Lola (3)
Oleh: Rizka Amaliah
Lola perlahan membuka kelopak matanya yang telah cukup lama mengatup. Gelang berwarna biru yang melekat di ujung lengan dan berfungsi sebagai alarm untuk nyaris semua hal itu memberikan sinyal khusus agar Lola mengisi ulang energinya dengan sarapan. Ia pun bangun dan segera beranjak ke kamar mandi. Rampung membersihkan diri, gadis itu bersiap ke ruang makan. Namun, langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu yang aneh pada monitor hologram.
“Semalam aku tertidur. Lalu siapa yang mematikan monitor?”
Cukup lama ia bergeming. Alisnya mengerut. Namun, ia tak sepenuhnya risau. Sebab, seluruh monitor hologram menyimpan data para siswa dengan sangat rahasia, sebagai bentuk perlindungan terhadap hak kekayaan intelektual mereka. Jadi, computer bisa mendeteksi pengguna dengan sidik jari yang menempel di keyboard. Jika ada orang lain yang menggunakan monitor sebelum pengguna log out, maka data pengguna tersebut akan terkunci otomatis dan beralih pada pengguna baru.
Usai sarapan, Lola segera masuk ke kelas seni. Pagi ini ia bisa sejenak menanggalkan kegelisahan tentang hasil eksperimennya. Kelas seni memang selalu diawali dengan meditasi sebagai sebuah proses menjernihkan pikiran. Kelas seni merupakan mata pelajaran pilihan dalam kurikulum Futurescience School. Jadi, tak heran jika jumlah siswanya hanya 10 orang.
Bidang seni memang tak terlalu memiliki peminat. Sebab bagi anak-anak di sekolah ini, tak banyak peluang untuk menghasilkan temuan atau eksperimen jenius bidang seni. Hanya 10 siswa yang kini berada di ruangan seluas 12 x 9 meter inilah yang memiliki pemikiran berbeda. Bagi mereka, seni merupakan penyeimbang hidup dan pikiran. Jika mereka berhasil menciptakan mahakarya seni, maka eksperimen-eksperimen sains mereka akan lebih hidup dan berkarakter.
Anak-anak di kelas seni sangat percaya pada berbagai sugesti yang diberikan Ibu Rara, guru seni mereka.
“Sains dan seni adalah dua hal yang beririsan, tidak berseberangan atau bertolak belakang. Jika kalian bisa memandang segala sesuatu sebagai sebuah karya seni, maka kalian tak hanya akan menghasilkan temuan jenius, tetapi juga estetik.” Tutur Bu Rara pada pertemuan pertama kelas seni.
Berkat bimingan Bu Rara, Lola dan teman-temannya memahami bahwa sains membutuhkan seni. Begitu pula sebaliknya. Seni tanpa sains tidak akan sempurna, sedangkan sains tanpa seni akan kering, seperti robot-robot generasi pertama di sekolah mereka.
Oh ya! Bicara tentang robot, hanya di kelas senilah anak-anak tidak menemukan robot asisten. Aggota kelas seni harus melakukan semua hal secara manual. Kata Bu Rara, dengan begitu anak-anak baru dapat merasakan kenikmatan belajar seni.
Lola duduk bersila di atas matras. Matanya terpejam. Jari-jari, lengan, dan tubuhnya bergerak meliuk ke kiri dan ke kanan sesuai instruksi Bu Rara. Sembari memimpin meditasi, perempuan berkulit kuning langsat itu mengambil biola dan mulai mengalunkan melodi klasik untuk mengiringi proses semadi.
Setelah semua murid mulai larut dalam syahdu gesekan biola, guru cantik yang selalu menyanggul rambutnya itu pun membacakan sebuah puisi spontan yang begitu saja keluar dari pikiran dan bibirnya yang merah jambu.
Usai membacakan beberapa bait, ia memanggil nama-nama siswanya satu per satu. Kegiatan ini rutin dilakukan di kelas seni. Saat Bu Rara menyebut nama salah satu siswa, ia harus meneruskan puisi secara spontan untuk mengasah keterampilan merangkai kata dan mengolah rasa.
Anak-anak itu masih memejam mata dan khusuk bermeditasi. Larik-larik puisi meluncur secara alami dari bibir mereka dan menghasilkan keindahan bunyi yang seirama dengan suara biola. Suara-suara itu menciptakan harmoni ritmis yang teramat menenangkan.
Masing-masing siswa dengan tanggap melanjutkan puisi, hingga tiba giliran Lola.
“Jingga jenggala, menyembunyikan rahasia, tentang huma dan luka…” Gadis itu tiba-tiba menutup bibirnya.
“Bu! Maaf! Saya harus segera ke laboratorium.”
Alunan biola terhenti. Meski terkejut, Bu Rara hanya mengangguk dan mempersilakan Lola keluar. Gadis itu segera mengemasi barang-barangnya dan berlari ke arah koridor menuju laboratorium. Terlambat! Petaka datang lebih cepat. Alarm utama tanda bahaya berbunyi. Ia segera masuk ke dalam lab, menyalakan komputer dan segera mengekstrak formula baru yang dikerjakannya malam tadi.
Bersambung…
