Permen Jeli
Oleh: Aminah Rahma Sari
Aminah Rahmah Sari adalah salah satu anggota Komunitas Belajar Menulis di Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Kak Aminah tinggal di kota Malang, tepatnya di Perumahan Dau Residence Blok B-11, RT 8 RW 3, Dau, Malang, Jawa Timur. Ia bisa dihubungi melalui nomor HP 089679753955 atau DM ke IG amm.aminah
Nina dan Nano adalah saudara kembar. Jarak waktu kelahiran mereka hanyalah 5 menit. Meskipun Nano yang lebih muda, ia memiliki badan yang besar dibanding kakaknya, Nina. Orangtuanya selalu memperlakukan Nina dan Nano dengan adil. Kini, keduanya duduk dibangku SD kelas tiga.
Setiap hari Kamis, Bibi Ina dan Paman Ari berkunjung ke rumah Nina dan Nano. Begitu juga sore ini. Mereka akan melakukan doa bersama.
“Assalamualaikum, Nina, Nano. Bibi bawa permen loh…” Bibi Ira terlihat membawa dua kantong permen berwarna biru dan ungu di depan pintu.
“Yeay, aku mau yang biru,” teriak Nano sambil berlari menuju pintu.
Tak lama kemudian, Nina menyusul menghampiri mereka berdua.
“Nak, bibi bawa permen Jeli buat Nano dan Mbak Nina. Jangan berebut, ya! Dibagi permennya sama mbak Nina!” ucap Bibi sambil menyerahkan satu kantong permen berwarna biru dan satu kantong permen berwarna ungu kepada Nano. Kemudian bibi menemui Bu Ina, ibu dari Nina dan Nano, di ruang tengah. Paman Ari terlihat menemui Pak Nanang, ayah Nina dan Nano.
“Nano, mana permenku?” tanya Nina. Ia melihat dua kantong permen dari Bibi masih di tangan Nano.
“Mmm.. ini punyaku semua. Kan aku lebih besar daripada kamu. Berarti perutku besar. Perutmu kecil. Nanti kalau kamu makan permen ini, perutmu nggak cukup” jawab Nano sambil menyembunyikan dua kantong permen di punggungnya.
“Loh, kan aku lebih tua dari kamu. Aku harusnya malah dapat dua.” Nina berusaha mengambil permen-permen itu dari Nano.
“Nggak mau. Ini punyaku” Nano mulai berteriak. Mereka berdua masih berebut permen hingga suara tangis Nano terdengar oleh ibunya.
“Ada apa anak-anak?” Tanya Ibu. “Coba permennya berikan pada Ibu!” Ibu datang dengan membawa dua buah mangkok putih. Mereka berdua masih terlihat kesal. Dengan wajah merah, keduanya mengusap air mata yang tersisa di pipi masing-masing. Perlahan, Nano menyerahkan dua kantong permen yang digenggamnya kepada Ibu. Kemudian, Ibu menuangkan permen-permen itu ke dalam mangkok.
“Ibu punya dua mangkok permen, yang ini isinya biru, yang ini isinya ungu. Nina dan Nano boleh memakan permen ini. Tapi, jangan berebut lagi, ya! Ibu taruh permennya di sini,” ucap ibu sambil meletakkan dua mangkok permen di atas meja kecil. Ibu sengaja hanya meletakkan permen-permen begitu saja agar mereka bisa memilih permennya sendiri. Kemudian, Ibu pergi meninggalkan mereka berdua.
“Pokoknya aku mau yang ini. Kamu nggak boleh ikut makan!” Nano memilih permen warna ungu. “Hmm… awas aja,” jawab Nina sambil menggeser mangkok berisi permen biru ke ujung kanan meja.
Sudah lima menit mereka memakan permen-permen itu. Terkadang, Nina memainkan permen-permennya sebelum dimasukkan ke dalam mulut. Begitu juga dengan Nano.
“Mbak Nina…” tiba-tiba Nano menghampiri Nina dengan membawa mangkoknya. Terlihat permen milik Nano masih tersisa setengah mangkok.
“Hmm, kenapa?” jawab Nina sambil memainkan permennya seakan-akan ada pesawat yang akan masuk kedalam mulutnya.
“Aku pengen makan permenmu juga. Aku pengen makan yang warna ungu. Boleh minta?” Nano merengek.
“Boleh. Tapi aku juga pengen makan permenmu. Ayo kita tukar, yuk! Ini!” Nina menyerahkan mangkok permennya kepada Nano. “Yeay.. Ini buat kamu.” Nano pun meletakkan mangkoknya di tangan Nina.
Kemudian mereka memakan permen itu bersama-sama. Kini, tawa suara kecil mereka terdengar hingga di ruang tamu. Keduanya bisa memakan permen biru dan ungu. Di balik tembok, Ibu tersenyum melihat tingkah mereka dan kembali ke ruang makan melanjutkan obrolan dengan Bibi Ina.
