Air Mata Aci
Oleh: Kak Rizka Amaliah
(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)
Aci tak mau bergerak dari tempat duduknya. Gadis mungil itu menyembunyikan wajah di balik lipatan tangannya yang erat. Ada bulir bening yang mengalir dan melecapkan pergelangan tangannya.
22 Desember memang dikenal dengan “Hari Ibu”. Semua sekolah merayakannya. Begitu juga dengan sekolah Aci. Para ibu diminta menjemput anak-anak mereka untuk mendapatkan kejutan.
Sebenarnya, Aci sudah enggan berharap. Pekerjaan sang ibu tak mungkin ditinggalkan. Namun, ibunya berjanji akan datang, apapun yang terjadi.
“Bagaimana kalau ada rapat?” Aci tak yakin ibunya akan datang ke sekolah pada hari yang ditentukan.
“Ibu akan datang. Tidak ada yang lebih penting dari Aci, putri kesayangan Ibu. Bukankah Ibu tak pernah ingkar janji?” Sebuah kecupan kecil dengan bonus suara letupan yang membikin geli mendarat di pipi Aci.
Aci membalas ibunya dengan anggukan dan pelukan erat. Ibu pura-pura sesak napas dan terkapar di lantai. Aci segera memberikan pertolongan pertama dengan menekan dada sang Ibu. Saat mata ibunya terbuka kembali, mereka pun tergelak bersama.
Sekarang, ingatan dan janji Ibu menjadi hal yang menyakitkan. Tadinya Aci sangat bersemangat. Namun, setelah beberapa kali mengintip di jendela dan tak menemukan ibunya di antara para penjemput, wajahnya berubah murung. Kemurungan itu pun menjelma tangisan saat Aci melihat wajah ayahnya di tengah kerumunan.
“Ibu benar-benar ingkar janji. Kenapa malah Ayah yang datang?” Aci memukul-mukul meja dengan kepalan tangannya. Ada bola merah yang kian memanas di dadanya. Benda itu seperti kobaran api, yang membuat air matanya meleleh dengan cepat.
“Aci…! Kenapa masih di dalam? Ayo kita berkumpul dengan anak-anak lain di barisan!” Bu Guru membelai rambut kemerahan Aci dengan tangannya yang lembut.
Suara isak tangis Aci makin meninggi. Ia sedang tak ingin bicara dengan siapapun. Bahkan, saat Aira, sahabatnya, menghampiri. Aci memilih diam. Hanya pundak dan kepalanya yang bergerak karena sesenggukan.
Karena ibu guru harus mendampingi anak-anak yang lain, Aci pun dibiarkan sendiri di kelas. Sebuah lagu bertema kasih ibu diputar. Tangisan Aci kian lantang. Sementara di luar, anak-anak lain berhamburan memeluk ibunya masing-masing.
Tok-tok-tok
“Aci..” Suara bariton sang ayah sejenak membuat Aci terdiam. Namun selang beberapa detik, tangisannya kembali pecah.
“Lihat dulu siapa yang datang, Sayang! Kok, Aci malah nangis di sini?” Ayah Aci mencoba meredakan tangisan buah hatinya.
“Tidak mungkin!” Aci perlahan mengangkat kepalanya, meski ia tak percaya dengan apa yang ada di pikirannya. Ia menyeka pipi dan membuka kedua matanya perlahan.
“Ibu! Ibu! Ibu datang!” Aci melompat. Ia segera berlari ke arah sang Ibu. Pelukan erat pun mendarat di tubuh ibunya yang sedang berjongkok itu. Mereka nyaris berguling-guling di lantai, kalau saja sang ayah tak gesit menahan punggung Ibu Aci.
“Aci pikir, Ibu tidak akan datang.” Aci masih bergelut dengan isaknya, sehingga suaranya terdengar bergetar.
“Ibu tidak pernah ingkar janji, Sayang! Maaf, karena Ibu terlambat, ya! Maaf juga karena membuat Aci menangis hari ini!” Ibu mengusap bahu Aci sembari terus memberondongnya dengan ciuman hangat.
Setelah keduanya puas berpelukan, Aci berbalik. Ia mengambil sesuatu di meja. Sebuah lukisan dengan krayon berwarna-warni memudar karena basah.
“Selamat hari Ibu! Maaf lukisan Aci jadi basah dan jelek, Bu.” Aci menyodorkan kertas bergambar seorang anak berkuncir yang memegang tangan ibunya. Di sudut kertas, ada sebuah kepala menyembul.
“Lukisan Aci tetap keren, lho! Coba lihat, bagian basahnya malah membuat warna-warna di lukisan Aci menyatu,” puji Ibu.
“Eh, yang ini siapa?” Sang ayah menyeletuk.
“Itu Ayah!” Aci tersenyum sembari menunjukkan gigi putihnya yang berderet.
“Yah, kok gambar Ayah cuma kepalanya saja, Ci?” Sang Ayah memasang raut kecewa.
Aci kemudian berbisik di telinga ayahnya, “Karena ini hadiah untuk perayaan hari ibu, semuanya berpakaian seperti Ibu. Aci yakin, Ayah pasti tak mau kalau Aci menggambar Ayah lengkap dengan baju khusus untuk hari Ibu!”
Tawa Ayah meledak. Ia memberikan dua jempol untuk Aci. Ibu, Aci, dan ayahnya pun saling berpelukan.
