Permen Ilyas

Permen Ilyas

Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan user name Rin Iroeta. Karya ini ditulis spesial dalam rangka menyemarakkan program Sumbang Kisah Ramadan.

Ilyas dan Ibrahim adalah anak kembar dari Umi Zubaidah dan Abi Fajar. Meski wajahnya sama, mereka juga memiliki perbedaan pada beberapa kebiasaan dan sifat.

“Bang, kamu ambil permenku yang ada di meja belajar, ya? Aku bilangin umi, loh!” teriak Ilyas yang telah sukses masuk kamar kakak kembarnya. Wajahnya yang cerah terlihat seram karena amarah.

Teriakan Ilyas sama sekali tidak direspon. Ibrahim masih tertidur pulas. Ia sangat lelah karena baru pulang dari kegiatan kemah pramuka. Ilyas yang cerdik, langsung mematikan kipas angin dan menunggu reaksi kakaknya yang tidak kuat dengan hawa panas.

“Umi, Kipasnya kok mati!” pekik Ibrahim yang matanya masih tertutup rapat.

Malam itu, rumah memang sedang sepi. Umi dan abi si kembar sedang mengikuti kajian rutin di masjid yang agak jauh dari rumah. Ibrahim tidak mengetahui itu.

Ilyas masih duduk di ruang tamu menunggu kakaknya keluar dari kamar.

Ibrahim yang sudah bersimbah keringat, berjalan sempoyongan meninggalkan ranjangnya. Ia menuju wastafel dan mencuci wajah.

“Bang, mana permenku?” tegas Ilyas tepat di belakang punggung kakaknya. Ibrahim pun berjingkat mendengar suara yang tiba-tiba masuk telinga.

Anak berusia 11 tahun itu menatap Ilyas dengan sorotan mata yang tajam bak elang, “Menuduh itu dosa!” tampiknya. Ibrahim masih tidak mengaku. Ia mendadak salah tingkah.

“Abang nggak boleh ambil milik orang lain, apalagi tanpa permisi! Pokoknya kembalikan, Bang!” Ilyas terus berbicara melampiaskan kekesalannya.

Ibrahim masih tetap pada ucapannya bahwa ia tidak mengambil permen itu. Ilyas sudah kehilangan kata-kata dan hanya memilih diam sambil mengepalkan kedua tangan.

Di tengah situasi yang kacau itu, umi dan abi datang dengan menjinjing sebuah tas kresek berisi buah kelengkeng, buah kesukaan si kembar. Ekspresi mereka menjadi berubah setelah melihat keadaan kedua anaknya.

“Kalian kenapa? Berantem, ya? Ayo cerita sama umi dan abi,” ujar Abi Fajar yang penasaran hingga akhirnya menghampiri mereka.

Ilyas langsung menyahut, “Abang itu ambil permennya adek, Bi. Padahal permen itu mau adek berikan ke Firman pas solat subuh di masjid. Kemarin Firman nangis karena neneknya nggak punya uang buat belikan dia permen. Ayah dan Ibu Firman juga udah meninggal. Kalau bukan Ilyas yang belikan, siapa lagi?”

“Masyaallah anak abi mau sedekah permen, ya?” Puji Abi Fajar sambil mengelus punggung Ilyas untuk menenangkan perasaannya.

Ibrahim menengok ke arah Ilyas, “Sedekah? Kok pakai permen?” ledeknya.

“Abang Ibrahim, sedekah itu bisa dengan berbagai cara. Bisa sedekah dengan uang, jajan, tenaga, dan masih banyak lagi,” tegas Umi Zubaidah.

Umi menatap Ibrahim.  “Jadi, apa bener, abang ambil permennya adek?”

Ilyas menjawab dengan suara lantang, “Abang nggak mau ngaku, Mi!”

Umi mengajak kakak beradik itu ke ruang tamu dan duduk dengan tenang. Ibrahim yang keras kepala akhirnya mengaku juga karena nasihat-nasihat sang abi. Ibrahim menjelaskan bahwa ia tergoda dengan permen milik Ilyas. Anak sulung itu meminta maaf dengan segera. Meski ia sering usil, tapi Ibrahim selalu pandai meminta maaf jika merasa bersalah.

“Abang penasaran, Mi. Makanya langsung abang bawa ke perkemahan. Maaf, ya, Dek. Besok abang belikan permen yang sama.”

Umi dan abi hanya tersenyum melihat keberanian Ibrahim yang mengakui kesalahan dan kesabaran Ilyas dalam mengatasi sebuah masalah.

***

Umi Zubaidah menunggu kedua anaknya yang sedang menuntu ilmu di serambi masjid. Ustaz Sulaiman sedang menjelaskan tentang keistimewaan sedekah.

“Allah SWT akan melipatgandakan rezeki orang-orang yang mau bersedekah dengan ikhlas. Sedikit atau pun banyak, Allah SWT akan membalas dengan setimpal.”

Ibrahim mendengarkan dengan khusyuk nasihat guru mengajinya. Lalu ia menarik selembar kertas dari bukunya dan menulis sesuatu dengan tulisan yang besar “Ayo Sedekah!”

Sesampai di rumah, berlarilah Ibrahim menuju kamar. Ia beranjak ke lemari dan menempel secarik kertas yang telah ia tulis di tempat mengaji.

“Mulai besok, Ayo Sedekah!” teriak Ibrahim dengan penuh semangat. Ilyas datang ke kamar kakak tunggalnya. Mereka pun saling merangkul dan tersenyum bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *