Dante si Detektif Semut

Dante Si Detektif Semut

Oleh: Kak Rin Iroeta

Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan username Rin Iroeta.

Suatu hari pada akhir musim panas, Raja Tenox memberikan satu biji gandum ajaib kepada Dante, detektif dari kerajaan semut. Sang raja memberi imbalan karena Dante telah membantu putrinya untuk menemukan gelang kesayangannya yang hilang.

Raja Tenox meninggalkan singgasananya sambil membawa satu gandum, “Dante, kamu harus menjaga gandum itu baik-baik! Jika sampai jatuh kepada orang yang salah, maka akan merugikan rakyatku.”

“Terima kasih Yang Mulia atas hadiah istimewanya. Hamba sangat bahagia menerimanya, tapi maaf, apa keajaiban gandum ini sehingga Yang Mulia begitu memujinya?” Dante memasukkan gandum itu ke dalam tas kecil yang melingkar di lehernya.

Raja Tenox tertawa dan berbisik, “Gandum itu bisa berkembang biak. Di kerajaan semut, hanya dua orang yang memiliki gandum ajaib ini, yakni aku dan kamu.”

“Bisa berkembang biak?” Dante memasang ekspresi penasaran.

Raja Tenox berdiri mendekati telinga Dante, “Kamu cuil gandumnya dan masukkan ke dalam air, maka gandum itu akan berkembang biak sepuluh kali lipat. Jadi seumur hidupmu tidak akan merasa kekurangan pangan, Dante. Sekarang Pulanglah, beristirahatlah! Kamu pasti lelah karena tiga hari berkelana di hutan.”

Tidak jauh dari singgasana Raja, ada seekor semut culas bernama Srex. Ia sedang menguping pembicaraan Raja Tenox dan Dante. “Ha-ha… Ini kabar bagus, tapi tadi Raja berbisik apa? Aku tidak mendengarnya.”

Dante keluar dari istana dengan wajah yang gembira. Ia berjalan melompat sambil bernyanyi. Tas kecil yang berisi gandum itu ia peluk dengan erat.

“Yeay! Aku bisa bersantai sepanjang musim, dengan begitu aku punya waktu untuk bekerja sebagai detektif. Aku juga bisa berbagi gandum dengan teman-teman.”

Sesampai di rumah, Dante menyimpan gandum miliknya di sebuah kotak. Lalu, kotak itu ia sembunyikan di atas pintu.

“Sekarang waktunya mencari adik Sonar yang hilang di hutan.” Dante memasukkan bekal ke dalam tasnya. Tidak lama kemudian ia meninggalkan rumah menuju hutan. Meski Dante lelah karena baru pulang dari hutan, tapi ia masih bersemangat untuk melaksanakan kewajibannya sebagai detektif.

Srex berjalan mengendap-endap menuju rumah Dante. Ternyata, sejak tadi ia menunggu di balik pohon. Srex bersembunyi!

“Kenapa rumah ini sepi sekali? Apa dia tinggal sendiri? Kalau begitu kebetulan sekali!” Srex mencari cara agar bisa masuk ke rumah Dante. Ia mengambil sebuah batu lalu memukulkannya pada pengait besi yang menjadi kunci rumah Dante.

Srex bersorak sendiri karena usahanya berhasil. Ia bergegas masuk ke rumah, mencari ke segala tempat. Srex lelah karena tidak juga menemukan tempat persembunyian gandum. Ia merebahkan diri ke lantai dan menatap ke arah pintu.

“Kotak apa itu?” Srex berjigkat dengan cepat dan meraih sebuah kotak yang ada di atas pintu. Ia membuka kotak itu dan alangkah terkejutnya Srex karena gandum yang dicari sudah ketemu.

Srex tertawa riang, “Ha-ha… Akhirnya kamu menjadi milikku!”

Waktu berlalu dengan cepat. Keesokan hari, Dante kembali dari hutan dengan wajah yang riang karena adik Sonar ia ketemukan dengan cepat. Ia selalu bernyanyi di sepanjang perjalanan. Namun, tiba-tiba keceriaannya berubah setelah melihat pintu rumahnya terbuka lebar.

“Rumahku!” Dante berlari sekencang-kencangnya. Seisi rumah sudah kacau balau, bahkan susu favoritnya telah tumpah ke lantai. Dante geram!

Dante teringat akan gandumnya. Tatapannya langsung mengarah ke atas pintu. “Kotakku hilang! Siapa yang berani mencuri di rumah detektif? Aku akan mencarimu!”

Dante mengambil kaca pembesar. Ia mengikuti jejak kaki pelaku hingga ke arah istana. Di tengah perjalanan, ia menemukan kalung milik salah satu semut rangrang yang ia kenal.

“Ini kan milik, Srex? Kalau dipikir-pikir, rumahnya juga berdekatan dengan istana. Apakah dia pencurinya?”

Dante bergerak cepat menuju rumah Srex. Ia berjalan mengendap-endap dan mengintip dari jendela. “Srex! Lepaskan gandum itu!”

Srex berlari keluar rumah, “Tidak! Gandum ini milikku. Aku membelinya dari desa seberang.”

“Kamu akan menyesal karena telah mencuri barang milik Dante!” Semut Detektif itu bertolak pinggang untuk menggertak lawannya.

Di tengah perdebatan yang sengit, salah satu keamanan kerajaan melintasi rumah Srex. Dante meminta agar Raja Tenor dapat membantu permasalahan gandum ini. Keamanan kerajaan menyetujui permintaan Dante. Mereka pun berangkat bersama-sama menuju istana.

Raja Tenox terbahak mendengar pembelaan Srex. “Kamu bohong! Di wilayah kerajaan ini, Gandum itu hanya ada dua. Satu milikku dan satu lagi milik Dante.”

Srex langsung berlutut, memohon maaf kepada Raja Tenox dan Dante atas kesalahannya. Srex pun dihukum. Ia harus merawat taman kerajaan selama satu tahun. Ia pun menerima hukuman yang ditetapkan oleh kerajaan itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *