Bola Senja
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah
“Bosen nggak sih kalau puasa tapi di rumah aja?”
“Nggak! Di rumahku ada PS. Kata Ibu bisa main sepuasnya asal bisa puasa sebulan penuh.” Bad menjawab enteng pertanyaan E’eng.
“Kalau aku, puasa tetep main, bantu emak ngarit, dan kasih makan sapi. Jadi, nggak kerasa, tau-tau udah azan magrib aja!” sahut Amir.
“Iya, betul! Apa ya namanya? Hmm! Kayak cari pengalihan gitu biar lapernya nggak kerasa.” tandas E’eng.
“Tapi nggak yang berat-berat juga! Hemat energi!” Bad menaikkan alisnya.
“Gimana kalau main bola!” Amir mengajukan usul.
“Main bola berat, Mir! Puasa udah bikin lemes dan kurus. Ditambah main bola, bisa habis dagingku.” Bad sewot.
“Nggak bakal habis, Bad! Setahun puasa juga dagingmu nggak bakal habis. Lha wong bukanya kalap! Sampe nggak bisa berdiri pas tarawih!” E’eng mencibir.
“Itu kan masih awal-awal, Eng. Sekarang sudah nggak.”
“Nggak salah!” Amir nyeletuk.
Sontak anak-anak itu tertawa. Bahkan, Bad yang jadi objek pun turut tergelak.
Pada akhirnya, mereka sepakat untuk main bola di lapangan dekat sekolah. Supaya lelah bermain terbayar, mereka memilih waktu sore hari hingga jelang buka puasa. Jadi, sampai rumah bisa langsung menyantap aneka menu buka puasa.
“Mir! Kamu mau main bola pakai sendal jepit?” tanya Bad.
“Sepatuku cuma satu, Bad. Kalau kupakai main bola, jebollah dia. Nggak bisa kubawa sekolah.”
“Bentar-bentar! Aku ada sepatu sport nganggur di rumah. Baru kupake dua kali. Tapi aku nggak suka. Kamu boleh pakai deh!” lanjut Bad.
“Mantap, tuh!”
Bad pun segera berlari ke arah pintu belakang rumah. Di sana ada gudang khusus untuk barang-barang yang sudah tak terpakai. Cukup lama Bad mencari sepatu sport berwarna merah itu. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah kardus cokelat yang tak terlalu besar.
“Nah! Ini dia sepatunya!
“Masak terasi gasnya ngowos! Makasih, bos!” Senyum Amir terlihat mengembang sempurna.
“Udah! Pantunnya nanti aja! Keburu magrib! Udah ditunggu yang lain.” E’eng segera mengakhiri percakapan dua sahabatnya itu.
“Berangkat!” Bad berseru sambil mengencangkan langkah menuju lapangan.
Sampai di lapangan, sudah ada banyak anak yang berlarian menggiring bola.
“Woi! Ayo langsung masuk! Mulai!” Seorang anak bertubuh jangkung, kurus, dan berkaus Messi memanggil Bad, Amir, dan E’eng.
“Oke!” Mereka bertiga pun berhambur masuk ke lapangan.
Bad mengambil posisi sebagai penjaga gawang. Sementara dua rekannya menjadi penyerang. Ya! Bad memang selalu memilih jadi keeper agar tak perlu banyak bergerak. Meski begitu, tangkapan bolanya juga tak bisa dibilang main-main. Ia hampir tak pernah meleset dalam memeluk bola-bola cepat yang mengarah ke gawang.
Setelah setengah jam lebih bermain, Anak-anak mulai ngos-ngosan. Puasa membuat energi mereka terkuras habis. Dua anak sudah mundur dan digantikan yang lain. Mereka menggeletakkan tubuh di atas rerumputan, di tepi lapangan. Bad, Amir, dan E’eng masih tampak semangat. Keringat mengucur deras dari tubuh ketiganya, hingga membuat kaus dan celana pendek mereka basah.
“Ayo, Ki!”
Seorang bocah meneriaki Saluki, anak bertubuh jangkung yang menyapa Bad, Amir, dan E’eng tadi. Kakinya lincah menggiring bola menuju gawang Bad. Bocah itu mencoba fokus untuk menerka arah bola, meski kepalanya mulai pening karena lapar.
Kurang dari tiga meter menuju gawang, Saluki mengayunkan kakinya kuat-kuat. Bola melesat cepat ke arah Bad.
“Wush!” Angin dari bola melewati pundak Amir.
Bad dengan sigap membaca arah bola, dan…
“Bruk!”
Bola berhasil ditepis dengan sundulan maut si Bad. Tapi ia terjengkang ke belakang. Kepalanya tak lagi pening, tapi pusing tujuh keliling. Hantaman bola membuat pandangannya mendadak buram. Bad kini benar-benar terkapar di depan gawang.
Menyadari hal itu, E’eng, Amir, dan anak-anak lain segera berlari menghampiri Bad. E’eng menaikkan kepala Bad ke pahanya. Ia kemudian mengguncang-guncang dagunya.
“Bad! Bangun, Bad! Ayo bangun!”
Bocah itu bergeming. Ia tak bergerak sedikit pun.
“Pingsan kayaknya, nih!” Amir menebak.
“Yaiyalah! Masak tidur!” E’eng mendadak kesal karena resopons Amir.
“Bentar-bentar! Banguninnya bukan gitu!” Amir sepertinya tengah memikirkan sebuah ide.
Ia kemudian berteriak di telinga Bad.
“Bad! Bangun! Azan magrib! Buka…! Ada es teler dari Lek Minah!”
Benar saja! Teriakan Amir membuat Bad bangun dan gelagapan.
“Buka? Es teler? Mana? Mana?”
“Hahaha!”
Anak-anak sontak tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Bad. Saluki sampai berguling-guling di rerumputan sambil memegangi perutnya.
“Ya, kan! Bangun, kan! Mati suri pun pasti dia bangun kalau ada makanan.” Amir tersenyum penuh kemenangan.
