Oleh: Kak Rizka Amaliah
Kak Rizka adalah founder Saung Kanak Nusantara yang punya hobi menulis dan mendongeng. Beberapa tulisannya telah dimuat di surat kabar nasional. Ia juga menerbitkan banyak buku cerita anak menarik yang bisa dinikmati oleh para pembaca cilik. Tentu saja, para pembaca cilik juga bisa menikmati tulisannya secara gratis melalui laman saungkanak.com. Nah, tulisan Kak Rizka kali ini merupakan hasil dari tantangan 30 hari menulis di bulan Ramadan.
Ramadan pertama, langit tampak begitu terang. Namun, rintik gerimis berlomba jatuh ke tanah, seperti tirai bening tipis yang menghalangi pandangan mata. Bad termenung di teras rumahnya sembari membiarkan ujung jari kakinya basah dirangkul hujan.
“Kalau cuacanya begini, bagaimana aku bisa jualan takjil?” Bad mendengus kesal. Matanya melirik ke arah es puding cerah buatan ibu yang siap dipamerkan dan dijual.
Bad sudah melisankan janjinya pada ibu. Setiap hari, ia akan membantu ibu menyiapkan takjil dan menjajakannya. Upahnya? 50 : 50. Ya, sang ibu berjanji untuk memastikan Bad mengantongi 50% laba untuk menjalankan misi rahasia.
“Andai bisa seperti Nabi Muhammad yang dilindungi awan dalam setiap perjalanan. Hmmh..” Bad menghela napas panjang hingga pundaknya melemas.
“Tidak harus seperti Nabi Muhammad untuk bisa berjualan saat hari hujan begini, Bad. Pakai saja jas hujanmu! Beres, kan?” Suara lembut ibu dan rangkulan hangatnya membuat Bad menegak.
“Tapi, Bu… Bukan itu masalahnya.” Kening Bad mengernyit. Ada kekhawatiran besar terbersit di rautnya.
Meski begitu, pada akhirnya Bad berangkat dengan mengenakan setelan jas hujan kuning berlogo pinguin kesayangannya. Bocah itu menarik kotak pendingin yang telah dimodifikasi dengan empat roda putar, kenang-kenangan sang ayah yang telah lama wafat. Kotak itulah yang menemani sang ibu berjualan takjil selama tiga Ramadan berturut-turut. Kali ini, Badlah yang dengan senang hati menggantikannya.
Setelah sampai di lokasi bazar takjil, Bad mengamati jalanan yang teramat lengang. Hanya ada para penjual yang berjajar di sepanjang tepian dengan warna-warni payung raksasa atau gerobak beratap yang melindungi para pedagang dari serangan hujan. Sesekali, ada pengendara motor yang singgah. Namun, para pedagang kemudian akan kembali berlama-lama berbincang atau menata barang dagangannya.
Bad menunduk. Ada bulir bening yang menggenang di matanya. Ia tak yakin dagangannya akan laku. Es di cuaca seperti ini? Tampaknya mustahil.
“Apa aku pulang saja, ya?” Bad membalik langkah. Ia benar-benar nyaris memilih menyerah, sampai beberapa detik kemudian ada yang menepuk pundaknya.
“Bad, ya? Jualan apa, Nak?” Rupanya orang itu adalah Bu Nurul, guru Akidah Akhlak di sekolah Bad.
Dengan riang Bad menjelaskan produk andalan yang dijualnya. Matanya berbinar ketika menceritakan bahwa es puding buatan sang ibu sama sekali tidak menggunakan pemanis buatan. Sehat dan alami.
Tak butuh waktu lama, Bu Nurul segera memborong dagangan Bad untuk dibagikan sebagai takjil gratis di salah satu masjid sekitar rumahnya. Bad tersenyum sambil menggenggam uang yang lecap bercampur gerimis. Ia pun buru-buru pulang ke rumah untuk menyerahkan hasil kerjanya pada sang ibu.
Sesuai janji, Ibu Bad menyerahkan empat lembar pecahan lima ribuan pada sang putra semata wayang. Bad melompat riang. Hampir saja kakinya terpeleset karena senang.
“Sebenarnya Bad mau beli apa, sih?” tanya ibu penuh selidik.
“Ada deh, Bu… Pokoknya, Bad tinggal kumpulkan lima ribu lagi untuk menyelesaikan misi.” Bad menaikkan alisnya sambil berlalu pergi dan berganti pakaian.
Keesokaan harinya, hujan kembali menerjang. Kali ini cukup deras. Namun, Bad tak lagi khawatir. Ia yakin bahwa setiap usaha baik akan membuahkan hasil yang baik pula. Dengan langkah tegap, Bad berpamitan dan menggeledek kotak dagangannya seperti kemarin.
