Reihan, Asoo, dan Kuas Ajaib
Penulis: Lizzam Sekar N.H
(Kak Lizzam adalah seorang penulis novel di platform online sekaligus mahasiswa jurusan seni dan desain. Selain menulis novel untuk orang dewasa, Kak Lizam juga menaruh perhatian yang tinggi pada dunia sastra anak. Ia tak hanya menulis cerita untuk anak-anak, tetapi juga kerap berpartisipasi dalam kegiatan mendongeng secara online. Ilustrasi-ilustrasi buatannya juga keren banget. Cerita ini merupakan cerpen pertamanya di saungkanak.com)
Di sebuah kota kecil, ada seorang anak bernama Reihan yang sangat suka melukis. Meskipun masih sangat muda, Reihan memiliki kekurangan pada pengelihatannya, sehingga harus menggunakan kacamata.
Suatu hari, Reihan yang tengah bersantai menunggu waktu makan siang tiba menggambar sesuatu pada secarik kertas. Gambar dan lukisan yang Reihan buat selalu terlihat bagus. Oleh karena itu, Reihan bisa dibilang memiliki bakat dalam melukis.
Ketika tiba saatnya makan siang. Reihan dipanggil oleh Ibunya. Ia langsung bergegas menuju ruang makan. Namun, karena sudah tidak sabar menunggu, Reihan lupa mengemas kamarnya terlebih dahulu.
Setelah selesai makan siang, Reihan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil mainan dan pergi bermain di luar rumah. Tak lama setelahnya, ibu Reihan yang melihatnya pergi keluar untuk bermain, langsung mengecek kondisi kamar Reihan.
Ketika sang Ibu sampai di kamar, ternyata kondisi kamar Reihan begitu berantakan. Gumpalan kertas berserakan dimana-mana. Selain itu, cat serta alat melukis pun terlihat berceceran memenuhi kamar.
Saat ibu Reihan mulai membereskan kamar anaknya tersebut, ibu Reyhan tidak sengaja melihat kuas yang terlihat begitu kotor dan usang. Karena merasa kuas itu sudah tak layak dan rusak, sang ibu akhirnya membuang kuas tersebut ke dalam tong sampah.
Dan… ketika tidak ada orang di sekitar yang memperhatikan, kuas tersebut tiba-tiba saja hidup dan mulai bergerak. Kuas itu ternyata adalah kuas ajaib!
Si kuas ajaib pun begitu terkejut ketika mendapati dirinya yang kini berada di dalam tong sampah. Ketika si kuas ajaib melihat ke sekeliling, ia malah menemukan banyak hewan menjijikan!
Di dalam tong sampah itu, terdapat banyak kawanan belatung, kelabang, bahkan kecoa yang berusaha mendekati si kuas ajaib. Namun, hal tersebut malah membuat si kuas merasa ketakutan. Si kuas ajaib pun berusaha membuka penutup tong sampah tersebut dengan kekuatan ajaib miliknya, akan tetapi usahanya itu gagal.
Beruntung, saat kawanan serangga penghuni tong sampah itu hampir menyentuh si kuas ajaib, seseorang datang dan membuka penutup tong sampah tersebut. Ia adalah tukang angkut sampah yang sedang melaksanakan tugas sehari-harinya.
Singkat cerita, si kuas ajaib yang sudah berhasil selamat dari tong sampah itu, akhirnya ikut terbuang bersama tumpukan sampah lainnya. Kini, si kuas ajaib berada di sebuah tempat pembuangan akhir yang dipenuhi gundukan sampah berbau tidak sedap.
Si kuas ajaib pun memiliki sebuah ide dan berniat kabur agar bisa kembali kepada Reihan. Namun sayang sekali, gerak-gerik anehnya itu diketahui oleh seekor anjing yang tengah mencari makanan bernama Asoo. Anjing bernama Asoo itu pun, tertarik dengan gerakan si kuas ajaib yang mirip dengan mainan favoritnya.
Asoo langsung menyambar si kuas ajaib seketika dan mengigitinya erat-erat. Asoo akhirnya membawa pergi si kuas ajaib dari tempat pembuangan sampah, karena mengira kuas tersebut adalah ranting kayu yang bisa ia jadikan mainan.
Di lain tempat, Reihan baru saja selesai bermain. Kini ia sibuk mencari kuas kesayangannya yang sudah tidak ada pada tempatnya. Reihan dengan panik menanyakan keberadaan kuasnya kepada sang ibu. Namun, ibunya berkata bahwa kuas usang tersebut sudah ia buang.
Reihan merasa terkejut serta hampir saja menangis. Sebab, kuas ajaib itu adalah salah satu kuas favorit yang biasa ia gunakan.
Oleh sebab itu, Reyhan merasa sedikit kesal kepada sang ibu. Namun, ia teringat akan jadwal pengambilan sampah rutin di lingkungannya.
Reihan pun akhirnya mengecek tong sampah yang berada di depan rumahnya. Sayang sekali, ia hanya menemukan tong sampah yang sudah kosong.
Tanpa basa-nasi, Reihan langsung mencari kuas miliknya ke tempat pembuangan akhir dengan mengayuh sepeda. Namun, lagi-lagi Reihan tidak bisa menemukan kuasnya di mana pun. Reihan yang kecewa memutuskan untuk pulang. Ia duduk di depan rumahnya, sambil meratapi kuas ajaib kesayangannya yang kini sudah hilang.
Setelah merenung cukup lama di depan teras, Reihan mencoba mengurungkan niatnya. Namun, baru saja bocah itu berniat membalikan badan, ia melihat anjing milik tetangganya, yaitu Asoo, sedang menggigit-gigit sesuatu.
Reihan mencoba memperhatikan Asoo lebih dekat, karena menyadari bahwa yang sedang berada di mulut Asoo adalah setangkai kuas ajaib miliknya.
Reihan akhirnya memberanikan diri untuk mendekati Asoo. Namun, Asoo malah menggonggong galak kepada Reihan karena anjing tersebut tidak mau mainan barunya diambil. Namun, Reihan tidak putus asa. Anak itu berusaha mencari cara agar Asoo mau melepaskan kuas ajaib miliknya.
Reihan yang cerdas pun pergi ke minimarket dengan mengayuh sepedanya untuk membeli sekantong makanan khusus untuk anjing.
Sesampainya kembali di depan rumah, Reihan langsung memberikan makanan tersebut kepada Asoo. Namun, Asoo terus bersikap protektif pada kuas ajaib yang ia anggap sebuah mainan. Saat Reihan berusaha mengendap-endap untuk mengambil kuasnya kembali, Asoo malah menggonggong galak dan segera mengejarnya.
Reihan tidak berputus asa, malahan ia semakin semangat untuk membujuk Asoo. Reihan memberikan sebuah mainan yang jauh lebih bagus untuk Asoo, untuk menggantikan kuas miliknya yang dianggap sebagai mainan.
Reihan pun mencoba memancing Asoo untuk melihat mainan anjing yang sedang ia pegang. Saat Asoo mulai melirik ke arahnya, bocah itu mulai menggoyangkan mainan tersebut, berharap agar Asoo melepaskan kuasnya. Namun di luar dugaan, Asoo malah terlihat tidak tertarik dan tetap menggigit kuas milik Reyhan seolah-olah tidak mau melepaskannya.
Tak kehabisan akal, Reihan mencoba mengeluarkan sebuah petasan. Ia pun melemparkan petasan tersebut ke sembarang arah. Percikannya nyaris saja mengenai Asoo.
Akibat ledakan dan percikan dari petasan tersebut, Asoo yang kaget pun tidak sengaja melepaskan kuas tersebut dari gigitannya. Hal tersebut dimanfaatkan Reihan untuk mengambil kembali kuasnya. Namun tetap saja, saat Reihan hampir saja berhasil mengambil kuas itu, Asoo langsung menyambarnya kembali dan berlari menjauhi Reihan.
Saat matahari mulai terbenam di arah barat, Reihan yang merasa sangat kesal pun berniat mengambil sebuah batu untuk dilemparkan ke Asoo. Akan tetapi, saat sudah mendapatkan batu dan mengejar Asoo yang sibuk berlarian, Reihan malah tersandung oleh sebuah batu besar. Hal itu membuatnya jatuh tersungkur, hingga mengakibatkan kacamatanya terlempar jauh dan retak.
Reihan yang kesulitan mencari keberadaan kacamatanya pun mulai merangkak perlahan sambil meraba-raba tanah sekitar. Si kuas ajaib yang sedari tadi diam saja juga mulai merasa iba kepada pemiliknya itu. Kuas ajaib tersebut memiliki sebuah rencana untuk melepaskan diri dari gigitan Asoo.
Si kuas ajaib berusaha menggelitik hidung Asoo dengan debu-debu dari bulu kuasnya. Hal ini membuat Asoo bersin dan tak sengaja membuat si kuas ajaib terlempar keluar dari mulutnya.
Setelah berhasil melepaskan diri dari gigitan Asoo, si kuas ajaib pun berusaha menolong Reihan dengan memengaruhi pikiran Asoo melalui kekuatan ajaibnya. Asoo yang sudah berada dalam pengaruh si kuas ajaib pun berusaha menolong Reihan dengan cara menuntunnya kembali ke dalam rumah. Tak lupa pula, si kuas ajaib mengembalikan kacamata Reyhan yang retak seperti sedia kala.
Di sisi teras rumahnya, Asoo memberikan kacamata Reihan yang telah kembali seperti semula. Namun, saat Reyhan mengenakan kembali kacamatanya, ia melihat bahwa Asoo lah yang telah membantunya. Reihan yang baik hati pun langsung tersenyum, kemudian memeluk Asoo sambil mengelus bulu lebatnya.
Tak berselang lama, tetangga Reyhan yang sedang mencari Asoo pun membawa pulang kembali anjing miliknya itu. Sambil tersenyum, Reihan melambaikan tangan ke arah mereka saat keduanya mulai berjalan menjauh.
Setelah itu, ibu Reihan keluar dari rumah untuk mengajak anaknya masuk. Ibu Reihan meminta maaf karena telah membuang barang milik Reihan tanpa bertanya terlebih dahulu. Kemudian, Ibu Reihan berjanji untuk membelikannya kuas yang baru. Namun, anak itu malah menggeleng.
Saat kembali ke dalam kamarnya, Reihan menemukan kuas kesayangannya masih tergeletak di sebelah lukisan, yang belum sempat ia bereskan tadi. Reihan pun bergegas memanggil sang ibu dan berseru bahwa kuasnya telah kembali.
Sambil menunjukkan hasil gambarnya yang telah selesai, Reihan akhirnya memeluk ibunya dan meminta maaf karena sempat merasa kesal kepadanya. Sang ibu pun langsung memeluk Reihan sambil memperhatikan gambar yang telah diselesaikan oleh Reihan dan tersenyum. Mereka akhirnya memajang gambar tersebut di kamar Reihan. Lalu, sesaat kemudian, si kuas ajaib terlihat memancarkan sekelebat cahaya yang berkilauan.
