Jemaah Subuh

Jemaah Subuh
(Cerpen Spesial Ramadan)
Oleh: Rizka Amaliah

Hari ini, akan ada tadarus panjang hingga subuh. Bad, E’eng, dan Amir sepakat untuk menginap lagi di surau.

“Aku harus bawa selimut biar nggak kedinginan!” ujar Bad.

“Kamu mau pindah tidur atau tadarus sih, Bad!” E’eng meledek.

“Ya! Daripada kedinginan! Ntar kalau mulutku keriting terus nggak jadi tadarus, gimana?”

“Nggak usah kedinginan juga udah keriting! Hihihi…!” Amir turut meledek Bad.

“Huh! Dasar kalian!”

Usai mengobrol, mereka pun pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan bekal menginap dan alat salat. Bad tetap kukuh dengan keingannya untuk membawa selimut.

“Awas aja kalau sampai ada yang ikutan pinjam!” gerutunya.

Gema azan maghrib berkumandang nyaring. Anak-anak riuh berbuka puasa di rumah masing-masing. Amir dan E’eng sengaja makan tak terlalu banyak agar tidak sakit perut atau mengantuk saat tadarus. Bad? Tentu saja ia tak bisa berhenti mencicipi seluruh menu yang tersedia di meja. Bocah itu sampai hampir tak bisa bangun dari duduknya saat hendak salat maghrib berjemaah.

Salawat jelang azan isya melantun dari toa di surau Pak No. Bad, Amir, dan E’eng yang sudah berpakaian rapi berpamitan pada ayah-ibu masing-masing. Amir dan E’eng berangkat ke surau dengan berjalan kaki. Sementara, Bad harus minta diantar ayahnya karena membawa selimut tebal yang cukup berat.

Seperti biasa, anak-anak melaksanakan tarawih dengan khusyuk. Hanya ada beberapa bocah di belakang yang cekikikan saat Jemaah lain sedang menyimak bacaan imam. Entah apa yang mereka bincangkan hingga suara tawa itu terdengar sampai saf paling depan.

Usai tarawih, sebagian jemaah pulang ke rumah masing-masing. Sebagian lagi tinggal untuk bertadarus. Mereka membuka halaman awal surat Maryam dan bergantian mengaji dengan suara lantang. Saat satu orang tengah mengaji yang lain akan menyimak dengan seksama dan membetulkan ketika ada bacaan yang salah.

Pukul sebelas malam, Bad mulai menguap.

“Kalau nggak kuat, tidur aja sana! Nanti lanjut lagi setelah subuh!” ujar Mas Imam.

“Eh! Iya, Mas!”

Bad agak salah tingkah karena ketahuan mengantuk. Ia memaksa kelopak matanya untuk tetap terbuka. Sayang, hal itu sulit dilakukan. Bad bolak-balik menguap dan akhirnya menyerah. Ia tidur di pojokan surau dan membeber selimutnya sebagai alas sekaligus penutup tubuh. Sekarang, Bad nyaris seperti kepompong. Ia juga terlelap dengan cepat.

“Bad! Bad! Bangun! Subuh! Salat dulu! Terus tadarus lagi!” E’eng membangunkan kawannya itu dengan mengguncang-guncang tubuhnya. 

Bad tak segera bangun. Amir mengangkat alisnya. Tampaknya ia punya ide untuk membangunkan kepompong tidur itu. Amir mengambil segelas air dan memercikkannya ke muka Bad.

“Aduh! Aduh! Ada badai!” Bad berteriak setengah mengigau.

Anak-anak di surau pun tertawa. Bad terkejut. Saat membuka mata, anak-anak lain sudah siap dengan sarung dan peci. Sementara, dia masih meringkuk di dalam selimut. Bocah itu segera berlari ke arah kamar mandi, membasuh muka dan berwudu. Untung saja ia masih tak terlambat, masih bisa menjadi makmum masbuk.

Pak No yang menjadi imam membaca surat yasin di rakaat kedua. Meski tak sampai tuntas karena cukup panjang, tetapi pilihan surat yang dibaca Pak No membuat salat terasa lebih lama. Bad beberapa kali menguap. Meski begitu, ia tetap mengikuti semua gerakan salat. Sampai akhirnya, imam mengucap takbir dan bersujud, lalu duduk di antara dua sujud, dan bersujud lagi.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh..!” ucap Imam mengakhiri salat, diikuti para makmum.

Setelah itu, semua Jemaah khusyuk berdoa. Hanya Bad yang masih terus bersujud. Amir dan E’eng saling mengangkat kepala.

“Si Bad kenapa? Sujud nggak selesai-selesai!” tanya Amir.

“Khusyuk berdoa mungkin!” jawab E’eng.

“Nggak mungkin! Coba kamu colek!”

Benar saja! Setelah dicolek, tak ada respons sedikit pun dari Bad. Beberapa menit kemudian terdengar suara.

“Tiuuut…!”

“Ya ampun, Bad! Kamu kentut?” E’eng mendorong tubuh Bad hingga terguling.

Rupanya mata bocah itu terpejam. Bad tertidur! Ia mengucek matanya. Semua mata kini tertuju pada bocah itu.

“Sudah! Sudah! Bad! Wudu lagi sana! Terus salat lagi!” Pak No menengahi.

Jemaah lain tentu saja terkekeh menahan tawa. Mereka tak bisa melepas tawa karena harus menutup hidung masing-masing.

4 comments

  1. Ceritanya bagus dan sangat menginspirasi. Cerita ini mengajarkan untuk tidak rakus saat berbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *