Merawat Cio
Oleh: Kaam Aleia
Kak Kaam adalah penulis cerita di dua platform digital bidang kepenulisan. Tinggal di kota Malang, Kak Kaam cukup produktif menghasilkan karya melalui platform digital. Naskah novel dewasa pertamanya yang tuntas ditulis berjudul “Naro” bisa dibaca di Joylada Indonesia. Cerita-cerita anak dari Kak Kaam akan dimuat di web ini secara berkala.
Nara, Nano, Papa, Mama, dan si kecil Nakula baru saja pulang dari Pasar Minggu. Nano menenteng jajanan kesukaannya yang ia beli di salah satu kios.
“Pa! Boleh makan di sini?”
“Hmm! Bagaimana kalau di mobil saja? Daripada makanan Abang jatuh di jalan?” Sahut Papa.
“Oke, deh!” Jawab Nano sembari mengerlingkan mata kirinya.
“Eh, Pa! Ma! Lihat! Ada kucing. Kasihan sekali dia.”
Nara menunjuk ke sisi jalan sambil menarik sudut-sudut bibirnya ke bawah. Ia tampak begitu sedih. Seekor kucing di hadapannya berjalan pincang karena kakinya terluka.
“Boleh kita bawa kucingnya?” Tanya Nano.
“Hmm!”
Belum sempat Mama menjawab, Nara dan Nano sudah berhambur ke arah si kucing untuk menyapa dan menggendongnya.
“Boleh ya, Ma? Nanti kita obati dia. Kasihan!”
Mama tak bisa menolak permintaan kedua anaknya. Apalagi, kucing itu memang sedang membutuhkan perawatan.
“Oke! Kita bawa kucingnya. Tapi kalian harus jaga baik-baik, ya!”
“Siap, Ma!” Sahut Nara dan Nano kompak.
“Babababa…!” Si kecil Nakula mengoceh tak jelas. Namun, ia turut riang bersama kedua kakaknya.
Nara dan Nano memberi nama kucing itu. Cio! Itulah nama yang mereka pilih.
Kakak beradik itu membersihkan luka si kucing dan mengoleskan obat di permukaan kulitnya. Cio melenguh. Sepertinya ia kesakitan.
“Sst! Tidak apa-apa, Cio! Sebentar lagi kamu akan sembuh.” Nara mengelus kepala Cio dengan lembut.
Kedua bocah itu senang sekali karena memiliki peliharaan baru. Mereka tidak pernah lupa memberi makan Cio. Kini, kucing itu telah pulih sepenuhnya. Kakinya sudah tak pincang lagi.
“Cio…!” Nara berteriak histeris.
“Ada apa, Kak?” Tanya Mama.
“Ini! Cio e’ek di lantai, Ma!”
Mama tersenyum, “Bagus, dong!”
“Ih! Kok bagus sih, Ma! Kan bau?”
“Itu tandanya Cio betah di sini. Dia sedang menandai wilayahnya. Selama ini kan Cio selalu pup di pasir dalam kandang karena dia belum pernah keluar.”
“Ya! Tapi kan rumah jadi kotor, Ma.”
“Hmm! Kalau begitu kita ajari saja Cio pipis dan pup di kamar mandi.”
“Bisa?”
“Bisa, dong! Tapi Nara harus sabar. Soalnya, si Cio harus latihan dulu.”
“Oke, Ma! Terus ini gimana e’eknya si Cio?”
“Kita bersihkan sama-sama, ya!”
Nara mengangguk. Ia membantu Mama mengambil pasir dan pengki untuk memindahkan kotoran Cio.
Hari berikutnya, Nara dan Nano menaburkan serbuk kopi di tempat yang biasa Cio gunakan sebagai WC. Kata Tante mereka, kucing tidak suka aroma kopi. Jadi, Cio tidak akan buang air sembarangan di tempat yang sudah ditaburi bubuk kopi.
Pelan-pelan, Nara, Mama, dan Nano berhasil menggiring Cio dan mengajarinya untuk buang air di kamar mandi. Tentu saja proses ini butuh waktu yang cukup lama. Nyaris tiga minggu penuh, Mama dan Nara harus sabar membersihkan kotoran Cio, mulai dari lantai ruang tamu hingga lantai kamar mandi. Sekarang, Cio sudah bisa pipis dan berak di dalam WC.
Nara senang sekali karena kucingnya sudah bisa disiplin buang air. Tiga hari sekali, Cio dimandikan dengan air hangat. Tubuhnya kini makin bersih. Bulu-bulunya makin terlihat lebat dan memanjang.
Tepat tiga hari setelah Cio lulus pelatihan buang air, Nara kembali dikejutkan dengan adanya kotoran yang tercecer di lantai kamarnya.
“Mama!” Teriaknya.
“Ada apa, Sayang?”
“Adek Nakula sedang menandai wilayah tuh, Ma!” Mulut Nara mengerucut, jempol dan telunjuknya menjepit hidung. Mukanya tampak sangat kesal.
Mama pun tertawa terbahak-bahak.
“Ya ampun Kakak, kamu pikir si Nakula kucing?”
