Kucing Hitam Misterius

Kucing Hitam Misterius

Oleh: Paramita Faarik Albarrsyah

Kak Paramita Faarik Albarrsyah adalah siswi Sekolah Menengah Pertama asal Kota Malang. Ia gemar sekali menyuarakan imajinasinya lewat cerita pendek. Di usianya yang masih 14 tahun ia mencoba berkontribusi dalam penulisan cerita anak digital melalui Saung Kanak.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga siang. Aku masih terbaring santai di kasur kesayanganku. Aku berguling ke kanan lalu ke kiri, mencari posisi yang tepat untuk berbaring. Tapi rasanya, tubuhku ini sedang dilanda rasa ingin bergerak yang kuat. Akhirnya, aku bangun dan menuju meja belajar. Aku duduk, lalu merenung, hal apa yang harus ku lakukan agar tidak merasa bosan? Lantas, terlintas di pikiranku tentang pasar takjil di belakang kos yang diceritakan oleh teman kamar sebelah. Bergegas aku berganti pakaian serta membawa dompet. Tak lupa aku juga membawa handphone yang kumasukkan ke dalam saku hoodie abu-abuku.

Aku menuruni anak tangga kos dengan hati-hati, lalu menyapa penjaga kos yang sedang bersiap-siap untuk memasak. Aku bergegas keluar, menutup pagar kos rapat-rapat dan mulai berjalan. Kemarin, aku diberi tahu tentang keberadaan gang kecil di samping toko laundry yang bisa mempersingkat perjalanan. Aku pun mencoba melewati gang kecil itu. Gang itu cukup umum seperti gang-gang biasanya, ada rumah warga, warung, dan musala kecil. Aku tak terlalu hafal jalur belakang kosku itu. Namun, seingatku, di dekat rumah Pak RT ada jalan ke kanan, dan di situlah pasar takjil berada.

Ketika sampai, pandanganku dipenuhi oleh makanan dan minuman yang terlihat menggiurkan. Banyak yang berjualan gorengan di sana, tapi tak jarang ada yang menjual berbagai makanan berat. Untuk minuman, mayoritas jenis minuman di sana adalah minuman dingin dan segar. Ada juga yang berbagi takjil gratis, tapi tentulah antreannya bukan main.

Aku memutuskan untuk membeli roti sosis dan teh. Simpel saja, karena biasanya aku akan memasak makan malam di kos. Tak jauh dari toko tempat aku membeli roti, aku bertemu dengan seekor kucing berwarna putih. Badannya sungguh kotor. Ia berhenti tepat di depanku, mengeong, memelas seperti meminta makanan. Huh! Kucing ini tahu kelemahanku.

Aku berjongkok di hadapan kucing itu, meletakkan kantong kresek belanjaan tepat di sebelahku, dan menyobek sebagian dari roti sosis untuk kuberikan kepada kucing yang malang itu. Lalu, sisa roti yang baru kusobek tadi kumasukkan ke dalam kresek belanjaan. Aku terlalu terpaku dengan kucing putih yang sangat lahap makan, sampai tidak sadar bahwa kresek berisi sisa roti sosis di sebelahku sudah tiada.

Ketika aku melihat ke arah semak-semak di belakangku, ternyata kresek itu sudah dibawa lari oleh beberapa kucing. Ada kucing berwarna jingga dan abu-abu. Rupanya, kucing putih yang berlagak melas tadi itu adalah teman mereka. Hmm, bahkan kucing saja ada yang berbuat licik kepada manusia.

Aku melanjutkan perjalananku dengan rasa kecewa, tetapi aku teringat kata Ibu, aku harus merelakan apa yang sudah terjadi, anggap saja tadi aku bersedekah kepada kucing putih itu dan akan dibalas suatu saat nanti.

Tak jauh dari kos, tiba-tiba ada kresek berwarna hitam jatuh di depanku. Aku memandangi kresek hitam itu. Tak lama kemudian, seekor kucing hitam muncul menghampiriku dan duduk di sebelah kresek hitam tersebut.  Ia seolah mengatakan “Ambilah!” Akhirnya aku pun berjongkok dan membuka kresek itu. Di dalamnya ada sebuah roti sosis persis seperti yang aku beli tadi. Bedanya, roti di dalam kresek itu ada dua.

Aku hendak mengejar kucing hitam tadi, tapi ia menghilang entah kemana. Ternyata, semua kucing tidak seburuk dan senakal itu, ya. Dan benar adanya, jika kita bersedekah, akan dibalas dengan yang lebih. Aku hanya memberikan sobekan roti kepada kucing putih, lalu diberi dua roti sosis secara cuma-cuma yang diantarkan oleh kucing hitam misterius. Sudah sepatutnya aku bersyukur dan belajar dari kejadian hari ini. Masalahnya, roti ini milik siapa, ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *