Farhan Benci Jam Istirahat

Farhan Benci Jam Istirahat

Oleh: Kaam Aleia
(Cerpen Spesial Ramadan)

Lebaran sudah berlalu. Malam-malam tarawih panjang dan tadarus juga. Farhan telah kembali bersekolah.

“Hai, Farhan!” Agus menyapa.

“Hai!” jawab bocah berambut keriting itu.

“Nanti, jam istirahat makan bekal bareng yuk!”

Farhan mematung. Pertanyaan itu membuatnya kesal. Ia tak pernah mau teman-teman melihat kotak bekalnya.

“Hmm! Jam istirahat nanti aku ada kegiatan lain.”

Farhan berpikir keras untuk menjawab. Ia tak ingin berbohong. Namun, ia juga tak ingin makan bekal bersama Agus.

“Yah! Ya sudah kalau begitu. Aku makan dengan Doni saja!” Raut wajah Agus menunjukkan kekecewaan.

***

Jam istirahat, Farhan mendatangi ruang guru. Ia merasa harus melakukan sesuatu agar tak dianggap berbohong. Ia juga tak ingin berbohong. Jadi, Farhan mencari Pak Kadir untuk menanyakan satu soal matematika yang menurutnya sangat sulit.

“Sudah selesai makannya, Gus?” tanya Farhan, usai menemui Pak Kadir.

“Sudah! Kamu belum makan?” Agus balik bertanya.

Farhan hanya mengangguk. Ia mengambil sebuah kotak bekal bening yang didapatnya dari acara amal di kampung. Agus tampak merendahkan kepala, mencoba mengintip bekal Farhan.

“Aku keluar dulu, ya!”

“lho! Nggak jadi makan?”

“Hmm! Pengen makan di taman,” jawab Farhan singkat.

Ia lalu pergi ke taman dan mencari sudut untuk menyepi. Farhan membuka kotak bekalnya. Sebuah lontong ia kupas dari kulit daunnya. Farhan menarik napas panjang. Ia menaburkan sedikit garam sebelum memasukkan lontong itu ke mulutnya.

Ya! Ibu Farhan adalah seorang produsen lontong. Karena tak punya uang untuk membeli lauk, Ibu Farhan lebih sering memberinya bekal lontong. Padahal, Farhan ingin sekali makan bekal yang beraneka ragam, seperti teman-teman lain.

“Eh, Farhan! Kamu jad makan di sini?” Agus tiba-tiba saja lewat dan menyapa kawannya itu.

“Hmm! Iya!” jawabnya kikuk.

“Oh! Wah! Apa bekalmu? Kok dibungkus daun?”

“Emh! Ini! Lontong gurih.”

Farhan menjawab spontan. Untung saja, lontong di tangan Farhan sudah habis. Agus tampak penasaran.

“Itu buatan ibumu?”

“Iya!”

“Aku kok penasaran ya? Boleh pesan nggak buat besok? Berapa harganya?”

Farhan terhenyak. Ia bingung.

“Waduh! Berapa, ya? Aku nggak tahu. Nanti deh aku tanyakan ke Ibu.”

“Okey! Aku mau coba satu ya!”

***

Sepulang sekolah, Farhan mondar-mandir di depan rumah. Ia tak segera masuk karena bingung. Bocah itu tak tahu harus berkata apa pada sang ibu. Setelah menghela napas panjang dan memberanikan diri, ia pun mengucap salam dan masuk ke rumah.

“Assalamualaikum!”

“Waalaikumsalam!” sahut Ibu.

“Hmm! Ibu.. Farhan ingin bilang sesuatu.” Ia tampak sangat bingung.

 “Kenapa? Ada yang salah di sekolah? Farhan bertengkar?” Ibu menarik tubuh Farhan dan mengecup keningnya.

“Nggak kok, Bu. Hanya saja, tadi Farhan berbohong.”

“Bohong soal apa?” Ibu tampak terkejut, tetapi merendahkan nada bicaranya sambil menatap mata Farhan.

“ Tadi, waktu tanya soal bekal.. Hmm.. Farhan jawab kalau itu lontong gurih. Terus, Agus malah pesan buat besok.”

“Hihihi! Kamu ada-ada saja. Itu namanya Farhan tidak berbohong. Kan lontongnya memang gurih setelah diberi garam.” Ibu berusaha melapangkan hati Farhan.

“Yah! Itu kan namanya asin, Bu! Bukan gurih! Farhan bingung.”

“Tidak usah bingung! Besok, ibu akan bawakan beberapa lontong gurih beneran untuk Farhan.”

“Lontong gurih beneran, Bu? Memang ada?” Farhan tampak setengah tak percaya.

“Ada, dong!” jawab Ibu pasti.

***

Esoknya, Farhan membawa lima lontong gurih, bekal dari ibu. Satu untuknya dan empat lainnya bisa dijual ke teman-teman. Begitu kata Ibu.

“Hai, Farhan! Pesananku mana?” tanya Agus.

Farhan menyodorkan sebuah lontong dengan ragu-ragu. Ia sendiri belum menyicipinya.

“Jadi berapa?”

“Tiga ribu!” jawab Farhan.

“Nih! Makan bareng, yuk!”

Kali ini Farhan tak bisa menolak ajakan Agus. Ia mengupas daun lontong seperti kulit pisang. Agus menirukannya. Mata Farhan terbelalak. Ia tak percaya. Lontong di depannya tak biasa. Ada warna oranye menyala dan daging ayam cincang yang menyebar.

“Hmm! Ini benar-benar enak. Hei! Ada yang mau? Farhan jual lontong gurih. Enak banget!” Agus berteriak hingga seluruh siswa di kelas menoleh. Beberapa siswa yang tertarik kemudian menghampiri Farhan dan Agus. Mereka membeli lontong gurih itu hingga semuanya ludes. Farhan senang sekali. Ini pertama kalinya dia menyukai jam istirahat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *