Sate untuk Bibi
(Cerpen Spesial Ramadan)
Cerita ini ditulis spesial oleh Kak Zahro Rokhmawati, penulis buku “Siwi Cinta Bahasa Daerah”. Semoga suka ya, Adik-adik!

Ratih sedang membaca buku cerita di dalam rumah. Ratih suka sekali membaca. Tak lama kemudian, ibu memanggil Ratih.

“Iya, Bu?” tanya Ratih.

“Ratih, tolong belikan gula ke warung Pak Agus, ya! Ini uangnya!”

“Siap, Bu!”

Ratih anak yang penurut. Ratih sering membantu ibu.

Di jalan, Ratih melihat penjual sate.

Hm…! kasihan sekali penjual sate itu.

Tidak ada yang membeli satenya.

Ratih pun melanjutkan perjalanannya.

Akhirnya Ratih sampai di warung Pak Agus.

“Permisi…! Beli! Pak.. Pak Agus! Beli, Pak!”

Pak Agus belum keluar. Ratih duduk di warung Pak Agus.

“Oya, Ratih. Beli apa?”

“Beli gula satu, Pak! Ini uangnya!”

“Sebentar, ya!”

“Iya, Pak!”

Ratih menunggu uang kembalian.

“Ini gulanya. Tadi uangnya 100 ribu ya! Ini kembaliannya 90 ribu!”

“Terima kasih, Pak Agus!”

“Sama-sama, Ratih!”

Ratih melihat uang kembalian yang ia pegang.

Mmm.. Uang ibu masih sisa banyak.

Gimana kalau aku beli sate! Sate untuk bibi. Bibi kan lagi sakit. Pasti bibi belum makan.

Ratih sampai di tempat penjual sate.

“Kalau beli 10 ribu, dapat berapa satenya, Pak?”

“Kalau 10 ribu dapat 5 tusuk!”

“Jadi kalau beli 20 ribu dapat 10 tusuk ya, Pak?”

“Betul, Adik pintar!”

“Oke, Pak saya beli 20 ribu, ya!”

Ratih menunggu satenya matang.

“Ini satenya, Dik!”

“Oya, ini uangnya, Pak!”

“Terima kasih ya, Dik sudah beli sate saya!”

“Sama-sama, Pak. Semoga banyak yang beli!”

“Aamiin..”

Ratih segera menuju rumah bibi.

Bibi kaget melihat Ratih.

“Lo, Ratih kok sendirian? Sama Siapa?” tanya bibi.

“Ratih sendirian, Bi! Ini sate untuk bibi. Bibi sakit ya?”

“Iya, bibi sakit. Terima kasih, ya!”

“Sama-sama, Bi! Ratih pamit pulang!”

“Hati-hati, Ratih!”

“Iya, Bi!”

Saat perjalanan pulang, Ratih teringat ibunya.

“Waduh, gimana kalau ibu menungguku, ya? Apakah ibu marah?” ucap Ratih takut.

Sesampainya di rumah.

“Lo, Ratih kok lama sekali beli gulanya? Dari mana, Nak?”

“Eee.. Maaf, Bu,” Ratih tertunduk takut.

“Kenapa, Nak? Tidak apa-apa jujur saja. Tidak perlu takut!”

Mata Ratih berkaca-kaca. Ia hampir menangis. Ia takut dimarahi ibu.

“Maaf, Bu. Tadi Ratih tidak langsung pulang. Setelah Ratih beli gula, Ratih beli sate dulu,” ucap Ratih.

“Beli sate? Beli sate untuk siapa? Ibu kan tidak meminta tolong beli sate?” tanya ibu.

Akhirnya Ratih menangis.

“Ratih tadi beli sate untuk bibi, Bu. Kata ibu kan bibi sedang sakit. Kalau bibi sakit pasti tidak masak. Jadi Ratih belikan sate.”

“Oalah. Iya tidak apa-apa kalau begitu. Tapi lain kali Ratih izin ibu dulu, ya! Ibu kan jadinya khawatir.”

“Iya, Bu. Maafkan Ratih. Ratih kasihan ke penjual sate itu. Sepi. Tidak ada yang beli satenya, Bu.”

“Iya, nggak apa-apa, Nak. Tapi ingat pesan ibu tadi ya? Apa hayo?”

“Ratih harus izin dulu ke ibu. Kemanapun Ratih pergi harus izin.”

“Betul. Anak baik dan pintar!” ibu mengusap-usap kepala Ratih.

“Oh, iya! Ini uang kembaliannya, Bu. Tadi Ratih beli satenya 20 ribu, Bu.”

“Baik, sayang.”

“Makasi ya, Bu. Sekali lagi Ratih minta maaf.”

“Sama-sama anak baik!”

7 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *