Garuda Terakhir

Garuda Terakhir

Oleh: Rizka Amaliah

(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)

Piku si merak kecil sedang mencari makanan di sisi utara hutan. Ia senang sekali karena menemukan tanah gembur yang penuh cacing. Piku juga membawakan beberapa ekor cacing untuk adik-adiknya yang menunggu di sarang.

Saat sedang asyik melenggok pulang, Piku dikejutkan oleh sebuah gerakan cepat ke arahnya. Seekor burung garuda mendarat di atas tubuh Piku. Cakarnya yang besar mencengkeram Piku dan mengangkatnya ke udara. Merak itu spontan berteriak. Cacing-cacing di paruhnya pun berjatuhan ke tanah.

“Siapa kamu? Kenapa kamu membawaku terbang?” Setelah tenang, Piku bertanya dengan tegas.

Makhluk itu hanya menunduk dan mempertajam sorot matanya. Ia tak menyahut. Piku menjadi kesal karenanya.

“Hei, burung besar! Kamu mau membawaku ke mana, sih?” Piku kembali bertanya dengan nada tinggi.

“Jangan berisik! Kamu akan jadi makan siangku,” jawab binatang besar berwarna cokelat itu.

Glek

Piku menelan ludah. Ia tak menyangka bahwa burung besar itu adalah predator. Piku kemudian memutar otaknya untuk menyelamatkan diri.

“Hmm… Sebenarnya, aku juga sedang membawakan makanan untuk adik-adikku. Tapi, gara-gara kamu, mungkin adik-adikku akan kelaparan.” Suara Piku melirih.

Tak disangka, burung besar itu kemudian berhenti dan hinggap di sebuah dahan besar. Ia meletakkan Piku di sisi kanan. Merak itu hampir saja tergelincir. Ia tak terbiasa naik ke pohon setinggi itu.

“Apa kamu bilang tadi? Kamu bawa makanan untuk adik-adikmu?” Raut wajah burung itu berubah murung.

“Eh, kamu kenapa?” Piku terlihat penasaran.

“Namaku Gara. Aku mungkin adalah garuda terakhir yang ada di bumi.” Gara mendongak, menatap langit.

“Semua keluargamu, ke mana?” tanya Piku.

“Aku keturunan terakhir. Ayah dan Ibuku sudah meninggal saat aku masih kecil. Mungkin, kalau aku memakanmu, adik-adikmu juga akan bernasib sepertiku.”

“Kau pasti merasa kesepian.” Piku kasihan melihat Gara.

“Iya. Aku tak punya teman,” keluh Gara.

“Apa kamu mau jadi temanku? Nanti kukenalkan pada keluargaku.” Piku bertanya dengan ragu-ragu.

“Bolehkah?” Gara tampak tak percaya.

“Tentu saja boleh. Di Ujung Kulon ini, ada banyak binatang yang pasti mau jadi temanmu.” Piku tersenyum riang.

Gara pun mengangguk. Ia kemudian kembali mencengkram tubuh Piku. Kali ini, cengkeramannya terasa lebih lembut. Mereka terbang rendah menuju sarang Piku.

“Hmm… Ada satu masalah, Gara.” Tiba-tiba Piku menegur Gara saat mereka masih berada di udara.

“Masalah apa? Perlukah kita bicarakan dulu?”

“Tidak usah! Aku hanya ingin minta tolong. Tadi, cacing-cacing yang sudah kukumpulkan sudah jatuh saat kau menyergapku. Jadi, bisakah kita mendarat di tempat berburu cacing dulu?”

“Tentu saja bisa.” Gara berbelok tajam ke arah tempat penyergapan awal tadi.

Mereka kemudian berburu bersama dan mendapatkan puluhan ekor cacing. Gara juga mencoba makanan para unggas itu.

“Hmm… Enak. Sepertinya, ini akan jadi menu favoritku.”

Piku dan Gara kemudian tersenyum. Mereka melanjutkan perjalanan menuju sarang Piku dengan riang gembira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *