Bolong Berapa?

Bolong Berapa?
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Kaam Aleia

Kak Kaam adalah penulis cerita di dua platform digital bidang kepenulisan. Tinggal di kota Malang, Kak Kaam cukup produktif menghasilkan karya melalui platform digital. Naskah novel dewasa pertamanya yang tuntas ditulis berjudul “Naro” bisa dibaca di Joylada Indonesia. Cerita-cerita anak dari Kak Kaam akan dimuat di web ini secara berkala.

 “Sekarang sudah hari ke sepuluh? Puasamu ga ada yang bolong, Mey?”

“Jangan bilang siapa-siapa ya?” Meyta membisikkan sesuatu di telinga Ama.

“Hah?” Ama terkejut.

Meyta buru-buru menutup mulut Ama dengan telapak tangannya.

“Sst! Jangan berisik! Nanti ada yang tahu. Kamu orang pertama yang tahu rahasia ini.”

“Iya! Iya! Lepasin dulu tanganmu! Nggak bisa napas nih!” Ama menarik paksa tangan sahabatnya itu.

“Hehehe! Maaf, ya! Habis, kamu keras banget teriaknya.

“Ya! Kagetlah, Mey! Kamu…!”

Belum selesai Ama meneruskan kalimatnya, Meyta kembali menyumpal mulutnya dengan tangan.

“Tuh! Baru selesai dibilangin jangan berisik, eh.. udah lupa lagi! Kamu, ya!”

“Maaf! Maaf! Jadi, gimana ceritanya? Kok kamu bisa sampai tahu?”

Meyta kemudian menarik legan Ama dan membawanya ke tempat yang cukup sepi. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, Meyta menarik napas panjang. Ia kemudian bercerita panjang lebar tentang pengalamannya.

“Berarti, kamu nggak jadi dapat hadiah mukenah dari ibumu, dong?” Ama menyelidik.

“Aku belum tahu. Tapi kan bukan salahku. Huhuhu!” Meyta menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Ama bingung. Sahabatnya itu belum pernah menangis sampai terisak seperti itu. Ia menepuk-nepuk punggungnya. Lalu, memeluk Meyta.

“Sudah, Mey! Sudah! Cup! Nanti dilihat orang!”

“Iya! Nanti orang-orang malah tahu kalau aku nggak puasa, ya? Kan nangis batalin puasa!”

“Eh! Nggaklah! Nangis yang batalin puasa itu kalau sambil makan!”

Jawaban Ama membuat Meyta terkekeh. Air matanya mendadak macet. Meski ada sedikit sisa yang masih mengalir pelan ke pipinya.

Setelah tangis Meyta benar-benar reda, Ama dan Meyta kemudian pergi ke rumah Mirna. Mereka ada janji untuk mengerjakan tugas yang diberikan para mentor pesantren kilat.

“Assalamualaikum! Mirna!”

Kedua anak itu memanggil nama Mirna tepat di depan pintu rumahnya. Ibu Mirna segera keluar dan mempersilakan mereka masuk.

“Lho! Mirna di mana, Tante?”

“Kalian masuk saja! Mirna di dapur!”

Mendengar kata dapur, Meyta dan Ama saling pandang.

“Kok di dapur? Ini kan masih siang?” Bisik Ama pada Meyta karena penasaran.

Mereka berdua bergegas ke dapur.

“Lho! Mirna nggak puasa?” Ama sangat terkejut melihat Mirna yang sedang memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.

“Eh! Ama! Meyta! Sebentar ya! Aku habiskan makananku dulu. Tunggu di ruang tengah seperti biasa, ya! Maaf banget!” Mirna meletakkan sendok di atas piring dan berhenti mengunyah sementara waktu.

Ama dan Meyta masih tak habis pikir, kenapa Mirna tak puasa.

“Apa Mirna sakit, ya?” Meyta mencoba menebak.

“Tapi mukanya nggak pucat. Makannya juga lahap,” sahut Ama.

“Jangan-jangan…!” Meyta dan Ama kembali saling menatap. Kali ini dengan bola mata yang terbuka sangat lebar.

“Kalian heboh ngomongin apa, sih?” Mirna melangkah mendekat.

“Mir! Kamu… Kok nggak puasa sih?” Meyta bertanya ragu-ragu.

“Oh! Itu! Ya, aku kan nggak boleh puasa.”

“Kok bisa?” mengerutkan keningnya.

“Ya bisalah! Aku kan lagi mens.”

“Eh! Kamu mens? Sama dong! Aku juga! Baru hari ini,” Meyta mendadak antusias.

“Oh, ya! Wah.. Samaan kita ya? Kamu mau makan? Mamaku masak puding enak banget.”

“Ehem! Ehem! Kalian lupa ya kalau ada aku di sini?” Ama menyindir keras.

“Hehehe! Maaf, Ama! Aku belum pernah ketemu teman yang sama-sama nggak puasa karena menstruasi,” Mirna menjelaskan.

“Alhamdulillah! Aku punya temen yang sama-sama mens. Tadinya, kupikir cuma aku anak kelas 6 SD yang udah mens,” Meyta mengutarakan kekhawatirannya.

“Nggak papa kok, Mey! Kalau aku, ini sudah yang kedua kalinya. Bulan lalu mens pertamaku. Kupikir aku sakit. Tapi setelah Kak Rara menjelaskan kalau aku sedang mens, aku jadi santai.”

“Berarti puasamu sudah bolong berapa?” Meyta tak berhenti mengajukan pertanyaan.

“Sudah bolong empat. Hehehe!”

“Kalau sudah mens, artinya sudah dewasa, ya?” Ama menyeletuk.

“Iya, dong! Artinya, kami berdua sudah lebih besar dari kamu, Ma! Jadi, panggil kami Kakak, ya!”

Mirna terkekeh karena sebenarnya Ama adalah yang paling tua di antara mereka. Untung saja Ama tak marah dengan candaan Mirna. Mereka bertiga pun mulai mengerjakan tugas pesantren kilat. Wajah Meyta sekarang sudah kembali ceria. Tak ada lagi cemberut dan air mata.

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *