Seekor Kumbang yang Menyeberangi Lautan
Oleh: Kaam Aleia
Namib menengadah ke arah langit, mengendus kabut yang dipadati titik-titik basah. Kumbang-kumbang lain berjajar di belakangnya. Mereka sedang melakukan upacara pemanggilan embun.
Barisan kumbang itu kemudian bersujud di atas kerontang pasir gurun yang terhampar begitu luas. Mereka berkomat-kamit, berusaha menangkap bulir-bulir kabut pada tubuhnya yang hitam mengkilat. Dan benar saja! Butiran embun hinggap di sayap, tubuh, dan kaki-kaki mereka yang direntangkan. Kumbang-kumbang itu kemudian menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, perlahan dan bergiliran. Tets-tetes embun itu kemudian meluncur pelan-pelan ke arah mulut.
Kumbang-kumbang kecil itu tersenyum dan saling memandang. Masing-masing memastikan bahwa kawanannya telah berhasil menangkap air dan mengalirkannya ke kerongkongan. Mereka akhirnya bisa melepas dahaga.
Namib berguling. Tubuhnya kini telah kembali kering.
“Syukurlah! Hari ini kabut begitu pekat. Ada banyak titik air yang bisa kita tangkap dan minum.” Namib berjalan sambil berbincang dengan Poba, adiknya.
“Benar! Aku bahkan bisa minum lebih banyak dari biasanya.”
Namib dan Poba kemudian berjalan beriringan. Keduanya berbincang sambil menatap sekitarnya. Bukit-bukit pasir keemasan membentang, membentuk benteng-benteng raksasa yang pada suatu waktu bisa cukup melindungi tubuh mereka dari sengat matahari. Di sisi barat, terdapat rawa mati dan pepohonan kering yang sudah lama menjadi mumi.
Meski gurun ini begitu gersang, Namib dan Poba tak pernah khawatir. Sebab, di tempat inilah mereka lahir dan dibesarkan. Mereka sudah tahu cara menaklukkan alam agar bisa hidup nyaman di tanah kelahiran mereka ini.
“Poba! Ayo kita balapan! Siapa yang mendapat makanan duluan akan menang.”
“Hmm! Menarik! Lalu, hadiahnya?”
“Hmm! Besok, yang kalah harus mencarikan makanan untuk yang menang.”
“Cukup sulit! Tapi aku tidak pernah menolak tantangan. Apalagi yang berhadiah. Hehehe…”
“Benar! Tapi kita harus atur batas perburuan dulu! Aku akan berburu di antara gundukan pasir ini dan itu.”
“Kalau begitu, aku akan ke sana.”
Namib dan Poba segera berpencar. Kaki-kaki mungil mereka berjalan rangkak ke arah berlawanan. Sejenak kemudian, Namib dan Poba meringkuk di atas pasir. Sebagian tubuh mereka nyaris terbenam. Nampaknya, mereka sedang berusaha mengecoh serangga lain yang akan diburu sebagai makanan.
Kakak beradik itu sedang berfokus untuk melacak buruannya. Mereka tak tahu bahwa ada bahaya yang sedang mengintai. Di belakang mereka, langit menjadi makin gelap kecokelatan. Triliunan pasir melayang di udara dengan kecepatan luar biasa. Badai pasir! Ya! Meski begitu, Namib dan Poba masih asyik mengamati gurun di hadapannya.
Suara gemuruh badai pasir membuat Poba sadar bahwa ada hal tak biasa sedang terjadi. Ia menoleh ke belakang. Matanya membelalak. Kumbang bertubuh kecil itu menggali pasir dengan kecepatan maksimum.
“Namib! Di belakangmu! Perhatikan belakangmu!”
Sembari terus menggali, Poba meneriaki Namib. Tapi jarak mereka terlalu jauh. Namib tak mendengar suara Poba. Kumbang itu tahu bahwa tak ada waktu lagi untuk menyelamatkan Namib. Ia terus menggali lubang kemudian membenamkan dirinya di dalam pasir, berharap badai tidak menggerus tempat persembunyiannya.
Namib menoleh pada Poba. Ia tak bisa melihat tubuh adiknya di permukaan pasir. Saat itulah kumbang besar itu kebingungan. Ia membalikkan badannya. Namun, terlambat! Badai pasir segera menerjang. Tubuhnya terempas masuk ke dalam pusaran badai yang dipenuhi butiran pasir.
Di tengah badai besar itu. Namib seperti salah satu butiran pasir yang terkimbang-kimbang dengan kecepatan tinggi. Kepalanya pusing. Sayapnya seperti akan terlepas dari tubuhnya. Kaki-kakinya merentang dan tak bisa lagi digerakkan. Namib pasrah. Ia membiarkan kepungan pasir dan angin itu mengempas-empaskan tubuhnya dengan membabi-buta. Beberapa saat kemudian, Namib diterpa lelah yang teramat. Matanya pelan-pelan terpejam. Ia tak lagi merasakan apa pun.
Bersambung…
