Mendadak Diet
Oleh: Kak Rin Iroeta
Kak Rin Iroeta adalah salah satu penulis produktif yang banyak berkarya di platform penulisan digital. Buku-buku hasil karyanya adalah Catatan Pendek untuk Akasara (2022— juara tiga lomba pentigraf), Cinta Sampai Mati (2022— mengikuti event menulis bersama antologi pentigraf), dan Senja di Kota Teh Obeng (2022— sebuah antologi puisi bersama para alumni kampus). Karya digitalnya dapat dinikmati pada platform Joylada dan KBM (Komunitas Bisa Menulis) dengan username Rin Iroeta.
Pintu rumah Sekar berbunyi ketukan beberapa kali. Ia pun keluar kamar dan berlari kencang.
“Assalamu’alaikum. Ayahnya ada?” tanya Pak RT dengan singkat.
Sekar menyahut dengan semangat, “Ayah lagi ke rumah Nenek, Pak RT.”
“Kalau gitu, berikan ini kepada Ayah, ya,? Atau ke Mama juga boleh.”
Sekar mengambil sepucuk surat undangan dengan tangan kanannya. Lalu Pak Hasbi, sang ketua RT, pamit pulang.
“Undangan kerja bakti kampung.” Begitulah Sekar membacanya. Matanya langsung berbinar karena ia memang sangat menyukai bersih-bersih. Mirip sekali seperti sang mama.
Mama Ayu yang baru selesai masak menghampiri Sekar dan menanyakan penyebab kegirangan anaknya. Gadis cilik yang masih duduk di kelas 4 SD itu memberikan undangan dari Pak RT kepada Mama Ayu.
“Ayo baca, Ma! Sekar mau tau isinya.”
“Kerja bakti akan diadakan pada hari Minggu,” jelas Mama.
Sekar mulai bertanya, “Sekar boleh ikut, kan? Berani kotor itu baik, Ma.” Semangatnya begitu membara.
“Ini membersihkan got juga, loh, Sekar. Memangnya nggak takut bau?” tanya Mama Ayu.
“Ngggak, Ma. Sekar boleh ikut, ya?”
Mama Ayu mengangguk sambil tersenyum.
“Ma, tapi biasanya kalau kerja bakti pas hari kemerdekaan aja, kan? Sekarang kok ada juga?”
“Tempo hari, anak Bu Wati terserang demam berdarah. Mungkin karena itu diadakan bersih-bersih kampung. Kita juga harus lebih rajin membersihkan rumah, ya?”
Sekar mengiyakan nasihat mamanya dan mereka pun melanjutkan kesibukan masing-masing.
**
Sekar pergi ke gudang untuk membantu ayahnya mengambil sekrop, karung, sepatu bot, cikrak, dan sapu lidi. Ayah dan anak itu bergotong royong menyiapkan kebutuhan untuk kerja bakti kampung.
Di dapur umum, Mama Ayu dan ibu-ibu lainnya memasak nasi serta lauk untuk menjamu para warga yang akan melaksanakan kegiatan kampung.
Selain bermanfaat untuk kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga dapat mempererat hubungan antartetangga. Canda tawa dan keakraban yang hangat menyebar di penjuru Kampung Madya.
Tepat pukul 6 pagi, para warga memulai aktivitas mereka . Satu per satu got dibersihkan menggunakan cangkul. Lalu, semua kotoran dimasukkan ke dalam karung.
“Yah, kok banyak banget sampahnya? Itu ada plastik es. Yang hitam itu kayaknya kresek. Ada sedotan juga, Yah. Kenapa bisa sampai di got gitu?” Begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan setelah melihat kondisi got di depan rumahnya.
Ayah Mahmud mengusap keringat di dahi, “Ketika kita membuang sampah sembarangan, plastik jajan misalnya, mereka akan terbang ke sana sini terbawa angin. Ada yang mendarat di got, di sungai, dan beberapa tempat yang lain. Makanya selain harus membuang sampah pada tempatnya, kita juga harus diet plastik.”
“Diet plastik? Apa itu, Yah? Diet kan untuk manusia biar kurus?” Pertanyaan Sekar yang menggelitik membuat Ayah Mahmud terkekeh.
“Gini, Sekar. Diet plastik itu kita harus lebih bijak memakai bahan-bahan berbahan plastik. Salah satu contoh paling mudah, kalau belanja ke pasar atau supermarket, kita harus membawa tas sendiri dari rumah. Biasanya tas itu berbahan kain atau kanvas. Jadi, bisa digunakan berulang kali.”
Sekar menganggukkan kepala pertanda memahami segala informasi yang diberikan oleh ayahnya. Ia pun lebih bersemangat mengikuti kerja bakti.
Keesokan pagi, Mama Ayu mengajak anak semata wayangnya berbelanja keperluan dapur ke pasar tradisional terdekat. Tanpa menolak, Sekar langsung beranjak dari ruang bermainnya. Ia berjalan ke dapur dan membuka laci paling bawah untuk mencari sesuatu.
Ayah Mahmud yang sedang membuat kopi mengetahui kebingunan anaknya. Ia pun bertanya, “Sekar cari apa, Nak? Coba bilang, siapa tau ayah bisa bantu.”
“Itu, Yah. Yang Ayah bilang kemarin. Aku mau ke pasar sama Mama.” Jawaban Sekar masih membuat Ayah Mahmud tidak paham. Gadis kecil itu terlalu fokus dengan pencariannya sehingga menjawab pertanyaan dengan asal.
Mama Ayu berjalan menuju dapur untuk memanggil Sekar, “Nak, ayo berangkat. Sekar ngapain di sana? Ada yang dicari?”
“Itu, Ma …” Ucapan Sekar terpotong. Ia merogoh laci dalam-dalam dan sepertinya meraih sesuatu.
Mama Ayu dan Ayah Mahmud saling memandang karena bingung melihat tingkah anaknya.
“Tara! Ini yang Sekar cari. Tas kain untuk belanja. Kita harus diet plastik! Betul, kan, Yah?”
Ayah Mahmud terbahak dan merasa kagum melihat sikap anaknya yang begitu peduli dengan lingkungan.
“Untung aja Sekar ingat bawa tas belanja. Anak mama memang hebat!” Puji Mama Ayu.
