Saatnya Berbuka

Saatnya Berbuka
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah

“Udah lama nggak main masak-masakan ya, Vit?” tanya Fahmia tiba-tiba.

“Ya! Kan sekarang lagi bulan puasa!”

“Hmm! Tapi seru juga kalau masak-masakan beneran buat dimakan pas buka!”

“Dulu kan pernah ya? Tapi pas bukan bulan puasa.”

“Iya! Si Oo’ tuh pinter masak eseng-eseng terong.”

“Bener!”

“Jadi, gimana? Masak-masakan kita? Biar waktu nunggu bukanya seru.”

“Boleh, deh! Kita tanya anak-anak dulu siapa yang mau ikutan dan urunan!” Fahmia berusul.

“Yuk!”

Setelah mengumpulkan teman-teman yang sepakat untuk ikut kegiatan masak-masakan, mereka pun mulai berdiskusi.

“Jadi, kapan acaranya?” tanya Amir.

“Besok aja! Jangan lama-lama! Nanti nggak jadi!” sahut Bad pasti.

“Oke! Besok, ya!” Fahmia menyatakan setuju, disusul anggukan anak-anak lain.

“Aku yang bawa berasnya,” Vita memulai perbincangan soal urunan.

“Aku bawa ikan asin! Tinggal goreng! Sreng!” kata E’eng.

“O’! Kamu bawa terong aja sama bawang merah putih!” Vita tersenyum simetris.

“Siap!”

“Nanti sekalian kamu yang bumbuin!” lanjut si Vita.

“Nggak ada masalah!”

“Siapa yang bawa kerupuk? Wajib ini!” Bad nyeletuk.

“Lha, kamu bawa apa, Bad? Kamu aja!” Oo’ menimpali.

“Aku mau bawa kolak! Ya udahlah! Kolak sama kerupuk!”

“Kok kolak! Kalau kolak kan udah mateng, Bad! Kita kan mau masak-masakan!” Vita memprotes.

“Ya kalian masak, aku makan kolak. Hahahha.. Nggak-nggak! Gini, lho! Kalau masak semua kan repot. Jadi, buat takjil biar aku bawa kolak aja. Kerupuknya aku bawa yang mentah dan udah dijemur. Jadi tinggal sreng! Gimana?”

“Iya, deh! Nggak papa! Beneran tapi ya!” Vita tampak tak yakin.

“Beneran!”

“Aku bawa tahu tempe!” Amir menghentikan perseteruan dua anak itu.

“Aku bawa minyak! Kalau nggak ada minyak, nggak bisa digoreng tuh tahu dan ikan asin.” Fahmia terkekeh.

“Masaknya di rumah Oo’ aja gimana? Halaman sampingnya kan luas. Ada tungku di luar juga. Daripada repot harus nyusun bata buat dijadiin tungku?” Vita berusul.

“Masuk akal!” jawab si Bad.

Esoknya, pukul 14.30, anak-anak sudah berkumpul di rumah Oo’. Semua bahan mereka kumpulkan di balai-balai yang ada di halaman samping rumah Oo’.

“Mana si Bad? Kok belum kelihatan?” tanya Fahmia.

“Tau gitu, tadi aku jemput ke rumahnya. Palingan masih ngorok dia!” sahut E’eng.

“Apa perlu kujemput?” Amir ikut merespons.

“Nggak usah! Di sini lebih banyak kerjaan!” Vita menjawab ketus.

Anak-anak itu mulai membagi tugas. E’eng dan Amir kebagian mencuci terong, bawang kupas, dan beberapa bahan makanan lainnya. Oo’ dan Vita mencoba menghidupkan api. Oo’ yang memang sering membantu orang tuanya memasak tak mengalami kesulitan dalam melakukan hal ini. Ia cukup memasukkan kelaras dan beberapa batang kayu kering ke dalam tungku, dan.. Tara! Api berhasil dinyalakan.

Setelah menunggu beberapa saat, E’eng dan Amir datang membawa sayuran yang sudah dibersihkan. Dibantu Fahmia, mereka kemudian memotong-motong bawang dan terong.

“Mir! Motongnya tipis-tipis! Jangan tebel kayak sendal jepit gitu dong!” protes Vita.

“Beh! Nanti tanganku kenak, Vit!”

“Nggak bakal! Masak jagoan nggak bisa ngiris tipis?” Gadis bermata sipit itu meledek.

Panas mendengar ledekan Vita, Amir langsung berusaha mengiris bawang hingga setipis kertas.

“Nah! Itu bisa!”

Amir tersenyum kecut. Ia melanjutkan proses mengiris bawang.

“Aduh! Tuh, kan kena jariku!” Jari Amir berdarah.

“Waduh! Ya sudah kamu istirahat saja sana, Mir! Ya, maaf! Nanti jatah makanmu kubanyakinlah!” Vita tampak merasa bersalah.

Amir menyingkir ke sisi barat balai-balai. E’eng menggantikannya. Perlahan, mereka mulai memasukkan potongan bawang ke dalam minyak panas di penggorengan. Oo’ sangat lincah memainkan tangannya untuk mengaduk terung.

“Aku mau coba!” Amir mendekat.

“Nanti tanganmu perih!” sindir Fahmia.

“Udah ilang perihnya! Jagoan kok!”

Amir membusungkan dadanya. Fahmia hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu. Tak disangka, Amir juga tak kalah jago dalam mengaduk dan mencampur bahan-bahan. Di sisi lain, E’eng mulai menggerus sambal. Satu per satu masakan siap. Ada tempe dan tahu goreng, eseng-eseng terung, ikan asin, hingga sambal. Hanya satu yang belum ada, kerupuk. Padahal, suara salawat di corong masjid sudah terdengar lantang.

“Ya, sudah! Bad nggak usah ditunggu!” Vita bersungut-sungut sembari menggelar tikar.

Kini semua anak sudah duduk rapi di atas tikar, menghadap makanan yang sudah siap disantap.

“Brrm! Brrm!”

Mereka dikejutkan oleh suara motor yang datang dan parkir tepat di depan rumah Oo’. Ternyata, itu si Bad yang diantar pamannya. Ia membawa sepanci kolak dan kerupuk yang sudah matang.

“Aku datang!” teriaknya.

“Aku datang aku datang! Kamu mau masak-masakan apa cuma buka bersama?” Vita memberondong Bad dengan kalimat protes.

“Sabar, dong! Yang penting aku datang, kan? Bawa makanan pula! Ayo-ayo disiapkan!”

Vita dan Oo’ yang sudah tahu kebiasaan Bad segera mengambil mangkuk dan menuangkan kolak untuk dinikmati bersama. Tepat ketika pembagian kolak selesai, suara beduk terdengar dari masjid dekat rumah Oo’.

“Alhamdulillah!” Mereka kompak berseru.

Amir yang sudah kelaparan segera mengambil nasi dan eseng-eseng terung.

“Nggak kolak dulu?” tanya Vita.

“Nggak! Ini kayaknya enak!” sahut Amir.

Ia segera memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya. Amir menarungkan gigi-giginya untuk mengunyah. Alisnya mengernyit.

“Kok nggak ada rasanya?”

“Masa? Oh iya, aku lupa belum tambahkan gula garam.” jawab Oo’.

Ia segera mengambil wadah berisi terung dan menuangkannya kembali ke penggorengan untuk ditambah gula dan garam.

“Nah! Untung aku datang bawa kolak, kan? Ternyata masakannya masih belum ada gula garam.” Bad berseru, merasa menang.

“Memangnya kolakmu bisa buat lauk nasi apa?” Vita masih saja sewot.

Anak-anak pun tertawa melihat tingkah Bad dan Vita. Buka puasa kali ini benar-benar terasa istimewa, karena anak-anak menikmati masakannya sendiri.

2 comments

  1. Penting nya disiplin biar banyak teman dan kita sesama teman harus tolong menolong dan menjaga tali silaturahmi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *