Oleh: Kak Rin Iroeta
Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan username Rin Iroeta. Cerita ini ditulis sebagai kontribusi Kak Rin dalam program Sumbang Cerita dan Puisi Anak bertema “Merdeka Sejak Hati.
“Bu Mega, aku ikut lomba cerdas cermat, ya?” Mona maju ke meja guru dan berbisik ke telinga wali kelasnya. Kepribadian yang pemalu dan tertutup, membuatnya enggan mengutarakan keinginan dengan suara yang lantang.
Bu Mega membalas bisikan Mona dengan cara berbisik juga. “Siap, Mona. Lain kali, cukup angkat tangan dari tempat dudukmu saja, ya? Belajar berani, okay?”
Mona tersenyum malu mendengar pesan dari guru kesayangannya. Ia kembali ke tempat duduk sambil melihat ke kanan dan kiri karena semua temannya sedang memperhatikan.
Mona adalah anak tunggal dari Mama Sofa dan Papa Andre. Terkadang, ia merasa gelisah karena bagi Mona perhatian kedua orang tuanya begitu berlebihan.
“Ma, aku berani di rumah sendiri. Mama dan papa berangkat aja ke reuni. Aku mau tidur,” ucap Mona sambil menutup tubuhnya dengan selimut bergambar Hello Kitty.
Mama Sofa dan Papa Andre mencoba memberi pengertian. “Nak, kenapa kamu nggak ikut? Kamu malu? Salah satu ciri orang sukses itu, kita pandai bergaul dengan orang lain. Mona ganti baju, ya? Papa tunggu di luar.”
Mona selalu takut jika bertemu dengan orang banyak. Contohnya saja ketika ia mengikuti lomba cerdas cermat tempo hari. Bu Mega berulang kali membujuk Mona bahkan menggendongnya menuju panggung. Namun, ia menolak panggilan pembawa acara.
Hu-hu-hu!
Teriakan penonton membuat tangisan Mona semakin menjadi-jadi. Ia hanya bilang maaf secara berulang-ulang. Pada akhirnya, Mama Sofa menjemput Mona ke sekolah. Gadis bermata cokelat itu tampak malu dan menutup wajah dengan tas ranselnya.
***
Hari Minggu ini kedua orang tua Mona tidak ada kegiatan di luar rumah. Mama Sofa memilih pergi ke pasar karena hendak memasak menu istimewa untuk ulang tahun Papa Andre.
“Mon, jalan-jalan ke taman, yuk! Kalau pagi begini, di sana banyak penjual camilan,” ucap Papa Andre membujuk anak tunggalnya. Semula Mona menolak, tapi ia setuju begitu mendengar kata bubur ayam. Ia suka sekali dengan menu sarapan satu itu.
Papa Andre dan Mona berjalan kaki terkadang berlari kecil menuju taman perumahan. Mereka memakai kaos lengan pendek, celana training, dan sepatu olah raga.
Taman perumahan berjarak 1,5 km dari rumah Mona. Napasnya tidak beraturan setelah sampai di depan air mancur yang terdapat di tengah-tengah taman.
Mereka menikmati suasana hingga melupakan waktu. Papa Andre bergegas mengajak Mona pulang karena matahari mulai berjalan menuju siang.
***
Rumah masih terasa sepi. Mama Sofa masih bertahan di pasar untuk membeli kebutuhan memasak selama seminggu.
Papa Andre meninggalkan Mona yang sedang asik memperhatikan perlengkapan make up mamanya.
“Mama kalau pakai lipstik cantik sekali. Kalau aku yang pakai, cantik juga nggak, ya?” Mona mengambil lipstik Mama Sofa dan membolak-baliknya. Namun, Mona jadi terkejut karena pintu kamar mandi terbuka dengan keras. Ia secara spontan menyembunyikan lipstik mamanya ke dalam saku celana.
Mona berlari menuju kamar dengan rasa takut karena terkejut. Lalu ia mendatangi cermin yang berada di seberang ranjang.
“Ini gimana, ya? Tutupnya udah kebuka, tapi mana isinya?” Mona menutup separuh matanya dan mengintip ke tabung kecil itu.
Ia berusaha mengeluarkan isi lisptik dengan berbagai cara. “Sebentar, aku ingat. Kemarin kulihat mama memutar benda ini sampai keluar isinya. Gimana, ya, caranya?”
Mona terkejut ketika lipstik Mama Sofa patah dan terjatuh di kolong ranjang. Ia meraih lipstik itu dan mencoba menyambungnya, tapi tidak bisa juga.
Mona langsung melirik celengan ayam di atas meja belajar. “Aku pecahkan saja celengan itu. Beli lipstik baru buat mama.” Mona meneteskan air mata karena kecewa dengan perbuatannya sendiri. Ketika ia mau membanting celengan ayam, Papa Andre datang dan menyarankan agar Mona jujur kepada mamanya.
“Mama bisa saja beli 10 lipstik baru, tapi kejujuran Mona lebih penting dari segalanya. satu kebohongan agar melahirkan kebohongan lainnya.” Mona memeluk papanya dan berlari mencari Mama Sofa.
Mona yang sesenggukan, mencium tangan dan kaki mamanya. Diluar dugaan, Mama Sofa tidak marah. Beliau malah kagum karena Mona telah merdeka dari rasa takut dan berani berkata jujur atas kesalahannya.
