di platform digital. Ia juga salah satu kontributor tetap saungkanak.com yang berasal dari kota Malang)

Lia senang sekali. Hari ini, ia dan teman-temannya akan tampil dalam acara Malang Tempoe Doloe. 10 siswa SD Dian Asa mendapat kesempatan untuk menari di panggung besar. Mereka akan membawakan Tarian Topeng khas Malang.

Bocah berambut ombak itu sudah tak sabar ingin segera berangkat ke Jalan Ijen. Ya! Salah satu sudut di jalan Ijen adalah tempat kesepuluh anak itu akan tampil. Sebenarnya, Lia agak demam panggung. Ia takut dan khawatir penampilannya kurang bagus. Hanya ada satu hal yang membuatnya buru-buru berangkat. Hal itu adalah jajanan jadoel atau jaman doele yang dijual di sepanjang jalan Ijen.

Bisa dikatakan bahwa acara MTD (singkatan dari Malang Tempoe Doloe) ini adalah pesta rakyat. Orang-orang di Malang bisa menikmati penampilan dan jajanan tradisional di sini. Lia selalu menyambut acara tahunan ini dengan riang.

Lia bersama rombongan sekolahnya pun sampai di jalan Ijen. Hampir semua orang memakai pakaian adat. Ada yang berkebaya, memakai baju lurik, batik, bahkan banyak perempuan yang memakai konde. Lia merasa seperti berada di zaman sebelum kemerdekaan.

Di sepanjang jalan ada kios-kios bambu yang berjajar. Atapnya terbuat dari jerami. Jalan Ijen benar-benar disulap menjadi kampung tradisional. Bahkan, ada bule yang memakai blangkon dan kebaya brokat.

“Itu dia!” Raka menunjuk penjual gulali di seberang jalan.

“Bu, kami izin beli gulali dulu, ya.” Lia memohon pada Bu Atika, guru tari mereka.

“Boleh, tapi jangan lama-lama. Ibu beri waktu sepuluh menit ya. Sebentar lagi sudah waktunya tampil.” Bu Atika mengangguk-angguk untuk memastikan anak-anak disiplin.

“Siap, Bu!” Raka dan Lia kompak meletakkan tangan di pelipis.

Ternyata, mereka harus mengantre. Pelanggan yang hendak membeli gulali cukup banyak. Setelah menunggu sekitar sembilan menit, gulali mereka pun siap. Raka dan Lia senang sekali. Mereka segera berlari menuju area panggung.

“Raka, Lia! Ibu di sini.” Bu Atika melambaikan tangan pada kedua bocah itu.

Lia dan Raka pun balik melambaikan tangan. Namun, Lia mendadak menghentikan langkahnya. Rupanya ia melihat seorang gadis kecil sedang menangis di tepi jalan. Ia pun menghampiri gadis itu.

“Kamu kenapa? Kok nangis?” sapa Lia ramah.

Gadis itu tak menyahut. Lia kemudian mendekat. Ia melihat sorot mata gadis itu tertuju pada gulali.  Tampaknya anak itu menginginkan gulali Lia.

“Jangan takut! Ini gulali buat kamu.” Lia memberikan gulalinya.

Gadis itu pun terdiam. Ia mengambil gulali itu. Tangisnya mereda perlahan. Gadis itu lalu menjawab pertanyaan Lia, “Mamaku hilang.”

Lia dan Raka berpandangan. Raka kemudian celingukan ke kanan dan ke kiri. Ia seperti tengah mencari sesuatu. Raka kemudian berbisik pada Lia.

“Ayo ikut Kakak! Kita cari mamamu. Namamu siapa?” Lia dan Raka mengajak gadis kecil itu menuju area panggung.

“Chika,” jawab anak itu singkat sambil menjilat gulali.

Kedua anak itu kemudian meminta tolong pada panitia untuk mengumumkan berita anak hilang. Dengan pengeras suara, ibu Chika akhirnya bisa mendengar pengumuman. Chika pun dijemput. Namun, sebelum pergi, keluarga Chika berterima kasih pada Lia dan Raka. Mereka juga ikut menonton pertunjukan tari kedua anak itu.

1 comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *