Oleh: Kak Masrifa
Kak Masrifa pernah mengenyam Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Wanita penyuka puisi ini, aktif menulis lagi dalam setahun terakhir. Ia mengikuti beberapa lomba dan program menulis bareng. Aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, tidak menutup hasratnya untuk tetap berproses dalam dunia satra.
Empat puluh hari lamanya, Vemas telah menjadi yatim piatu. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan bus. Keceriaan Vemas mendadak hilang, berganti dengan amarah yang siap meledak setiap saat.
“Nek, itu suara apa? Berisik!” Teriakan Vemas terdengar hingga teras rumah peninggalan kakeknya. Rumah itu berukuran 5×6, hanya memiliki satu kamar. Nenek Asih mendapat bantuan dari Pak RT. Sebuah ranjang kecil ditaruh di ruang tamu sebagai tempat tidur. Selimut tebal milik kakek menjadi solusi tiap kali cuaca dingin menyerang tubuh nenek.
Nilai Vemas menjadi turun, keaktifan di kelas sudah tidak terlihat lagi. Teman sekelasnya mencoba menghibur, tapi Vemas menghindar. Ia pernah melempar buku tanpa sebab kepada teman sekelas yang sedang bergurau. Ada apa dengan Vemas?
“Man, radio ini sangat bersejarah. Kamu membelinya dengan susah payah, menabung hingga lima bulan hanya untuk menghidupkan dunia Ibu.” Nenek Asih membersihkan radio sambil menahan air mata untuk mengingat perjuangan Ayah Vemas.
Radio tua berisik yang diadopsi dari pasar bekas menjadi teman nenek sehari-hari. Ia mencuci baju milik para pelanggan sambil mendengarkan lagu keroncongan, ceramah pagi, dan siaran berita.
Vemas pernah memukul radio milik nenek dengan keras, sehingga membuat wanita baya itu lebih berhati-hati. Nenek Asih memilih sembunyi-sembunyi jika mendengarkan radio, sampai-sampai dirapatkan pada telinga.
Suatu malam sepulang mengaji, Vemas meluapkan amarah. Ia melempar tas ke kamar yang remang-remang. Nenek Asih meraba-raba dinding menuju Vemas karena terlupa menaruh tongkat penopang. Penglihatan nenek terganggu karena penyakit glukoma.
“Kenapa, Nak? Datang mengaji kok malah marah-marah?” Nenek Asih mencoba menyentuh wajah Vemas untuk membaca ekspresi cucunya.
Vemas mengusir tangan nenek, “Pokoknya besok aku harus beli sepatu!”
“Sepatumu udah rusak, ya? Kalau besok, belum punya uang. Maafkan nenek tua ini yang nggak bisa selalu memenuhi keinginanmu. Uang nenek baru bisa terkumpul lima hari lagi. Kamu sabar, ya!”
Vemas meninggalkan Nenek dan berteriak, “Kalau begitu, aku nggak mau sekolah sampai beli sepatu baru.”
Keesokan hari, nenek menjadi khawatir. Ucapan Vemas tidak main-main, segala bujuk rayu tidak berhasil. Bocah keras kepala itu tidak mau berangkat sekolah.
Vemas mendapat kunjungan dari wali kelasnya karena ia tidak masuk sekolah selama dua hari. Nampaknya, surat izin yang dititipkan nenek kepada teman Vemas, belum tersampaikan.
“Iya, Nek. Rudi juga tidak masuk dua hari ini. Ia sakit. Ketika ibunya menelepon untuk mengizinkan, tidak berpesan apa-apa tentang Vemas. Mungkin beliau lupa,” ucap Bu Andini.
Nenek menjelaskan alasan Vemas tidak masuk sekolah dan Bu Andini menyarankan agar memakai alas kaki seadanya. Bocah penyuka sepak bola itu hanya tertunduk malu dan berjanji akan masuk sekolah lagi.
Nenek sengaja menambah pesanan cuci baju demi mengumpulkan uang untuk membeli sepatu cucu kesayangannya. Tangan keriput itu terus mengucek-ngucek baju yang menumpuk di bak kotor. Sakit badan tidak lagi ia rasakan.
Ranjang berbahan jati belanda menjadi saksi kesakitan Nenek Asih karena tenaganya yang terkuras beberapa hari ini. Ia hanya berteman sepi dan harapan-harapan yang masih menggantung di langit.
“Aku hanya ingin Vemas kembali ceria.” Matanya berlinang menatap langit-langit rumah.
Mentari mulai mengepung rumah yang penuh kenangan. Nenek Asih terkejut ketika membangunkan cucunya, Vemas demam. Nenek bergegas ke dapur membuat bubur dan mengambil obat tanpa menghiraukan sakitnya.
Vemas terus memandang neneknya. Mata sipit itu tampak berkaca-kaca dan mendadak menuruti permintaan nenek untuk makan bubur serta minum obat.
“Maaf, kalau kamu sakit gara-gara belum bisa beli sepatu. Besok kita beli, ya? Nanti nenek pinjam uang dulu ke Bu Dara.” Nenek Asih meraih tongkat dan pergi ke dapur.
Vemas bergumam dan menyeka air mata, “Maafkan Vemas, Nenek sakit karena lelah.”
Dini hari, nenek melaksanakan salat tahajud. Vemas yang terjaga, menguping kalimat doa yang ditujukan untuknya. “Kembalikan keceriaan cucuku. Semoga ia menjadi anak yang baik dan sukses, sehingga terbayar segala kesusahannya selama ini. Jika keberadaanku membuatnya bersusah hati, biarlah aku pergi dari dunia ini.” Vemas menahan tangis di balik tirai kamarnya.
Sepulang sekolah, Vemas mengambil radio berisik itu. Ia mengajak nenek yang sibuk mencuci baju menuju teras, “Duduklah, Nek! Terima kasih atas kesabaran Nenek selama ini. Maafkan aku yang selalu membuat nenek sedih. Mulai sekarang, kita akan mendengarkan lagu, ceramah, dan berita bersama-sama. Aku akan membantu Nenek cuci baju. Aku akan berusaha berubah dan menjaga Nenek dengan baik.” Tangis nenek pecah mendengar ucapan cucunya.
Setiap orang memiliki sesuatu yang berharga dalam hidupnya dan radio berisik itu sangat berharga bagi kehidupan Nenek Asih.

Jadi inget nenek, ah…
Jangan lupa sowan ke Nenek ya, Kak…