Berbeda dengan hari pertama, kali ini Bad memilih tempat mangkal yang lebih strategis. Tentu ia harus membayar uang keamanan tambahan untuk itu. Ia berjualan sembari meneriakkan dagangannya kepada setiap pemotor yang lewat. Beberapa dari mereka tertarik, lalu tanpa turun dari motor membeli es puding.
Hujan reda. Namun, Bad tak membuka jas hujannya. Saat sedang sibuk berjualan, Bad melihat sosok yang dikenalnya berjalan santai dari kejauhan. Bocah tirus dengan kopiah kebesaran. Ia adalah Amir, sahabatnya yang yatim piatu. Bad panik. Ia bergegas membereskan dagangannya agar tak terlihat oleh Amir. Sayangnya, sorot mata Amir saat ini telah menukik tajam ke arahnya.
“Ya, ketahuan!” gumamnya gusar.
“Baaad…!”
Amir memekik nyaring, memanggil nama sang karib sambil berhambur merangkulnya. Kopiah Amir sampai tenggelam hingga ke bawah alis. Bad pun tergelak melihatnya.
“Kopiah ini masih dipakai juga? Sudah luntur warnanya.” Bad menepuk lembut kopiah sang sahabat.
“Masihlah. Ini kan pemberian kawan kesayanganku, bekas kepala dengan otak jenius ini.” Amir mengusap rambut legam di kepala Bad.
Kepalang tanggung, karena sudah ada Amir di tempat Bad berjualan, ia pun memintanya ikut membantu menjajakan dagangan. Bocah itu tahu betul kalau Amir tak akan punya cukup uang untuk berbelanja dan hanya datang untuk sekadar mengendus asap satai atau aroma kuah soto yang menguar dari belanga para pedagang.
Matahari sore tak lagi malu-malu bersembunyi di balik awan kelabu. Hal ini membuat jalanan mendadak sesak oleh pengunjung. Tak butuh waktu lama, dagangan Bad sudah ludes. Bocah itu menghitung jumlah keuntungan yang didapatkannya hari itu. Tak boleh kurang tak boleh lebih. Jumlahnya persis seperti kemarin.
“Hmm… Mir.” Bad ingin memulai percakapan dengan Amir, tapi ia khawatir sahabatnnya itu akan tersinggung. Namun, belum sempat lawan bicaranya menyahut, Bad akhirnya menarik lengannya dan mengajak Amir ke sebuah toko milik Habib Husain. Sarung, baju koko, dan peci-peci hitam pekat terpajang di etalase toko berukuran 5 x 5 meter itu.
“Kamu mau beli apa, Bad?” Amir penasaran. Matanya menjelujur setiap sudut toko yang tertata dengan rapi. Namun, Bad tak menyahut. Ia sibuk berbincang dengan Habib Husain. Sejurus kemudian, sebuah peci hitam bernomor lima mendarat di tangan Bad.
“Oh.. Peci. Kok, nomor lima? Bukannya ukuranmu sembilan.” Amir melepas peci yang dikenakannya dan mengintip bagian dalam peci yang nomornya sudah luntur.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, Bad kemudian memasang peci nomor lima di kepala Amir. “Pas,” serunya.
Amir tampak terkejut. Ia berdiri mematung, seperti tak berani menggerakkan tubuhnya barang sesenti. Amir bahkan masih tertegun hingga Bad menyelesaikan transaksi dengan Habib Husain.
“Nah, ini buat kamu. Peci nomor sembilan itu jangan dipakai lagi, biar tak melorot jatuh saat sujud salat tarawih!” Bad kembali memasangkan peci nomor lima ke kepala Amir. Meski terlihat tegas, hatinya was-was. Ia khawatir Amir akan marah atau tersinggung karena dibelikan peci baru. Namun, senyum simetris di wajah Amir menghalau semua kekhawatiran Bad.
“Peci ini pas sekali. Tapi, aku masih akan menyimpan peci nomor sembilanmu, Bad. Dua-duanya akan kupakai bergiliran. Biar melorot, peci ini adalah pemberian darimu yang berharga.” Amir menatap tulus pada sang sahabat. Jawaban ini tentu saja mengundang hujan di mata Bad. Namun, hujan itu mendadak urung jatuh usai menyaksikan tawa pecah Amir saat melempar peci-pecinya ke udara. Tentu saja, kemudian ia kesulitan menangkap keduanya hingga nyaris terjerembab. Beruntung, Bad dengan sigap mecengkeram kerah belakang Amir hingga adegan memalukan itu batal terjadi. Keduanya tergelak bersama. Mereka menutup perjumpaan senja itu dengan tawa bahagia.
