Suara Apa?
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Kaam Aleia
Kak Kaam adalah penulis cerita di dua platform digital bidang kepenulisan. Tinggal di kota Malang, Kak Kaam cukup produktif menghasilkan karya melalui platform digital. Naskah novel dewasa pertamanya yang tuntas ditulis berjudul “Naro” bisa dibaca di Joylada Indonesia. Cerita-cerita anak dari Kak Kaam akan dimuat di web ini secara berkala.
Anto baru saja sampai di kota Malang. Ia sedang menjalani liburan awal puasa bersama keluarganya. Di Malang, Anto akan tinggal di rumah sang paman. Tepatnya, ia akan menginap di sebuah perumahan padat penduduk yang dekat dengan masjid.
“Di sini rumahnya banyak, tapi sepi ya, Bu?” Anto membuka kaca mobil dan mengamati rumah-rumah yang dilewatinya.
“Iya! Mungkin sedang kerja, To!” Ibu menjelaskan.
“Hmm! Eh! Itu ada anak-anak main, Bu!” Anto menunjuk halaman sebuah rumah tingkat sederhana.
“Oh! Itu kan, Olif dan Olaf, sepupumu!” Ibu melambaikan tangan, berharap si kembar menyambut kedatangan mereka.
Anto turut melambaikan tangan dan mengeluarkan kepalanya melalui jendela yang terbuka. Biasanya, kalau di jalan raya, Anto akan dimarahi ibunya saat mencoba mengeluarkan anggota badan. Namun, kali ini ia dibiarkan, karena rumah Olaf dan Olif sudah dekat. Perumahan itu juga relatif sepi. Tak ada satu pun kendaraan yang lalu-lalang.
“Olaf! Olif!” teriak Anto.
Dua sepupu kembar Anto itu menoleh dan langsung mengenali pemilik mobil. Mereka berhamburan mendekati mobil dan meneriakkan nama Anto.
“Yeay! Anto datang! Anto datang!” Mereka berdendang riang.
Anto, ibu, ayah, dan adiknya turun setelah memarkir mobil. Olaf dan Olif segera mencium punggung tangan Pak Dhe dan Bu Dhenya. Mereka juga bersalaman dengan Anto dan adiknya.
“Puasa, To?” tanya Olaf.
“Iya, dong!”
“Wih! Mantap! Aku kalau di perjalanan jauh nggak pernah puasa. Soalnya kan musafir.” Sahut Olif.
“Kalau kamu itu, namanya cari-cari kesempatan, Lif!” tuduh Olaf.
“Ye! Kan kata Pak Ustaz nggak papa?” Alif membela diri.
“Ya nggak papa juga sih nggak puasa kalau nggak kuat. Aku kuat, makanya tetap puasa.” Anto menjelaskan.
Usia Anto memang lebih tua dua tahun dari sepupu kembarnya. Jadi, wajar kalau dia lebih kuat menahan lapar dan haus selama perjalanan.
“Eh! Masuk yuk! Pak Dhe dan Bu Dhe juga udah masuk kayaknya!” ajak Olaf.
“Ayuk!”
Rupanya, umi dan abi si kembar sedang mempersiapkan menu berbuka untuk disantap bersama. Mereka sudah tahu kalau Anto dan keluarganya akan datang.
“Eh! Udah pada datang?”
Umi meletakkan sirup di tangannya dan memeluk ibu Anto. Mereka menghentikan aktivitas memasak dan mempersilakan keluarga Anto untuk beristirahat di ruang tengah. Sementara itu, Anto dan sepupu kembarnya sudah sibuk membongkar kotak mainan. Adik Anto tak ikut bermain karena sedang tertidur pulas.
Keluarga yang sudah lama tak berjumpa itu pun saling bertukar cerita. Abi dan umi sempat memuji Anto yang katanya tak pernah sekalipun tak puasa.
“Eh! Sudah jam lima lewat!” Umi menyela obrolannya dengan ibu Anto.
“Oh, iya! Sudah hampir masuk waktu berbuka.” sahut Ibu Anto.
“Aku lanjut siapkan bukanya dulu ya!” pamit umi.
“Sini! Kubantu!” ibu Anto turut mengekor di belakang umi.
Beberapa mangkuk es teler, dadar gulung, udang saus padang, ayam goreng, tempe menjes, dan aneka sayuran sudah siap di meja. Mereka tinggal menunggu panggilan berbuka dari pengeras suara masjid di perumahan. Meski begitu, Anto dan si kembar masih saja asyik bermain tembak-tembakan.
Beberapa menit kemudian.
“Wiu….! Wiu…!”
Anto yang asyik menembak terkejut mendengar suara sirine nyaring yang cukup memekakkan telinga.
“Suara apa itu? Kok seperti tanda bahaya di film-film?” Anto melompat ke sofa.
Si kembar sontak tertawa terpingkal-pingkal melihat sepupunya itu setengah ketakutan.
“Itu bukan suara sirine tanda bahaya, To! Itu suara panggilan buka puasa!” Olaf menjelaskan sambil menahan tawa dan memegangi perutnya.
Umi, abi, ibu dan ayah Anto turut tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi wajah Anto yang mendadak pucat.
“Wajar saja Anto takut. Kalau di kampung, penanda waktu berbuka kan bedug, bukan sirine.” Ayah Anto menjelaskan.
“Iya! Setahuku kan suara sirine itu kalau nggak dari mobil polisi, tanda bahya, ya ambulan. Sekarang ada ilmu baru nih buat ngisi pertanyaan soal sirine di sekolah,” sahut Anto.
Semua orang kembali tertawa mendengar penjelasan Anto.
