Mudik

MUdik

Oleh: Maheswara

Kak Maheswara Al Barra Gusti Firdaus adalah siswa SMP asal Singosari Malang. Ia sudah memiliki banyak pengalaman menulis. Naskah Sumbang Dongeng Ramadan ini ditulisnya dalam waktu satu jam saja.

Sebuah mobil melaju dengan kencang di sepanjang jalan Pantura. Mereka adalah rombongan keluarga dari Surabaya yang akan mudik ke Semarang. Anak kecil tujuh tahun bernama Azril masih tertidur di awal perjalanan. Namun, ia terbangun dengan baterai yang sudah penuh saat tiba di Demak.

Jam sudah menunjukkan waktu zuhur, mereka pun menepi ke bahu jalan. Beruntung, mereka menemukan Masjid terdekat. Seusai menunaikan sholat zuhur berjemaah, Azril langsung disuruh membatalkan puasanya. Mereka pun mencari warung dan memutuskan berbuka di Warmindo. Awal masuk, warung itu tampak sepi. Pintu masuk warung itu diselimuti gorden, terlihat seperti tutup. Padahal, masakannya saja masih utuh.

Setelah memesan beberapa makanan untuk semuanya, Azril mulai bertanya kepada umi dan abinya. “Umi-umi, Abi-abi. Kenapa warungnya sepi sekali? Apa gara-gara gak enak, ya?” Lantas abinya menjawab, “Bukan tidak enak, tetapi hari ini kan bulan Ramadan,” Umi melanjutkan, “Bulan Ramadan itu bulan puasa, Nak. Semua umat muslim diwajibkan untuk berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan. Jadi, kita harus menahan makan, minum, dan lainnya dari subuh hingga matahari terbenam.”

Kembali Azril bertanya, “Tapi-tapi, ini masih jam 1. Kok udah makan?” Lalu, belum sempat umi menjawab, makanan sudah tersaji di hadapan mereka. “Alangkah baiknya kita makan dulu,” ujar Abi. Mereka lalu bersama-sama berbuka dengan ditemani tiga gelas es teh. Di tengah makan, umi menjawab pertanyaan anaknya. “Ada beberapa syarat bagi orang yang berpuasa dan keringanan untuk tidak berpuasa, Nak.” Huruf O seketika muncul mengiringi jawaban uminya.

“Memangnya-memangnya, keringanan untuk puasa itu buat kita ya, Umi?” Umi menjawab ya dengan anggukan pelan. Setelah menelan makanannya, umi melanjutkan jawabannya. “Jadi ada beberapa golongan orang yang diperbolehkan tidak berpuasa. Tetapi nanti saat tanggal 2 Syawal, mereka bisa mulai mengganti puasanya.” Setelah umi menjawab, abi pun ikut melanjutkan jawabannya. “Jadi Azril, ada beberapa golongan orang yang diperbolehkan tidak puasa. Yang pertama Azril, yang belum masuk usia baligh. Nanti ketika sudah umur 10 tahun, baru Azril wajib puasa penuh.”

“Oalah-oalah, jadi Azril boleh tidak puasa ya?” tanya bocah itu. “Azril harus belajar dari sekarang, biar nanti tidak kaget dan terbiasa puasa penuh.” Jelas Abi. “Kalau-kalau Umi? Kenapa kok malah ikut makan?” Abi pun menjawab “Kalau Umi, karena Umi Azril sedang hamil makanya tidak diwajibkan puasa. Perempuan hamil diperbolehkan tidak berpuasa. Begitu Azril.” Abi pun meninggalkan meja makan dan membayar di kasir.

Saat abi pergi, Azril pun berbisik pada umi. “Umi-umi, kalau Azril gak puasa karena belum baligh. Kalau Umi gak puasa karena hamil. Terus, Abi hamil tah mi?” Seketika umi Azril langsung tertawa dalam diam. “Nanti tanya Abi ya, sudah hamil berapa bulan!”

Saat sudah memasuki mobil dan menekan gas, lantas Azril bertanya pada abinya, “Abi-abi, Abi hamil ya? Berapa bulan Abi?” Lalu Abi tertawa dan berkata, “Abi lupa jelasin yang ketiga. Ada lagi, contohnya Abi. Abi ini musafir, kita semua musafir Azril. Musafir itu seseorang yang melakukan perjalanan jauh 80 kilometer sampai 88 kilometer lebih, Nak.” Lalu suara O memenuhi isi ruangan mobil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *