Buku Api
Oleh: Kak Kaam Aleia
(Kak Kaam Aleia adalah seorang penulis novel di platform digital. Ia juga salah satu kontributor tetap saungkanak.com yang berasal dari kota Malang. Cerita yang ditulis usai mengikuti kegiatan Sarasehan pendongeng Nasional di Yogyakarta ini lahir berkat pertunjukan dongeng Opa Agus DS saat itu.)
Keluarga Dara sedang berlibur ke Yogyakarta. Kota Yogya begitu menarik. Dara sangat menyukainya. Setelah naik andong, ia berkeliling Malioboro dengan riang. Matanya terus menangkap tulisan-tulisan yang bertebaran di jalan.
“Ver-de-bug,” Dara mengeja sebuah nama sembari menarik blus ibunya.
Sang ibu pun berhenti sejenak. Ibu Dara berjongkok. Matanya bertatapan dengan mata Dara.
“Vre-de-beg,” Ibu Dara mencoba membetulkan.
“Boleh Dara masuk? Tempatnya besar sekali.” Dara melebarkan mata dan mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Boleh, dong! Ayo!” Ibu dan Ayah Dara mengganti arah tujuan. Tadinya mereka hendak membeli oleh-oleh.
“Dara mau beli tiket masuk?” tanya Ayah Dara.
“Mau! Dara suka beli tiket,” teriaknya riang.
Dara kemudian menyerahkan selembar uang sepuluh ribu rupiah kepada petugas. Ia mendapat tiga lembar tiket sebagai gantinya.
Gadis itu senang sekali. Di sebelah kiri, ia melihat ada lokomotif. Dara langsung mendekat dan mencoba masuk.
Setelah puas keluar-masuk lokomotif yang tak bergerak itu, Dara pindah ke area taman bermain. Ia mencoba semua permainan dengan riang.
Saat asyik bermain, mata Dara menangkap sesuatu. Ada seseorang berbaju kuning berjalan menuju area dalam benteng. Kepalanya bergerak mengikuti arah orang itu menuju. Jantung Dara berdesir. Ada rasa penasaran di hatinya, karena orang itu membawa boneka besar. Mulut boneka itu bisa bergerak.
Tanpa aba-aba, Dara langsung melompat turun. Ibu dan ayah terkejut. Ketika Dara mulai berlari, ayah dan ibunya pun mengejar.
Di dalam benteng, rupanya banyak orang berbaju kuning yang sedang berkumpul. Mereka berada di depan panggung kecil yang dikerumuni anak-anak.
Dara mendengar suara cekikikan. Ia pun melompat-lompat agar bisa melihat orang-orang di atas panggung. Sayang, tubuhnya terlalu kecil. Dara tak bisa melihat dengan jelas.
“Eh, Adik mau lihat dongeng? Sini-sini, duduk di karpet!” Seorang kakak dengan tubuh tinggi besar mengajaknya ke karpet.
Bocah yang sudah sangat penasaran itu segera bergerak ke arah karpet merah. Kali ini, ia bisa melihat pertunjukan dengan jelas.
“Aku tidak mau cekola. Kata teman-teman, di cekola ada ulal naga.” Rupanya, suara yang didengar Dara berasal dari seorang kakek yang sedang mendongeng. Namun, suaranya lebih mirip anak kecil. Lebih tepatnya, ia sedang menirukan suara anak kancil.
Mata Dara membeliak. Ia benar-benar tak menyangka bahwa si kakek bisa mengubah suaranya. Spontan, Dara bertepuk tangan. Semua orang pun turut bertepuk tangan.
Lalu, sebuah kejutan luar biasa membuat Dara semakin terpana.
“Ulal itu bisa mengelualkan api.” Si kakek mendongeng sembari membuka buku. Secara ajaib, dari buku itu keluar api yang menyala terang.
“Api-api, itu ada api.” Dara dan puluhan anak lainnya berteriak.
“Mana sih? Tidak ada api di sini?” Sang kakek menutup bukunya dan api itu pun menghilang.
Anak-anak banyak yang tidak percaya. Ada yang mengucek matanya. Ada yang berulang kali berkata pada ibunya bahwa api itu benar-benar ada. Hanya Dara yang celingukan entah mencari apa.
“Aha!” Wajah Dara tampak sangat gembira. Ia menemukan sesuatu. Dara memungut botol air yang tergeletak di sisi tempat sampah.
Dara lalu bergegas berjalan menuju area panggung. Karena banyak orang, ia harus berkali-kali menunduk dan mengucapkan permisi.
Kakek di panggung terlihat agak bingung. Ia menyapa Dara.
“Halo, Adik kecil! Kamu mau ke mana? Kok sibuk sekali?”
Dara hanya tersenyum dan menunjuk ke arah panggung. Kakek yang sedang duduk di sisi depan panggung itu pun mengangguk.
“Oke-oke! Mendekat ke sini!”
Dara kemudian menunjuk pelantang, “Boleh Dara ngobrol dengan kancil?”
“Oh, tentu saja! Namamu Dara?” Tanya si kakek sembari menyerahkan pelantang. Pertanyaan itu dibalas dengan anggukan Dara.
“Kancil!” Dara memanggil tokoh yang diperankan si kakek.
“Iya, Dara.”
“Kamu nggak usah takut pergi sekolah!”
“Ada ulal naga becal, lho… Aku nggak belani.” Kakek mengeluarkan suara mungil si kancil.
“Ini, aku punya air. Nanti kamu bisa suruh naganya minum. Biar apinya nggak bisa keluar.” Dara memasang tampang serius.
Si kakek pun tertawa terbahak-bahak. Kali ini si kakek yang dibuat terkejut oleh imajinasi Dara. Tepuk tangan meriah pun serentak datang dari para penonton.
Di seberang panggung, tepat di sisi replika tugu, ayah dan ibu Dara turut bertepuk tangan. Mereka bersorak meneriakkan nama Dara.
