Petualangan Biu, si Kucing Oranye

Penulis: Novita Berlianti
Kisah ini ditulis oleh Kak Novita Berlianti yang biasa disapa dengan Novita atau Vita. Cerpen ini merupakan tulisan perdananya di platform cerita anak. Kak Novita adalah aktivis platform digital yang bergiat sebagai voice actor dan sempat menulis cerpen serta artikel untuk sasaran pembaca dewasa. Oh ya, suara Kak Novita juga bisa didengar di laman Saung Kanak Nusantara, lho..

Pemilikku sepertinya sedang kesal, dari sepulang sekolah tadi dia tampak murung, tidak seperti biasanya. Dia bahkan terlihat enggan menerima cemilan yang dibuat ibu untuknya.

Aku ingin sekali menghiburnya. Mengatakan kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ada aku di sini yang akan selalu menemaninya. Tapi kali ini dia mengabaikanku, seakan tak mau aku mendekati. Bahkan dia juga mendorongku untuk menjauhinya. Aku sangat sedih.

Keesokkan harinya, pagi-pagi sekali ibu menyiapkan sebuah tas jinjing dan mengemas beberapa kotak bekal. Sepertinya mereka akan melakukan perjalanan.

Ibu masih mondar-mandir menyiapkan beberapa perlengkapan. Ayah sedang memanaskan mobil, sedangkan pemilikku sedang duduk menonton kartun kesukaannya di televisi. Wajahnya masih tampak lesu. Aku kembali bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa dari semenjak pulang sekolah kemarin, pemilikku tak mengajakku bermain.

Tak lama kemudian, mereka pun berangkat. Aku mengantar mereka hingga keluar pagar rumah. Lalu, aku memanjat ke atas tembok pembatas halaman rumah untuk melihat mobil mereka berlalu menjauh. Dan, aku ditinggal lagi sendirian.

Cukup lama aku berdiri di atas tembok pembatas halaman tadi, hingga perutku terasa lapar. Aku pun menuruni tembok, lalu memasuki rumah lewat lubang kecil yang khusus dibuatkan oleh ayah untukku. Kulangkahkan kaki menuju ke dapur untuk melahap makananku yang sebelumnya telah disiapkan ibu. Makanannya tidak terlalu banyak. Sepertinya kepergian mereka kali ini tidak sampai menginap.

Malam menjelang, keheningan mulai menyeruak. Namun, kehidupan para hewan nokturno si kota ini justru baru dimulai. Aku punya teman kecil, si Putih sebutannya. Dia sangat lucu dan imut. Si Putih ditemukan oleh tetangga kami, Nyonya Vivi saat perjalanan pulang dari tempat kerjanya. Entah kenapa makhluk lucu itu bisa ditinggalkan begitu saja.

5 bulan lalu, Si Putih yang masih berusia satu bulan ditemukan dalam keadaan kotor dan basah di dalam kardus mie instan bekas. Tapi, karena bulunya yang cantik dan mata birunya yang menawan, akhirnya Nyonya Vivi memutuskan untuk membawanya pulang ke rumah. Sejak kedatangannya aku sudah sangat tidak sabar untuk bermain dengannya.

Kami sedang asyik bermain tangkap belalang di sebuah saung depan rumah saat tiba-tiba seekor kucing belang hitam-putih besar mengganggu kami. Setelah adu mulut, dia menyerangku dan nyaris menyakiti si Putih. Karena tubuhnya yang lebih besar dari kami, kami pun hanya bisa lari menghindar.

Setelah berhasil memanjat sebuah pohon, aku beristirahat sejenak. Dari situ aku baru menyadari bahwa aku dan si Putih terpisah. Setelah mengatur napas aku memantau sekitar. Setelah yakin kucing belang itu sudah tidak ada, akupun turun dari atas pohon dan langsung mencari si Putih ke rumahnya. Lama aku memanggil, tapi si Putih tidak juga muncul. Aku sangat cemas, jadi aku putuskan untuk mencarinya.

Aku sudah mencarinya ke semua gang dan tempat kami biasa bermain, tapi Si Putih belum juga kutemukan. Aku coba lagi dengan memanjat atap sebuah rumah. Dengan mata terbelalak dan jantung yang berdetak cepat aku menyaksikan si Putih ditangkap oleh dua orang perempuan, yang satu berusia paruh baya dan yang satunya lebih muda. Aku mengenalinya dari kalung merah muda berlonceng kecil yang dikenakannya.

Oh, tidak! Mereka memasukkan si putih ke sebuah kandang kecil, lalu menyimpannya di  dalam sebuah mobil. Dengan sekuat tenaga aku berlari mengejar mobil itu. Perasaan khawatir dan takut yang tidak nyaman ini sangat menggangguku. Apakah aku akan kehilangan si Putih selamanya? Aku takut mereka akan menyakiti si putih. Aku takut jika tidak bisa bertemu si Putih lagi.

Untungnya mobil itu tidak berjalan jauh, hanya sekitar tiga blok dari rumah. Setelah mereka keluar dari mobil dan memasuki rumah, aku menyelinap ke dalam lewat lubang jendela yang terbuka di ruang samping. Aku berusaha mengendus bau si Putih. Suara salah satu wanita yang sedang berbicara menuntunku ke kandang tempat si Putih berada.

Para penculik mengeluarkan si Putih dari kandang. Wanita yang lebih muda menggendongnya. Namun, si Putih melawan dan menggores lengan si wanita dengan cakar mungilnya. Wanita yang lebih muda itu pun tampak marah hingga dengan refleks melempar si Putih ke sofa. Si Putih tampak sangat ketakutan dan berusaha melarikan diri, tapi tidak berhasil. Wanita paruh baya itu bahkan mencengkeram tubuh si Putih.

Aku mendekat perlahan sambil memperkirakan kemungkinan untuk menyelamatkan si Putih. Tapi si Putih tampaknya menyadari aromaku. Ia bergegas lari ke arahku, membuat para penculik mengetahui keberadaanku dan berusaha menangkapku. Karena merasa terancam, aku pun menerjang dengan mencakar tangan mereka lebih dulu. Kedua wanita itu kesakitan hingga akhirnya lengah. Lalu, aku mengajak Si Putih untuk berlari mengikuti ku.

Aku berlari mengikuti cahaya yang terang di ruang sebelah karena pencahayaan terang menandakan ada jendela atau pintu yang terbuka. Di ruang itu, aku menemukan jendela kaca besar dengan banyak kaca nako di samping kanan dan kirinya. Kaca-kaca nako itu memang terbuka namun bercelah sempit. Dengan cepat aku beralih ke pintu besar itu. Aku melompat, langsung meraih gagang pintu, dan syukurlah pintu itu tidak terkunci.

Kali ini jangan sampai seperti kejadian sebelumnya di mana kami berlari berlainan arah saat menghindari musuh. Kali ini, aku harus memastikan Si Putih mengikutiku.

Setelah keluar bangunan itu, kami terus berlari ke bawah celah pintu pagar. Berlari dan berlari menjauhi rumah penculik hingga kelelahan. Di sebuah rumah kosong kami memutuskan untuk istirahat sejenak. Kupandangi langit yang penuh bintang, sambil memikirkan apakah ayah, ibu dan pemilikku sudah pulang ke rumah dan mengkhawatirkanku? Namun, tak lama aku pun terlelap.

Setelah aku membuka mata, ternyata matahari sudah bersinar terang. Tanpa berlama-lama, kami pun bergegas pulang. Dengan mengandalkan ingatanku sebelumnya saat mengikuti para penculik, akhirnya kami berhasil kembali ke kawasan tempat tinggal kami.

Pemandangan pertama yang kutemui adalah sosok orang-orang yang sangat aku sayangi sedang di teras rumah. Ada ayah, ibu dan pemilikku yang tampak menangis. Aku memanggil mereka, “Meong.” Mereka pun menengok dan pemilikku berlari memeluk lalu menggendongku sambil menangis pilu. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi aku sangat menyukai dipeluk seperti ini. Karena aku juga sangat menyayangi pemilikku.

Ternyata sesampainya mereka di rumah semalam, mereka mencariku. Mereka kembali dari rekreasi untuk menghibur pemilikku yang sedih karena gagal lolos dalam pemilihan tim inti sepak bola di klubnya. Oh.. karena itu wajahnya murung sejak pulang sekolah kemarin. Ternyata, dia juga menyayangiku. Namun karena terjadi sesuatu yang buruk, dia jadi tampak mengabaikanku. Aku jadi lega.

Mereka juga sempat bertanya pada Nyonya Vivi mengenai keberadaanku. Ah …  itu berarti mereka juga mengetahui kalau si Putih menghilang. Tapi, hari berat itu telah terlewati dan kini kami sudah berada di rumah lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *