Pupa-pupa di Liang Sembunyi (3)

Pupa-pupa di Liang Sembunyi (3)

Oleh: Rizka Amaliah

“Oh, ya Undur-undur Kecil! Siapa namamu?” tanya Pupa.

“Namaku Pupa.” Jawabnya.

“Hei! Jangan bercanda! Itu namaku.”

“Kau yang bercanda. Namaku memang Pupa.”

“Bagaimana mungkin nama kita sama.”

“Mungkin saja! Sebab semua undur-undur di sini bernama Pupa.”

“Bohong! Tidak mungkin!”

“Jadi, semua kawanmu di sini bernama Pupa.”

“Ya!”

“Lalu bagaimana aku akan memanggilmu? Pupa? Begitu? Dan bagaimana kau akan memanggilku? Pupa juga? Ah! Ini tidak masuk akal.”

“Tentu saja masuk akal. Aku yakin semua undur-undur bernama Pupa. Apa salahnya memiliki nama yang sama?” Gerutu undur-undur kecil.

Pupa dan Pupa si Undur-undur kecil berdebat sengit soal nama mereka.

“Sudah! Cukup! Begini saja! Karena tubuhmu kecil akan kupanggil dengan sebutan Pupa Kecil. Bagaimana?”

“Tidak! Aku tidak mau, aku kan tidak mungkin selamanya kecil. Suatu saat mungkin aku bisa lebih besar darimu.”

“Lalu, maumu apa? Ganti nama?”

“Tidak! Aku mau kau memanggilku Kakak Pupa dan aku akan memanggilmu Adik Pupa. Selisih usia kita satu minggu, bukan?”

“Hmm! Sok tahu sekali! Tapi, baiklah! Kalau kulihat dari panjang taring kepalamu, kau memang tampak lebih tua dariku. Aku setuju! Aku akan memanggilmu Kakak.”

Mereka pun bersalaman. Malam itu, Kakak Pupa dan Pupa tidur di liang yang sama, bertiga dengan Pupa lain yang sedang meringkuk di dalam gumpalan pasir.   

Esok harinya, Pupa membuka mata dan melihat Kakak Pupa masih pulas tidur di sebelahnya. Ia melangkah keluar perlahan-lahan. Sejak semalam, ia telah berniat menggali lubang corong untuk tempat tinggal dan tidur. Sebab jika mereka bertiga tidur dalam satu liang, ruang gerak mereka menjadi sempit. Apalagi Kakak Pupa tidur sambil mendengkur. Suaranya menggema dan memenuhi seluruh ruang. Pupa beberapa kali terbangun. Ia tak bisa tidur dengan lelap seperti biasanya. 

Di liang yang baru, Pupa berguling-guling dan menikmati ruangan luas yang baru saja dibangunnya itu. Beberapa saat kemudian, sebutir telur menggelinding ke dalam liang.

“Ah! Ada yang masuk dalam jebakan!” Pupa memekik bahagia.

Akhirnya, ia bisa makan. Pupa menikmati telur serangga yang ukurannya cukup besar itu. Ia menyesap cairan kental di dalam cangkang telur. Setelah kenyang, ia membaringkan tubuh dan melemaskan kaki-kaki mungilnya. Ia melepas penat sambil menatap dinding liang. Pelan-pelan, matanya terpejam.

Rasanya matahari sudah tenggelam beberapa kali, tapi Pupa masih menikmati kesendiriannya di dalam liang baru. Pada sore keempat, ia baru teringat akan Kakak Pupa.

“Mengapa Kakak Pupa tidak berkunjung ke sini sama sekali? Apa dia lupa padaku? Atau dia sudah tidak peduli? Jangan-jangan dia marah karena aku tiba-tiba saja menghilang dari rumah sempitnya?”

Pertanyaan demi pertanyaan menumpuk di kepala Pupa. Otaknya jadi penuh dengan tanda tanya yang berjajar dan bertumpuk hingga ke ubun-ubun.

“Mungkinkah aku yang terlalu cuek? Hmm! Sepertinya aku perlu mengunjunginya terlebih dahulu.” Pupa berbicara sendiri.

Seperti biasa, Pupa berjalan mundur ke luar liang. Ia celingukan, menengok ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tak ada predator yang akan menyergapnya. Undur-undur itu kemudian berjalan agak tergesa-gesa menuju rumah satu-satunya undur-undur yang ia anggap kerabat. Dan mungkin, satu-satunya yang tersisa dari spesiesnya.

“Pupa! Kakak Pupa!”

Pupa memanggil undur-undur kecil dengan berteriak sambil terus berjalan di dinding corong. Ia tak mendapatkan jawaban apa pun atas panggilannya.

“Dasar undur-undur kecil! Sukanya main dan keluar dari liang.”

Sepanjang jalan menuju dasar liang, Pupa terus menggerutu. Ia kesal karena panggilannya tak diindahkan. Pupa bahkan bergumam akan menyentil dua taring runcing di kepala undur-undur kecil itu. Namun, setelah sampai di dasar liang, wajah Pupa berubah pucat. Matanya membelalak dan berkaca-kaca. Air matanya tumpah dan tubuhnya ambruk di atas lantai pasir.

Pupa berteriak nyaring. Ia meraung. Bagai bocah kehilangan induknya, air matanya menderas. Semuanya terjadi karena ia tak menemukan Kakak Pupa. Yang ada di hadapannya saat ini adalah dua gumpalan pasir yang bentuknya mirip dengan kepompong.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *