Toa Tua
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah
“Malam ini darus nggak?” tanya Bad.
“Iya, dong!”
“Nginep?”
“Belum bilang sih sama Emak.. Kamu?”
“Pengen nginep! Si E’eng katanya juga mau nginep.”
“Coba nanti aku ngomong sama Emak.”
“Sip! Biar tambah rame. Jadi semangat darusnya.”
“Iya!””
Percakapan Bad dan Amir pun berakhir. Si Amir segera mengayuh sepeda jengkinya untuk pulang ke rumah.
Sampai di depan rumah, ia menyandarkan sepeda pada dinding kayu hunian kecil keluarganya.
“Mak! Mak!”
Amir memanggil-manggil emaknya. Namun, tak ada sahutan. Ia berjalan lurus hingga ke pintu belakang. Rupanya, emak Amir sedang membersihkan kandang sapi mereka.
“Mak! Nanti aku nginep di surau ya!”
“Tadarus sampai subuh?”
“Iya, Mak!”
“Iya, boleh! Nanti Emak bawakan cemilan juga buat dimakan bareng! Sekalian persiapan sahurnya!”
“Asyik! Makasih, Emakku tersayang.”
***
Jelang Isya, anak-anak sudah riuh berkumpul di teras musala. Sebagian bahkan sudah menata sajadah untuk memilih tempat-tempat yang strategis. Bad, pasti menghampar sajadahnya tepat di sisi dinding agar ia bisa bersandar saat sedang rehat tarawih atau zikir bersama. Namun, ada yang aneh malam itu. Suara puji-pujian tak terdengar menggema di udara.
“Toanya kenapa, Mas Imam?” tanya Amir.
“Rusak, Mir! Nggak tau kenapa. Suaranya nggak keluar!”
Mas Imam menjawab dari atas genting. Ia tengah mencoba menurunkan toa, dibantu oleh anak-anak lain yang lebih besar dari Amir. Di kepala Mas Imam ada head lamp yang dilingkarkan. Sorot cahayanya membuat Mas Imam bisa dengan mudah mengamati kabel-kabel dan pelan-pelan mencopot Toa.
“Tolong matikan dulu meteran listriknya!” Mas Imam berteriak pada anak-anak yang mulai memadat di bawah.
Amir dengan sigap berlari ke arah meteran dan memindahkan tuas kecil di dalamnya, dari kanan ke kiri.
“Blap!”
Surau mendadak gelap.
“Aarg!” Anak-anak berteriak terkejut karena lampu mendadak mati.
Mereka kemudian berbisik-bisik, “Ada apa? Ada apa?”
“Lagi benerin toa! Sabar!” Bad berteriak lantang seperti pahlawan yang tengah menenangkan kepanikan.
“O..!” Riuh tanya anak-anak mulai redam.
“Nggak bisa dibenerin sekarang nih Toanya. Harus dibawa ke Cak Hakim. Kang servis elektronik. Coba kamu kasih tahu Pak No, Mir! Sekalian nyalakan lisriknya!” perintah Mas Imam.
“Siap!”
Amir kembali menekan tuas meteran listrik.
“Yeay!” Kali ini, Anak-anak bersorak gembira.
“Pak No, itu toanya belum bisa dipakai karena rusak. Kata Mas Imam butuh diservis.” Amir menunduk dan mengacungkan jempolnya ke arah Mas Imam yang sibuk menurunkan toa.
“Ya, sudah! Tadarus hari ini nggak usah pakai toa!” sahut Pak No.
“Inggih! Oh ya, Pak! Tadi Emak titip cemilan buat yang darus.” sahut Amir, masih menunduk sambil melipat jempolnya.
“Taruh aja di meja dulu! Nanti pas tadarus jangan lupa dibagikan!”
“Inggih!” sahut Amir lagi.
***
Surau Pak No lebih hening dari malam-malam sebelumnya. Tak ada suara lantang bacaan Qur’an atau puji-pujian dari toa. Emak yang sedari petang menunggu suara Amir agak gelisah.
“Kok nggak ada suara Amir ngaji?” Biasanya Emak bisa mendengar suara riuh anak-anak bertadarus, bahkan ketika ia sedang memasak.
“Apa libur ya tadarus dan tarawih nya? Tapi kok Amir pamit nginep?” Emak makin gelisah.
Akhirnya, emak memutuskan menyusul Amir.
“Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam!” jawab Pak No.
“Eh! Pak No! Tadarusnya apa libur? Kok nggak ada suaranya?”
“Nggak kok, Bu! Nggak libur! Toanya lagi rusak. Makanya anak-anak darusan nggak pake toa.”
“Owalah! Nggih, nggih! Paham!”
Emak kemudian berpamitan pada Pak No yang saat itu berada di ruang tamu, sebelah surau. Sebelum pulang, emak menyempatkan mengintip anak-anak yang sedang tadarus. Mereka tampak khusuk menyimak bacaan Qur’an. Kebetulan Amir yang kebagian mengaji.
Emak Amir tersenyum. Ia menatap sekeliling dan makin mengembangkan senyum saat melihat Bad mengunyah pisang goreng buatannya dengan lahap.
Keterangan:
Darus: bentuk ringkas dari tadarus

Kita saling mengembangkan silaturahmi bersama orang orang terdekat
Silaturrahmi bikin makin dekat dan bahagia ya.. hehehe.. Terima kasih atas responsnya..