Penulis: Kak Elyanoor Oktaviana
Kak Elyanoor Oktaviana adalah Guru Bahasa Indonesia di Thursina IIBS Malang dan pegiat literasi di Saung Kanak Nusantara. Ia mendedikasikan tulisannya untuk merawat imajinasi, menyalakan cinta baca, dan menanamkan budi pekerti pada anak-anak. Baginya, kata bukan sekadar rangkaian huruf, melainkan mantra yang mampu menggerakkan hati, membuka pikiran, dan mengubah kehidupan. Mari bersinergi dengan saling menyapa di galeri persona @elyanoorv atau merpati elektronik elyanoor@thursinaiibs.sch.id
Rafa sedang belajar berpuasa untuk pertama kalinya. Usianya baru tujuh tahun. Ia bangga sekali bisa ikut sahur bersama Ayah dan Ibu. Pagi itu, Rafa tampak bersemangat. Ia membantu Ibu merapikan meja makan. Setelah matahari naik tinggi, Rafa mulai merasa haus.
“Ibu, sekarang jam berapa?” tanya Rafa.
“Baru pukul sembilan, Nak,” jawab Ibu lembut. Rafa mengangguk. Lima menit kemudian, ia kembali berdiri di bawah jam dinding ruang tamu.
“Sekarang jam berapa, Bu?” Pertanyaan Rafa membuat Ibu tersenyum. “Masih pukul sembilan lewat sedikit.”
Jam dinding itu berbentuk bulat dengan bingkai kayu cokelat. Jarumnya panjang dan ramping. Sejak pagi, ia terus mendengar pertanyaan yang sama. Siang hari, Rafa berbaring di sofa. Perutnya mulai berbunyi pelan.
“Ayah, sekarang jam berapa?” Mata Rafa sayu menatap ayahnya.
“Pukul dua belas,” jawab Ayah sambil menutup laptopnya.
Rafa menghela napas panjang. Ia kembali menatap jam dinding. “Kenapa sih jarumnya lama sekali bergerak?” gumam Rafa.
Jarum panjang itu bergerak pelan. Tik… tik… tik… Tiba-tiba, Rafa merasa seperti mendengar suara.
“Bukan aku yang lambat,” bisik suara itu.
Rafa terlonjak. “Siapa?”
“Aku. Jam dinding ini,” jawab suara itu lagi. Rafa membelalakkan mata. “Jam bisa bicara?”
“Kalau ada anak yang bertanya setiap lima menit, tentu saja aku bisa,” jawab jam dinding sedikit kesal.
Rafa terdiam. “Maaf… Aku cuma lapar dan haus.”
Jam dinding terdiam sejenak. Jarumnya terus bergerak. “Aku tahu kamu sedang belajar puasa,” katanya lebih lembut, “Tapi waktu memang berjalan sesuai aturannya. Tidak bisa dipercepat hanya karena kamu tidak sabar.”
Rafa menunduk, “Tapi rasanya lama sekali.”
“Coba hitung, sejak pagi kamu sudah bertanya berapa kali!” gerutu jam.
Rafa berpikir. “Mungkin… sepuluh kali?”
“Lebih,” jawab jam pelan.
Rafa tersipu malu. Jam dinding melanjutkan, “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Puasa juga belajar menahan diri dan melatih sabar.”
Rafa duduk bersila di lantai. “Lalu aku harus bagaimana supaya tidak terus bertanya?”
“Isi waktumu,” kata jam, “Bermain, membaca, membantu Ibu, atau tidur siang. Kalau kamu hanya menatapku, waktu akan terasa lebih lambat.”
Rafa mengangguk pelan. “Jadi, bukan jarumnya yang lambat, ya?”
“Bukan,” jawab jam, “Kamu saja yang terlalu sering melihatku.”
Rafa tertawa kecil. Ia lalu mengambil buku cerita kesayangannya dan membaca kisah tentang petualangan di hutan. Tak terasa, ia tertidur sebentar.
Ketika bangun, ia tidak langsung bertanya. Ia membantu Ibu menata piring dan gelas untuk berbuka. Jam dinding memperhatikan Rafa dengan senang.
“Aku belum tanya jam berapa,” bisik Rafa pada dirinya sendiri. Ia mengambil sapu kecil dan membersihkan remah di lantai. Ia juga membantu Ayah menyiapkan kurma.
“Rafa hebat sekali hari ini,” puji Ibu.
Rafa tersenyum bangga. Tak lama kemudian, suara azan magrib terdengar dari masjid dekat rumah. Rafa terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah jam dinding.
Jarumnya tepat menunjuk angka enam. “Kita sudah sampai,” kata jam dinding pelan.
Rafa tersenyum lebar. “Terima kasih sudah menemaniku.”
“Sama-sama,” jawab jam. “Lihat! Waktu tetap berjalan. Kamu hanya perlu bersabar mengikutinya.” Rafa mengangguk. Ia mengambil kurma dan berdoa sebelum berbuka.
Saat manis kurma menyentuh lidahnya, Rafa merasa sangat bahagia. Bukan hanya karena lapar dan hausnya hilang, tetapi karena ia berhasil menunggu dengan sabar. Malam itu, sebelum tidur, Rafa berdiri di bawah jam dinding lagi.
“Sekarang jam berapa?” tanyanya pelan. Jam dinding hampir protes, tetapi Rafa segera melanjutkan, “Tidak perlu jawab. Aku tahu waktu akan berjalan seperti biasa.”
Jarum jam terus bergerak. Tik… tik… tik… Kali ini, bunyinya terdengar seperti tepuk tangan kecil. Rafa tersenyum. Ia belajar satu hal hari itu: waktu tidak pernah lambat atau cepat. Yang perlu belajar bergerak adalah hatinya, agar lebih sabar. Sejak itu, setiap kali berpuasa, Rafa tidak lagi bertanya setiap lima menit. Ia tahu, berbuka akan tiba tepat pada waktunya.

Cerita yang menarik sekali. Ketika jam berkata-kata, anak pun kehilangan kata-kata. Hihi