Setrika Salju

Setrika Salju
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah

Ramadan kali ini, hujan sesekali datang. Gerimis atau deras lebih sering jatuh sore hari. Jadi, siang akan begitu terik. Kepala Vita rasanya mau pecah karena kepanasan.

“Ibu! Vita boleh los puasanya?”

“Eh! Kenapa kenapa? Baru hari ketiga, lho!”

“Panas, Bu! Vita nggak kuat!”

“Kemarin kan Vita juga bilang nggak kuat. Tapi bisa puasa sampai maghrib.”

“Iya, sih!”

“Kalau batal sehari aja puasanya, Vita nggak bakal dapat mukenah pink yang Vita mau, lho! Kan sudah perjanjian sama Ibu.”

“Lanjot, Bu!”

Bayangan mukenah pink yang diinginkannya membuat gadis cilik itu kembali bersemangat. Sejurus kemudian, Vita putar balik ke arah kamar. Ia memilih untuk tidur siang agar tak lagi memikirkan perut yang lapar dan kepala yang pening karena kepanasan.

Vita memeluk gulingnya. Ia mencoba memejamkan mata. Tiga kali sudah Vita membaca doa, tapi gadis itu tetap tak bisa terlelap.

“Kruk…!” Perutnya berbunyi.

“Tahan, Vita! Saat hujan turun, udara pasti berubah dingin!” Ia berbicara sendiri.

Gadis berambut ombak itu bangkit. Kakinya melaju ke arah jendela.

“Hmmh! Tak ada awan gelap di langit.”

Vita kembali gelisah. Ia menekan tubuhnya ke kasur, lalu berguling ke kanan dan ke kiri. Tak betah rebah, Vita pun beranjak dari tempat tidurnya. Kali ini, ia menuju dapur.

Pintu kulkas dibuka perlahan. Vita menarik napas panjang.

“Hmmh! Adem!”

“Loh! Ngapain sayang?” Ibu memergoki Vita.

“Eh! Nganu, Bu.. Nggak kok, Vita nggak mokel. Cuma ngadem,” jawabnya setengah panik.

“Ya! Nggak papa sih! Tapi di situ kan banyak makanan dan minuman. Nanti malah ngiler!” Ibu terkekeh melihat tingkah Vita.

“Iya juga ya, Bu!”

Mata Vita terpaku pada agar-agar warna-warni yang dibuat Ibu.

“Uh!”

Gadis itu segera menutup pintu lemari es. Mukanya ditekuk. Ia terlihat kecewa. Ibu mengelus rambut Vita dan mengecup keningnya.

“Sabar, ya!”

“Iya, Bu! Vita anak kuat, kok!”

Ia berbalik menuju ruang tamu. Kini, ia menyalakan TV. Sebuah film kartun berlatar Jepang sedang ditayangkan. Ada salju di sana.

“Ah! Seandainya saja ada salju!”

“Kruuk!” Perutnya kembali berteriak.

“Aduh!” keluhnya.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya. Vita memencet tombol off di remot kontrol TV. Ia berlari ke arah gudang tempat penyimpanan cucian bersih.

Beberapa saat kemudian, Vita telah berhasil memejamkan matanya. Sang Ibu mengintip ke dalam kamar.

“MasyaAllah!”

Rupanya, Vita tertidur sembari memeluk setrika. Besi yang menjadi elemen panas sekaligus pemberat menempel di perutnya yang terbuka. Ibunya terkekeh. Sementara, Vita mendengkur dan tenggelam dalam mimpi dingin berbalut setrika salju.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *