Kejutan Jelang Lebaran
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah
Lebaran sudah tinggal beberapa hari. Bad, Amir, dan E’eng berbincang tentang persiapan mereka untuk menyambutnya.
“Kalian sudah ada baju lebaran, belum?” tanya Bad.
“Ada, dong! Besok, Ibu mau beliin,” jawab E’eng.
“Itu namanya belum ada! Masih mau beli.” Amir mencibir.
“Ya! Yang penting pas lebaran ada, kan? Kamu, Mir?”
“Yah! Ada! Baju lebaran tahun lalu. Masih bagus. Kata Emak nggak perlu beli. Sayang!”
“Hmm! Aku mau beli yang ada kantongnya.” Mata E’eng tampak berbinar. Bad menginjak kakinya dan memberi kode agar E’eng diam.
“Kenapa, sih?”
E’eng tak mengerti arti kode dari si Bad. Bad menepuk jidatnya. Amir yang mengerti tersenyum.
“Nggak papa, kok! Baju lebaranku juga masih bagus banget. Soalnya, jarang kupakai.”
Saat ketiga anak itu berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing, Bad melayangkan protes pada E’eng.
“Sudah kuinjak kakimu, tapi masih nggak ngerti juga!”
“Ya, mana aku tahu, Bad! Memangnya aku dukun?”
“Amir aja tahu, lho!”
“Iya! Iya! Maaf! Kasian juga ya si Amir?”
“Nah! Aku baru mau bilang.”
“Eh, Bad! Kamu punya tabungan?”
“Ada! Hmm! Tapi uang itu mau kupakai untuk beli stik PS. Kenapa?”
“Gimana kalau kita belikan Amir baju lebaran? Tapi pake uang kita sendiri. Stik PS bisa besok-besoklah! Punyamu kan masih bagus.”
“Ya! Bagus, sih! Tapi aku pengen beli yang transparan. Eh! Kamu ngajakin patungan? Punya tabungan?”
“Ada sih! Tapi mungkin nggak sebanyak kamu!”
“Ya udah! Besok aku ke rumahmu buat ngumpulin uangnya. Terus! Kita beliin baju buat Amir!”
“Jangan di rumahku, Bad. Nanti ketahuan Bapak Ibu. Kata Pak Ustaz kan tangan kanan memberi, tangan kiri sembunyi. Eh! Bener nggak sih?”
“Aku juga lupa! Hahaha! Ya, udah! Ketemu di gardu lapangan, ya!”
“Oke!”
*
Esok harinya, Bad berjalan mengendap-endap menuju gardu. Di tangannya ada kantong plastik hitam berisi celengan alumunium. Dari sisi seberang, E’eng berjalan santai tanpa membawa apapun.
“Lho! Kok kamu nggak bawa apa-apa, Eng?” Bad memberengut.
“Eh! Siapa bilang? Lihat baik-baik!” E’eng mengeluarkan amplop berisi uang kertas seribuan yang cukup banyak.
“Wah! Kirain kamu nabung di celengan.”
“Memang! Tapi tadi sudah kupecah dan kutukar uangnya ke warung.”
“Yah! Kok nggak kepikiran, ya? Punyaku masih di celengan.” Bad mengeluarkan isi kantong plastik bawaannya.
“Waduh! Celengan alumunium! Susah itu bukanya, Bad! Harus pakai pisau.”
“Yah! Kenapa tadi aku nggak bawa, ya? Hmm..” Bad tampak sangat menyesal.
“Bentar-bentar! Aku coba pinjam ke rumah Fahmia, ya? Kamu tunggu di sini aja!”
Beberapa saat kemudian, E’eng kembali bersama Fahmia.
“Loh! Kok Fahmia ikut?” bisik Bad pada E’eng.
“Iya! Aku tadi cerita. Kalau nggak, dia nggak bakal minjemin pisaunya.”
“Jadi ketahuan, dong!”
“Nggak papa! Fahmia juga mau ikutan patungan.”
“Beneran?”
“Ehem! Ehem!” Fahmia berdehem.
“Nggak usah bisik-bisik! Aku udah tahu semuanya. Sini aku bantuin motong celengannya!” Gadis itu menunjuk benda berbentuk tabung yang dipegang Bad.
Ternyata, membuka celengan alumunium cukup sulit. Mereka sampai harus bergantian memotong celengan dengan memasukkan pisau ke lubang pipih, tempat memasukkan koin.
“Yeay!” Ketiga anak itu bersorak gembira.
“Sst! Jangan terlalu berisik! Nanti banyak yang dengar!” tukas Fahmia. .
Mereka pun menutup mulut rapat-rapat. Fahmia segera membantu menghitung uang yang terkumpul.
“Lumayan! Karena tiga orang yang patungan jadi banyak. Ini pasti cukup untuk membeli setelan atau baju koko dan sarung.” E’eng menunjuk tumpukan uang kertas dan koin di hadapannya.
Mereka bertiga pun kemudian pergi ke pasar untuk membeli pakaian. Tak lupa, Fahmia juga membeli kertas cokelat, isolasi, dan beberapa peralatan lain untuk membungkus hadiah yang mereka siapkan.
Fahmia membungkus baju koko dan sarung yang mereka beli. Ia juga menulis nama Amir di bagian luar kertas pembungkus. Namun, mereka tak menuliskan nama diri, sebab tak ingin kawannya itu tahu siapa yang memberikan hadiah ini untuknya.
“Sudah?” tanya Bad sambil celingukan memastikan tak ada orang yang memperhatikan mereka.
“Sip! Beres sudah! Tinggal antar!” Fahmia tersenyum riang.
Bad mendapat tugas sebagai pengantar bingkisan. Sementara, Fahmia dan E’eng mengamati dari balik rimbun perdu di dekat rumah Amir. Sebelum meletakkan bingkisan berwarna cokelat itu, Bad memastikan tak ada orang di sekitar rumah Amir.
“Aman!”
Bocah itu segera meletakkan bingkisan di lantai, di bawah pintu masuk rumah Amir. Usai menjalankan misi, Bad segera berlari ke arah Fahmia dan E’eng. Namun, naas, kakinya tersandung dan menyenggol cikrak dari seng yang ada di halaman rumah Amir.
“Krompyang!”
“Aduh!”
Bad buru-buru berlari dan bersembunyi di balik perdu. Ia takut Amir atau keluarganya akan keluar karena suara itu. Benar saja! Amir keluar dan mengamati sekitar. Untung, Bad sudah bersama Fahmia dan E’eng. Mereka mengintip dari kejauhan.
Amir membolak-balik bingkisan misterius yang ada di hadapannya. Ia kemudian tersenyum dan membawanya masuk.
“Alhamdulillah!” ucap Fahmia dan E’eng serentak.
“Innalillah!” sahut Bad bersamaan.
Fahmia dan E’eng pun menoleh ke arah Bad yang sedang meringis.
“Kok innalillah?” tanya E’eng.
Bad pun menunjukkan luka di kakinya yang mengucurkan darah.
“Ya ampun, Bad! Ayo kita obati!” Fahmia segera berdiri karena terkejut melihat luka Bad.
Ketiganya kemudian segera pergi mencari tempat untuk mengobati luka si Bad. Meski begitu, ada simpul senyum bahagia di wajah mereka.

Kisah Bad dkk kali ini menyentuh banget… Berkesan sampai ke hati.
Eh, semoga kaki Bad tidak apa. Kutunggu kisah lanjutannya. Apakah Bad akan batal puasa gara-gara kakinya berdarah? Apa Amir akan tahu darimana hadiah itu berasal?