Pupa-pupa di Liang Sembunyi
Oleh: Rizka Amaliah
Seekor undur-undur kecil bernama Pupa meringkuk di balik galian pasir halus berbentuk kerucut lebar yang terbalik. Ia tak berani keluar dari lubang kecil itu. Setiap hari, ia akan menunggu serangga kecil yang melintas untuk dijadikan makanan. Namun, hari ini, sudah seharian ia kelaparan. Suasana ladang pasir tempatnya tinggal terasa hening. Tak seperti biasanya.
Untuk pertama kalinya, binatang mungil bertubuh pipih dengan sepasang taring panjang di kepalanya itu keluar dari lubang pasir. Ia menengok ke kanan dan ke kiri.
“Sepi sekali!” gumamnya.
“Iya! Hari ini sepi sekali!”
Pupa terkejut karena ada yang menyahut. Ia segera berjalan mundur dan membentuk lubang corong untuk bersembunyi.
“Siapa itu?” tanya Pupa.
“Aku Palpa. Undur-undur juga sepertimu.”
Pupa mengernyitkan dahi. Ia berjalan pelan keluar dari lubang galian. Lalu segera masuk kembali setelah mengintip rupa si Palpa.
“Kau undur-undur? Mengapa bentukmu berbeda denganku?”
“Kelak kau akan tahu.”
Undur-undur bernama Palpa itu kemudian terbang perlahan, menjauh dari lubang tempat Pupa menyembunyikan tubuhnya. Pupa tak berhenti merasa heran. Di kepalanya berkecamuk banyak pertanyaan.
“Bagaimana mungkin binatang bersayap itu undur-undur sepertiku?”
“Tubuhnya jangkung dan aku pipih. Mengapa?”
“Ia bisa terbang dan aku meringkuk di sini. Bagaimana mungkin kami sama?”
Pupa terus menerus berbicara dengan dirinya sendiri. Ia tak percaya dengan perkataan Palpa. Meski belum pernah bertemu undur-undur lain, tapi Pupa yakin bahwa undur-undur lain memiliki tubuh yang sama seperti dirinya.
“Bukankah semut-semut yang melintas di sini memiliki bentuk tubuh serupa?”
“Memang terkadang, di antara mereka ada yang bertubuh mungil dan ada yang bertubuh besar. Tapi mereka semua terlihat sama.”
Pupa tak bisa berhenti penasaran. Ia pun memutuskan untuk keluar dari lubang dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.
Matahari yang terik membuat pupil mata Pupa mengecil. Suhu di luar sangat panas. Pupa ragu-ragu! Ia khawatir tak bisa berjalan jauh karena selama ini si pejalan mundur mungil itu belum pernah pergi jauh dari tempat tinggalnya.
Mata Pupa menelisik sekitar. Ia berjalan pelan melawan arah matahari. Di hadapannya terdapat gundukan pasir. Bagi tubuh mungilnya, tentu gundukan itu terbilang cukup tinggi. Pupa harus bersusah payah mendaki. Beberapa kali tubuhnya merosot jatuh. Tapi Pupa terus berusaha naik.
Akhirnya, Pupa pun sampai di puncak gundukan pasir. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur helanya dengan memejamkan mata. Saat membuka mata, ia terpukau pada pemandangan di hadapannya. Ternyata, ada banyak lubang corong yang sama dengan miliknya di sisi timur.
Pupa berteriak riang. Ia yakin di dalam lubang itu tentu ada banyak undur-undur yang sama dengan dirinya. Serangga kecil itu pun segera menggulingkan tubuhnya, turun dari gundukan pasir. Ia sudah tak sabar untuk menyapa kawanannya di bawah sana.
“Halo! Halo! Ada yang bisa mendengarku?”
Pupa berteriak dari satu lubang ke lubang yang lain. Namun, tak ada satu suara pun terdengar. Pupa kemudian mencoba mengintip isi lubang corong.
“Mungkin saja mereka ada di dalam dan malu untuk keluar. Bukankah awalnya aku juga tak berani keluar?”
Pupa berjalan mundur dengan keenam kakinya. Ia harus berhati-hati agar tak merusak dinding rumah corong indah yang dilaluinya. Ia merasa liang undur-undur ini lebih dalam dari rumah miliknya. Tubuhnya mulai lelah. Ia lupa bahwa dirinya belum makan seharian. Pupa pun memutuskan beristirahat sejenak sambil menunggu makanan lewat.
Perjalanan mendaki bukit pasir, berguling menuruninya, hingga masuk ke liang undur-undur membuat Pupa benar-benar kehilangan banyak energi. Matanya terasa berat. Ia tak bisa lagi menopang kantuk yang datang dengan cepat. Tubuhnya melemas dan kepalanya kini telah menyentuh butiran pasir. Pupa pun tertidur.
Angin berdesir, meniupkan hawa dingin ke liang-liang undur-undur. Terik matahari tak lagi menembus butiran pasir. Rupanya, langit sudah mulai gelap. Meski begitu, Pupa masih saja lelap tertidur.
“Krek..! Krek..! Krek..!”
Sebuah suara hinggap di lubang dengar Pupa. Makin lama, suara itu makin nyaring terdengar.
“Ada yang datang?” Pupa membuka matanya perlahan.
“Mungkinkah itu serangga kecil yang terjebak di lubang ini? Akhirnya, aku akan dapat makanan.” Ia tersenyum gembira.
“Hwaa! Tolong..!”
Bersambung…
