Oleh: Rizka Amaliah
Bumi…
Diam-diam menangis
Ada demam yang membuatnya gemetaran
Bumi…
Menangis diam-diam
Ada sembilu yang menyayat tubuhnya pelan-pelan
Tahukah kamu?
Bumi sedang sakit
Ia sekarat
Batuknya yang berkali-kali menumpahkan dahak
Membuat rumah-rumah tenggelam dalam riak
Ia juga tak lagi pandai menampung air mata langit
Sebab pori di kulitnya telah disegel semen, aspal, paving, dan beton
Membuat triliunan liter air berlompatan hingga ke kamarku, kamarmu
Pernahkah kamu sakit?
Kalau kamu sakit
Sakitku dan sakitmu tentu tersebab salahku dan salahmu
Dalam kubangan kotoran, aku dan kamu mengundang pasukan kuman
Kalau kamu sakit
Sakitku dan sakitmu tentulah salahku dan salahmu
Sebab aku dan kamu bisa memilih, hanya saja kita kerap kali tak peduli
Bumi?
Tak seperti aku dan kamu
Ia menadah segala dalam diam
Kamu dan akulah yang menanam luka demi luka di tubuhnya
Kamu dan akulah yang memupuk perih hingga dia berubah ringkih
Kini, sudah waktunya aku dan kamu memeluk bumi
Melontar maaf padanya berkali-kali
Membersihkan dan memplester luka-lukanya yang tak akan sembuh sendiri
