Seekor Kumbang yang Menyeberangi Lautan (Tamat)
Oleh: Kaam Aleia
Namib membuka kelopak matanya perlahan. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan cepat.
“Aku masih hidup! Aku masih hidup!” Namib berteriak girang.
Ia segera mencoba bangun. Namun tubuhnya bergoyang-goyang tanpa ia gerakkan.
“Apakah ada gempa?” gumamnya.
“Tidak tidak! Ini bukan gempa!” Namib menyangkal pertanyaannya sendiri.
Ia kemudian sadar bahwa tubuhnya terbalik. Kepalanya berada di bawah dan berayun-ayun karena goncangan. Kakinya tersangkut pada serat kain. Namib lalu melepaskan pandangannya ke atas. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya kini tersangkut pada pakaian manusia.
Namib tahu betul bahwa makhluk ini adalah manusia. Dulu, saat masih kecil, ibunya pernah mengajaknya berkeliling dan tidak sengaja bertemu manusia.
“Makhluk itu bernama manusia. Mereka kadang-kadang ke tempat ini dengan membawa kotak cahaya. Bukan! Entahlah! Kotak itu kadang bercahaya, kadang juga tidak. Tapi mereka tidak berbahaya. Mereka hanya akan melihatmu melalui kotak itu.”
“Untuk apa mereka melihat kita, Bu?”
“Ibu juga tidak tahu. Cobalah untuk melambai dengan ramah pada mereka!”
Mengingat percakapan dengan ibunya, Namib hampir saja menitikkan air mata. Saat ini, mungkin ia sedang terpisah bermil-mil jauhnya dari keluarga.
Karena tak bisa melepaskan diri dari lilitan serat kain milik manusia itu, Namib hanya bisa pasrah. Ia membiarkan tubuhnya dibawa ke sebuah dermaga. Tentu saja Namib tak menyadarinya. Ia hanya bisa menatap langit dan melihat ladang biru di atas sana bergumul dengan gumpalan-gumpalan awan.
Manusia itu naik ke geladak sebuah kapal. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Namib yang menempel di bagian belakang pakaian nyaris saja tergencet saat manusia itu hendak duduk. Untung saja seekor anjing menggonggong tepat waktu. Gonggongannya itu membuat manusia tadi tidak jadi duduk. Ia menengok bagian belakang pakaiannya. Ternyata, ada seekor kumbang tersangkut di situ.
Perlahan, manusia itu melepaskan kait kain yang melilit kaki Namib. Ia akhirnya bisa bernapas lega. Namun, Namib kembali terbelalak saat jari-jari tangan manusia itu mengarahkan tubuhnya ke mulut anjing. Anjing itu pun segera menggonggong dan menjepit Namib dengan gigi-gigi tajamnya, lalu berlari menjauhi manusia itu.
“Aku akan mati! Aku akan mati! Takdirku ternyata membawaku kepada kematian sebagai makanan. Oh!”
Namib terus mengoceh. Beberapa bagian tubuhnya basah oleh liur si anjing.
“Oh! Tuhan! Benarkah aku akan mati hari ini?”
Kali ini air mata Namib benar-benar tumpah. Ia terisak. Beberapa detik kemudian anjing itu berhenti berlari. Ia menjatuhkan tubuh Namib di salah satu sudut kapal. Binatang jangkung berwarna cokelat muda dengan semburat putih itu kemudian menyapa Namib dengan gonggongannya.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Ha? Kamu berbicara padaku?”
“Iya! Benar! Pada siapa lagi?”
“Kamu tidak sedang ingin memakanku?”
“Untuk apa memakanmu. Tubuhmu pasti keras dan pahit.” Anjing itu berseloroh.
“Jadi aku selamat? Sekali lagi aku selamat!” Namib melompat girang dan berguling.
“Aduh!”
Tiba-tiba ia mengaduh sambil memegangi kakinya. Gerakan melompat dan berguling membuat kakinya terasa nyeri. Mungkin karena terlalu lama tergantung di pakaian manusia tadi, kakinya cedera.
“Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Tubuhmu itu sepertinya penuh dengan luka.”
Anjing itu bersikap sangat ramah pada Namib. Kumbang itu pun mengucapkan terima kasih.
“Maaf ya! Kukira kau akan memakanku. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Tadi hampir saja tubuhku tergencet manusia itu.”
“Tidak apa-apa! Di kapal ini, aku kesepian. Karena itu, bisanya aku mengajak binatang-binatang liar bermain. Dan kebetulan aku menemukanmu tergantung di pakaian orang itu.”
“Oh ya! Kapal ini mengarah ke mana?”
“Aku juga tidak tahu. Aku hanya mengikuti Tuanku. Kami datang dari tempat bernama Kalimantan. Mungkin saat pekerjaan Tuanku selesai, kapal ini akan kembali ke sana.”
Namib menunduk. Ia mencoba mengangkat sayapnya yang terasa ngilu.
“Sepertinya aku tidak mungkin kembali ke gurun. Kapal ini sudah terlalu jauh dari daratan.”
Suara Namib melirih. Ia seperti tak lagi punya harapan. Namib mengempaskan tubuhnya ke lantai. Ia menangis sambil menutup kedua mata dengan jari berbukunya yang bewarna hitam.
“Hei! Kau tak perlu bersedih! Ikut saja denganku! Aku akan menjadi temanmu.”
Namib mengangkat kepalanya. Kini ia merasa tenang.
“Lepo! Panggil aku Lepo! Siapa namamu?”
“Namib! Namaku Namib.”
Dua binatang itu kemudian bersahabat. Setiap hari, Lepo akan meletakkan tubuh Namib di atas kepalanya dan berlari ke sana ke mari di atas geladak kapal. Lepo bahkan mengizinkan Namib berbagi makanan agar tak perlu bersusah payah menangkap serangga. Di kapal itu, Namib menjadi lebih tambun. Meski kadang teringat pada keluarganya, Namib bahagia. Ia merasa Lepo adalah sahabat sekaligus keluarganya.
Suatu pagi. Tak seperti biasanya. Awan terlihat gelap. Kapal yang ditumpangi Namib dan Lepo sudah dekat dengan daratan. Namun, terdengar keributan di dalam kapal kayu besar dengan puluhan penumpang itu. Rupanya sisi kanan lambung kapal bocor. Orang-orang segera riuh berusaha memperbaiknya.
Kapal pun oleng. Lepo tergelincir. Kakinya tersangkut di salah satu lubang kayu geladak. Lubang itu memang sering membuat Lepo tersandung. Kali ini ia tak hanya tersandung, kakinya terperosok, terluka, dan terjebak di dalamnya. Namib yang tubuhnya jauh lebih kecil dibanding Lepo pun tidak bisa melakukan apa-apa. Dia benar-benar kebingungan.
Di buritan kapal terdengar suara deru ombak yang meninggi. Ada gumpalan hitam yang bergerak menyerupai pusaran bergerak ke arah kapal.
“Tunggu sebentar, Lepo! Aku akan mencari Tuanmu.”
Namib bergegas berkeliling. Ia mengepakkan sayap kecilnya dan mencari Tuan Lepo. Rupanya, pria tua berjanggut itu sedang membantu awak kapal lain untuk pindah ke sekoci. Mereka harus segera pergi ke daratan untuk menyelamatkan diri dari badai.
Saat Tuan Lepo hendak melangkahkan kakinya turun ke sekoci. Namib segera hinggap di pelipisnya dan menggigit kulit Tuan Lepo. Laki-laki itu mengaduh dan mengernyitkan dahi. Ia kemudian teringat pada Lepo, Anjing kesayangannya.
Dengan dibantu Namib, Tuan Lepo kemudian menemukan anjingnya yang terjebak di geladak. Ia segera mengeluarkan kaki Lepo dari lubang itu. Tuan Lepo menggendongnya sambil berlari ke arah sekoci. Namib pun ikut serta dan bertengger di atas kepala Lepo seperti biasanya.
Di atas sekoci, Lepo memeluk tuannya. Ia tersenyum, berterima kasih pada Namib yang telah menolongnya. Namib dan Lepo pun sampai di daratan. Mereka makin dekat dan berjanji tak akan meninggalkan satu sama lain.
