Lola
Oleh: Rizka Amaliah
Jari-jari mungkil Lola, gadis jenius berusia 12 tahun itu mulai mengeluarkan sulur-sulur hijau. Semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Ya! Eksperimen yang dilakukan Lola selama berminggu-minggu akhirnya berhasil.
Pandangan mata semua orang kini tertuju pada Lola dan ranting-ranting lunak yang keluar dari ujung jari-jarinya. Mereka menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Lola meneguk sebotol serum formula akselerasi pertumbuhan. Dengan cepat, sulur-sulur itu memanjang, melilit sebuah tiang pancang yang sengaja ditancapkan di hadapan Lola. Tanaman itu merambat dengan cepat. Daun-daunnya juga tumbuh melebar secara ajaib.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya, ia ragu untuk mempertontonkan hasil eksperimennya ini. Sebab, Lola belum yakin betul bahwa hasil rekayasa genetika atas tumbuhan yang kini menjadikannya inang bisa berjalan mulus. Terlebih, jika bagian dari tumbuhan itu dipetik untuk kepentingan tertentu. Namun, bukan Lola namanya kalau tak nekat. Ia menganggukkan kepalanya sembari memandang Venti yang telah bersiap di sebelah tiang.
Venti memetik salah satu daun berukuran besar. Usai memetiknya, gadis itu menatap Lola. Geming. Pemilik sulur itu hanya tersenyum dan memberi aba-aba kepada Venti untuk melanjutkan aktivitasnya. Venti pun kembali memilah daun-daun yang menyembul dari ruas-ruas sulur.
Setelah sekeranjang penuh daun dipetik, Venti mengangkatnya ke udara. Semua orang kembali bertepuk tangan. Lola tampak puas dan tersenyum riang melihat pemandangan itu. Namun, tanpa disadari darah hitam pekat menetes dari lubang hidungnya.
Profesor Noe yang bertanggung jawab atas seluruh rangkaian simulasi eksperimen ini segera menghampiri Lola. Ia membubarkan penonton yang merupakan para murid, guru, dan pegawai Futurescience School. Nobi, robot asisten laboratorium dengan cepat membawa sebuah alat yang mirip dengan tablet berukuran 14 inci. Profesor Noe menggerakkan alat itu perlahan, dari ujung rambut hingga kaki Lola. Setelah rampung, monitor tablet itu segera menyala. Angka-angka di layar itu menunjukkan kondisi tubuh Lola yang cukup baik. Hanya saja, sistem imunnya menurun drastis. Profesor Noe kemudian meminta Lola segera pergi ke laboratorium bersama Nobi untuk melakukan injeksi imun, sebelum efek samping eksperimen semakin parah.
Gadis berambut ikal sepinggang itu mengangguk. Ia mengambil tabung kaca kecil dengan tutup berwarna magenta. Beberapa detik kemudian, cairan bening dalam tabung itu telah berpindah ke kerongkongan Lola.
Sulur-sulur dan daun-daun lebat yang melilit tiang pancang segera menyusut. Mereka terhisap kembali ke dalam tubuh Lola melalui ujung-ujung jarinya. Luka-luka akibat desakan sulur perlahan mengatup.
Di laboratorium, Lola menatap Nobi dan tersenyum padanya. Tentu saja robot itu tak merespons. Ia tak memiliki fitur pendeteksi ekspresi seperti robot-robot generasi terbaru. Robot berwarna putih dengan satu roda sebagai pengganti kaki untuk akselerasi fleksibilitas gerak ini memang asisten Profesor Noe yang paling setia. Sejak tuannya pertama kali masuk ke Futurescience School sebagai laboran, Nobi telah menemaninya menyelesaikan banyak riset dan mengembangkan sekolah. Sebab itulah, meski banyak robot baru dengan fitur yang sangat canggih, Profesor Noe tetap mempertahankan Nobi di sisinya.
Meski telah melemparkan senyum ramah pada semua orang saat presentasi eksperimen, Lola rupanya tak bisa menerima kenyataan bahwa eksperimen lanjutannya gagal. Selama ini, ia tak pernah sekalipun gagal dalam setiap eksperimen. Gadis bermata bulat ini memang lahir dari rahim seorang ilmuwan besar. Pada usia 7 tahun, ia telah menemukan formula untuk mengubah oksigen menjadi sebuah kapsul padat yang dapat digunakan di ruang hampa udara selama enam jam. Karena itulah, usai menerima injeksi imun dari Nobi, bukannya beristirahat, Lola malah kembali ke laboratorium perencanaan eksperimen.
Saat Lola tengah asyik mengecek komposisi formulanya di monitor hologram laboratorium sekolah, toba-tiba ada sebuah kapsul kecil melayang dan menghantam kepalanya.
“Pluk!”
Kapsul berwarna putih itu kemudian menyublim dan berubah menjadi asap putih. Lola mengusap kepalanya dan menghalau asap dengan telapak tangannya.
“Siapa itu?”
Bersambung…
