Beduk
(Cerpen Spesial Ramdan)
Oleh: Rizka Amaliah
“Bu! Atika beneran puasa, lho! Nggak makan apa-apa dari tadi.”
“Iya! Anak pintar! Tumben Atika nggak ikut Mbak Vita main?”
“Nggak, Bu! Nanti laper kalau ikut main. Atika mau puasanya khusyuk.”
“Memangnya apa sih khusyuk itu, Nak?”
“Khusyuk itu… Hmm.. Nggak ada yang ganggu. Hmm.. Puasanya selesai sampai beduk. Hatam! Gitu, Bu! Masa Ibu nggak tahu?” Atika mengangkat kedua telapak tangannya.
“Hebat Atika, ya! Sudah tahu artinya khusyuk.” Ibu terkekeh.
Raut wajah Atika tampak serius. Ia kelihatan kurang senang melihat ibunya tertawa.
“Atika serius, Ibu!”
“Iya, iya, Sayang!”
***
“Ini jadi latihan tabuh beduknya buat lomba?” tanya Amir.
“Jadilah! Mas Imam yang mau ngajarin!” sahut E’eng.
“Mantap!” Bad ikut menyahut.
Pagi itu, anak-anak sudah berkumpul si surau. Beduk besar yang biasa digunakan menandai masuknya waktu salat sudah dipindah ke halaman surau. Hal itu dilakukan karena anak-anak akan belajar tabuh beduk dengan berbagai atraksi menarik untuk lomba.
Sebagian anak mendekap rebana yang telah dibagikan. Ya! Selain tabuh beduk, mereka juga akan latihan hadrah menggunakan rebana. Vita, Oo’, dan Fahmia juga ikut sebagai tim penabuh.
“Kok Mas Imam lama, ya?” tanya Vita.
“Mungkin masih bantu bapaknya di kebon!” jawab Fahmia.
“Sabar-sabar dululah! Kan sudah janjian jam 09.00. Ini baru jam sembilan lewat lima.” sahut Oo’.
Tak hanya anak-anak surau, Irin dan Samuel adiknya juga turut hadir dalam acara latihan perdana itu. Mereka ingin melihat keseruan latihan anak-anak surau.
Vita yang iseng dan jenuh menunggu Mas Imam mengambil pemukul beduk. Ia mencoba membunyikan alat itu dan menghantamkan tongkat ke arah beduk. Hasilnya, suara beduk tak terlalu nyaring. Tak seperti saat Mas Imam yang memukul.
“Kamu nggak kuatlah, Vit. Harus orang kayak aku yang mukul beduk. Lihat!” Amir memamerkan otot lengannya.
“Sini!” Amir mengambil tongkat pemukul beduk dari tangan Vita.
“Dug dug dug dug dug dug!” Bocah itu memukul beduk dan menghasilkan suara panggilan salat lima waktu.
“Keren! Hebat kamu, Mir! Makanya kamu jadi pimpinan penabuh beduk ya!” Vita dan anak-anak lain bertepuk tangan.
***
Mendengar suara beduk ditabuh, Atika buru-buru melompat ke dapur.
“Allahumma lakasumtu, wabika amantu, wa’ala rizqika afthortu, birohmatika yaa arhamarrahimin..!”
Bocah itu segera menenggak teh dingin yang telah disiapkannya di kulkas, sejak bangun sahur.
“Alhamdulillah…!” Atika berseru.
Ia membuka tudung saji. Ada ayam goreng yang sengaja disisakan ibu untuk buka puasa Atika. Sebab, Atika baru belajar puasa dan harus berbuka dua kali, yakni saat azan zuhur dan azan magrib.
Gadis kecil itu mengunyah ayam dan nasi hangat dengan lahap. Ia benar-benar menikmati hidangan ibunya. Ayam goreng yang dimakan saat berbuka terasa lebih lezat dari biasanya.
“Hmm! Nyam nyam nyam!” Atika terus saja mengunyah.
Beberapa saat kemudian ibu pergi ke dapur karena mendengar suara berisik.
“Lho! Atika kok makan?”
“Atika lagi buka puasa, Bu!”
“Kok bisa? Ini baru jam setengah sepuluh sayang!”
“Udah beduk, Ibu! Atika tadi denger beduknya kenceng banget!”
“Hmm! Coba sini ikut Ibu!”
Atika mengekor. Ibu membawanya ke ruang keluarga dan menyalakan TV.
“Tuh! Lihat! Masih kartun kesukaan Atika, kan? Berarti belum masuk waktu zuhur, sayang!”
“Lha, terus itu tadi suara beduk apa?” Atika melongo, lalu memasukkan ayam goreng ke mulutnya.
“Itu tadi suara beduk latihan anak-anak surau.” Ibu menjelaskan sambil tersenyum.
“Terus? Puasa Atika gimana, Bu?” Matanya berkaca-kaca.
Ibu tertawa, “Nggak papa sayang! Selesaikan makannya! Nanti latihan lagi, ya! Kan Atika nggak sengaja.”
Ibu mengelus rambut Atika. Air matanya hampir saja tumpah. Ia lalu mengangguk dan kembali memasukkan ayam goreng ke mulutnya.
