Misi Penyelamatan

Misi Penyelamatan

Oleh: Rizka Amaliah
(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)

Sabtu sore, para binatang telah lelah berburu. Mereka berjalan pelan menuju sarang masing-masing. Tak disangka, di beberapa sisi hutan, jebakan telah menunggu.

“Hai, Lambat! Aku duluan, ya,” sapa kelinci pada kura-kura.

Kura-kura mengangguk tersenyum. Ia sudah terbiasa diejek karena jalannya yang lambat. Beberapa binatang juga melewatinya. Kancil berlari dan melompat dengan cepat. Semua binatang meninggalkan kura-kura sendirian di belakang. Hanya Birdi si bangau yang mau menemani kura-kura. Ia berjalan pelan di sisinya sembari mengobrol.

“Aarg…” Tiba-tiba terdengar suara teriakan di kejauhan.

“Suara apa itu?” tanya Birdi penasaran.

Tori, si kura-kura, juga turut pasang telinga.

“Sepertinya suara teriakan. Apa kamu bisa melihatnya?” pinta Tori.

“Kamu tak apa sendirian?” kata Birdi.

“Tak apa, aku akan menyusul.” Tori mengangguk yakin.

Birdi terbang menuju asal suara. Rupanya, Keli si kelinci dan bayinya terperangkap jebakan. Saat Tori hendak menolong mereka, pemburu datang. Ia membawa senapan panjang. Pemburu itu memasukkan Keli dan anaknya ke dalam karung. Birdi bergidik ketakutan. Ia kemudian terbang kembali ke arah Tori.

“Ada apa?” tanya Tori.

“Keli dan anaknya masuk jebakan. Pemburu membawa mereka pergi,” jawab Birdi.

“Lalu kenapa kamu masih di sini? Cepat ikuti mereka, Birdi! Jangan sampai terlambat! Aku akan menyusul di belakangmu. Beri aku kode supaya aku bisa melihatmu dari jauh!” Tori dengan sigap meminta Birdi membuntuti pemburu.

“Oke, aku akan merentangkan sayapku sesekali. Jadi, kamu tak akan kehilangan jejak,” jelas Birdi.

Tori mengangguk. Birdi pun segera melesat mengikuti sang pemburu. Pelan-pelan Tori mengikutinya di belakang.

Tengah hari, Tori baru bisa menyusul Birdi ke tempat para pemburu. Ia melihat sebuah karung tergeletak di tanah.

“Sst… Itu mereka.” Birdi menunjuk ke arah karung.

“Ke mana para pemburu?” tanya Tori.

“Entahlah, mungkin sedang beristirahat. Ada empat karung berisi para binatang. Aku tak bisa melepas talinya.” Birdi mengeluh.

Perlahan Tori menghampiri karung-karung itu. Moncongnya yang tajam bisa memotong tali pengikat karung. Binatang-binatang itu pun berhasil lolos. Mereka berterima kasih pada Tori. Kancil, tapir, dan babi segera pergi dari tempat si pemburu. Hanya kelinci yang kebingungan.

“Kamu kenapa Keli?” tanya Tori.

“Aku takut bayiku tak bisa berlari dengan cepat, ” ratap Keli.

“Birdi, apa kamu bisa menggendongnya terbang? Kamu bisa membawanya dengan karung.” Tori menatap wajah Birdi.

“Hmm… Tentu bisa. Aku yang akan membawa bayimu.”

Birdi segera menggigit ujung karung yang berisi bayi Keli. Mereka pun pergi menjauh dari tempat pemburu. Saat Birdi dan Keli sudah cukup jauh, mereka menoleh ke belakang. Rupanya, Tori tertinggal sangat jauh. Keli pun merasa bersalah. Ia ingin membalas kebaikan Tori. Kelinci itu kemudian teringat akan sesuatu. Ia berlari dan melompat kembali ke halaman markas pemburu.

“Keli, mau ke mana? Jangan kembali ke sana. Bahaya!” teriak Tori saat Keli melesat melewatinya.

Kelinci itu tak menjawab. Beberapa saat kemudian ia telah mendorong sebuah truk mainan kecil. Truk itu diambilnya dari halaman markas pemburu. Mungkin itu truk milik anak mereka.

Keli kemudian menaikkan Tori ke dalam truk. Ia mendorong Tori sekuat tenaga. Mereka akhirnya selamat. Tori, Keli, dan Birdi saling berterima kasih. Mereka pun menjadi sahabat. Ketiganya berjanji akan saling membantu saat ada kesulitan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *