Raibnya si Bad

Raibnya si Bad
(Cerpen Spesial Ramadan)

Oleh: Rizka Amaliah

Ramadan pertama selalu jadi yang paling menyenangkan. Anak-anak bergerombol menuju surau untuk tarawih berjemaah. Salat bersama dengan kawan-kawan memang seru. Tapi, hal yang paling menyenangkan adalah kami punya lebih banyak waktu untuk tinggal dan bermain di halaman surau, tanpa harus takut dimarahi karena pulang kemalaman. Beberapa anak bahkan mendapat izin untuk menginap dan bertadarus sampai subuh.

“Bad! Ayo berdiri! Dikit lagi!” E’eng berbisik pada bocah di sebelah kirinya.

Ini baru rakaat kesepuluh tarawih. Perut Bad yang penuh membuatnya tak tahan untuk duduk bersandar pada dinding kayu surau.

“Perutku sakit, Eng!”

“Pahala, Bad! Pahala!” bujuk E’eng.

“Ayo, perut! Semangat! Sakitnya jangan sekarang!” Bad mencoba merayu tubuhnya.

E’eng terkekeh. Ia menahan tawa dengan telapak tangan. Kalau berisik saat ibadah, bisa-bisa tongkat Pak No, guru ngaji mereka, melayang ke hadapannya.

Bad berdiri. Meski sambil menahan sakit, akhirnya ia bisa menyelesaikan tarawih hari keduanya.

“Lega!” Bad menempelkan pundaknya pada E’eng.

Kawan karibnya itu mengacungkan jempol sembari merapal amin.

“Makanya kalau buka jangan kalap!”

“Nggak kalap aku! Mubazirlah, Ibu dah masak banyak. Kasian kalau nggak dimakan.”

“Bilang aja laper!”

“Pastilah kalau itu! Puasa, kan? Kalau kenyang namanya mokel.”

“Memangnya hari ini kamu puasa penuh? Tahun lalu kan sampai beduk zuhur aja!”

“Penuh, dong! Ibu janji belikan PS 5 kalau puasaku no bolong-bolong.” Bad mengerdipkan mata dan memainkan alisnya.

“Beh! Mantap! Nanti aku ikutan main!”

“Pastilah!”

“Eh! Ikut tadarus?” tanya E’eng.

“Hmm!”

“Ikutlah!”

“Perutku sakit!”

“Habis tadarus main petak umpet sama anak-anak!”

“Bolehlah!”

***
Suara doa penutup tadarus menggema dari toa. Bad, E’eng, dan anak-anak lainnya segera merapikan sajadah dan perlengkapan salat. Mereka segera berhamburan keluar, menuju halaman surau yang sangat luas.

“Eh! Cari genteng!” Fahmia memberikan instruksi.

Masing-masing anak dengan sigap memungut pecahan genting. Lalu, mereka menggoyangkan tangan dan menyanyikan lagu, “Hompila alaihom gambreng!”

Untuk kali pertama, Fahmia yang menjadi penjaga. Dengan sigap, E’eng menendang tumpukan genting hingga terlempar jauh dan berserakan. Fahmia memungutinya perlahan. Anak-anak lain berlarian mencari tempat untuk bersembunyi.

“Vita! Ketemu!”

Seorang anak gadis yang bersembunyi di balik pohon segera ditemukan oleh Fahmia.

“E’eng!” Fahmia kembali berteriak.

Hampir semua anak ditemukan. Terakhir, Fahmia tak bisa menemukan Bad di mana pun. Bahkan, saat anak-anak lain mencoba ikut mencari, Bad masih juga tak terlihat.

“Hmm! Tadi kan Bad sakit perut!”

Mata E’eng menatap tajam pada Fahmia. Gadis itu langsung mengerti. Ia berlari ke arah kamar mandi.

“Bad!” Fahmia berteriak.

“Oi!”

“Ngapain?”

“Setoran!”

“Ya ampun! Kamu ketemu, ya!”

“Iya! Aku terusin dulu tapi, ya! Tungguin!”

Cukup lama anak-anak menunggu Bad selesai. Mereka akhirnya kembali bermain.

Kali ini, Fahmia yang mendapat bagian menendang tumpukan genting. Ia membuat ancang-ancang dan memaksimalkan tendangannya. Tapi genting-genting kecil itu berserak tak terlalu jauh. Fahmia dan anak-anak lain pun segera melesat untuk menemukan tempat-tempat aman untuk bersembunyi.

“E’eng! Ketemu!”

Bocah itu bersembunyi di balik sumur. Pecinya menyembul saat ia tengah mengintip. Vita tentu saja bisa menemukannya dengan mudah.

“Fahmia!”

Satu per satu, Vita menemukan kawan-kawannya, kecuali Bad.

“Bad kemana, sih?” Vita mulai kesal.

Sebagian anak turut bingung mencari Bad. Sebagian lain duduk di teras kayu, menunggu.

“Kalau begini caranya aku nggak mau main ah! Capek!” Vita menumpahkan kekesalannya.

“Nggak boleh gitu dong! Namanya curang. Kan udah tugas penjaga! Aku bantu deh!”

Fahmia kemudian ikut membantu mencari Bad. Ia menengok pintu kamar mandi, terbuka. Berarti, Bad tak ada di sana.

“Aku coba cek ke rumahnya, ya?” E’eng juga menawarkan bantuan.

“Iya! Kali aja pulang! Bocah kok sukanya ngilang!” sahut Vita.

Beberapa saat kemudian, E’eng kembali dengan hasil nihil.

“Nggak ada!” E’eng berteriak di kejauhan, sembari melambaikan tangannya.

Anak-anak mulai putus asa. Tapi mereka juga penasaran, ke mana raibnya si Bad.

“Jangan-jangan disembunyikan hantu!” Aries nyeletuk.

“Mana ada?” E’eng menepis tebakan Aries.

“Adalah!”

“Ngarang!” Fahmia mengempaskan tubuhnya ke teras. .

“Eh! Beneran! Kalian nggak tahu cerita anak kecil yang disembunyikan Wewe?”

Suara Aries memelan dan memberat. Anak-anak duduk mendekat. Meski setengah tak percaya, tapi mereka masih juga penasaran. Hanya E’eng yang bergeming. Ia malah bersandar pada peti barang yang tergeletak di teras surau.

“Ada satu anak di desa kita yang pernah disembunyikan Wewe. Baru ketemu setelah tiga hari. Tau ketemunya di mana?”

“Di mana?” tanya mereka serempak.

“Di dalam lubang kayu besar dekat sungai.”

Bulu kuduk mereka berdiri. Ada perasaan takut yang menjalar hingga membuat Fahmia dan Vita duduk merapat.

“Mana ada setan atau hantu di bulan puasa begini!”

E’eng membuyarkan keseruan kisah Aries. Semua anak menoleh padanya. Suasana mendadak sepi. Tiba-tiba,

“Hrrr! Hrrr!”

Sebuah suara menyeramkan muncul. E’eng melompat.

“Jangan bercanda!”

Semua anak saling pandang. Tak ada satu pun di antara mereka yang bersuara seperti itu. Fahmia menelan ludah.

“Katanya, hantu akan datang kalau ada yang ngomongin mereka.” Aries membuat anak-anak makin panik.

Anak-anak mulai berpelukan erat satu sama lain. Atika yang masih berumur lima tahun nyaris saja menangis. Tapi Vita berhasil menenangkannya.

“Sst! Diam! Coba kita dengarkan lagi suaranya!” kata E’eng.

“Hrrr! Hrrr!”

Suara yang mirip erangan itu terdengar makin nyaring. E’eng mencoba menelusuri asal suara. Ternyata, itu dari dalam peti. Bocah itu menatap peti yang sejak tadi disandarinya.

Ia menunjuk ke arah peti. Anak-anak menggeleng. Mereka takut ada sesuatu yang mengerikan di dalam situ. Atika memeluk Vita dengan erat.

E’eng meyakinkan anak-anak untuk membukanya. Ia berbicara tanpa suara, mengandalkan gerak bibirnya untuk minta izin membuka peti. Dibantu Aries, ia kemudian membuka peti itu pelan-pelan.

“Ya ampun! Rupanya si Bad di sini!”

“Hu…!”

Semua anak bersorak! Mereka setengah jengkel dan setengah senang karena suara yang mereka dengar bukanlah suara hantu. Si Bad yang sejak tadi terlelap terkejut. Ia langsung duduk dan garuk-garuk kepala karena bingung.

“Ada apa, ya?”

Anak-anak pun tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah konyol si Bad.

Keterangan:
Mokel: Membatalkan puasa dengan makan atau minum
Wewe: Hantu yang suka menculik anak-anak

6 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *