Monyet Perenang

Monyet Perenang

Oleh: Rizka Amaliah

(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)

Seekor induk monyet di rimba Sumatera sedang mengasuh tiga anaknya. Salah satu dari mereka memiliki bentuk tubuh yang unik. Bayi monyet itu lebih mirip musang atau beruang kecil. Meski begitu, sang induk tampak tak peduli. Ia mengelus kepala ketiga anaknya dan bergantian menyusui mereka.

Moko, Meka, dan Taro adalah nama yang diberikan sang ibu pada tiga bayi itu. Entah kenapa, Taro punya nama yang berbeda. Mungkin karena ia lahir terakhir atau sebaliknya. Oh ya, ada satu hal lagi yang membuatnya berbeda, binatang kecil itu lebih suka makan daging daripada buah-buahan.

Setelah cukup besar, tiga monyet kecil itu mulai gemar bermain di luar sarang. Moko dan Meka bergelantungan dengan ekornya. Taro pun melakukan hal yang sama. Namun, ada hal sulit yang tak bisa ia lakukan. Taro selalu tergelincir ketika hendak melompat dan bergelantungan dengan tangannya. Ia lebih lihai bergelantungan dengan ekornya yang tebal dan kuat.

Moko dan Meka sering menertawakan Taro ketika tergelincir dan jatuh. Taro hanya tersenyum. Ia tak kesal dengan perilaku kedua saudaranya itu.

“Meka, Taro! Ayo kita main di dekat telaga!” Ajak Moko.

“Eh, bukankah kata Ibu di sana ada buaya. Berbahaya!” Meka tampak ragu dan khawatir.

“Ide yang menarik. Mungkin aku bisa melakukan hal menantang di sana. Bukankah kita pemanjat dan buaya tak bisa memanjat pohon.” Taro menaikkan alisnya sambil tersenyum.

Mereka bertiga pun akhirnya pergi ke pepohonan di tepi telaga. Di tempat itu, tak ada tanda-tanda buaya. Telaga tampak begitu tenang.

Tiga monyet muda bergelantungan dan berlompatan dari pohon satu ke pohon lain. Tanpa disengaja, Moko tiba-tiba tergelincir saat jatuh dari lompatan. Tubuhnya terempas dan tercebur ke dalam telaga. Tentu saja Moko tak bisa berenang. Meka pun turut melompat ke telaga untuk menyelamatkan Moko. Namun, keduanya justru hampir tenggelam.

Taro bingung. Ia takut tak bisa berenang. Namun, dari kejauhan, Taro melihat moncong buaya di permukaan telaga. Ia khawatir saudaranya akan disantap makhluk bergigi tajam itu. Tanpa pikir panjang, Taro menceburkan diri. Anehnya, ia bisa berenang dengan mudah. Taro pun menyelamatkan Moko lebih dulu.

Saat ia hendak kembali ke air, sebuah gerakan cepat mendorong Meka ke tepi. Seekor binatang besar yang mirip dengan Taro menolong Meka dan meletakkannya di punggung sambil berlari.

“Lari! Naik ke pohon!” Perintahnya. Ia benar-benar ahli menghindari buaya.

Tiga monyet kecil pun berterima kasih pada penyelamat mereka.

“Lain kali, jangan main ke sini kalau tidak bersama ayah atau ibu kalian!” Binatang mirip musang besar itu menasihati.

“Kalau boleh tahu, namamu siapa?” Tanya Taro.

“Namaku Bento, si Binturong penjaga telaga. Oh, ya binturong kecil, kamu perenang hebat. Jaga teman-temanmu, ya!” kata Bento. Binatang itu kemudian bergerak menjauh dari tiga anak monyet yang tubuhnya mengisut karena bulu-bulu yang basah.

Taro ternganga. Ia, Meka, dan Moko melangkah pulang. Kini Taro tahu mengapa dirinya berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *