Lola (2)
Oleh: Rizka Amaliah
“Tesso? Itu kamu, kan?”
“Rupanya kamu masih ingat dengan kapsul aromaterapi peningkat endorfin yang kubuat! Kupikir yang kau ingat hanya eksperimen-eksperimenmu sendiri.”
“Hmmh! Sudah! Nggak perlu dibahas! Mau apa kemari?” Lola mematikan hologram berisi catatan formula eksperimen terbarunya.
“Aku hanya heran. Mengapa murid sejenius kamu bisa melakukan hal konyol hanya untuk pamer?”
“Apa maksudmu?”
“Lihat saja efek eksperimenmu satu sampai dua minggu ke depan! Tapi, aku yakin, kau cukup jenius untuk bisa lebih cepat menyadarinya.”
Sebelum sempat menimpali celoteh bocah lelaki yang lebih tua lima tahun darinya itu, Tesso sudah berbalik dan melangkah lesat ke arah pintu keluar. Lola menggigit ujung kuku ibu jarinya. Ia mulai gelisah. Otaknya dipaksa berpikir tentang apa sebenarnya maksud perkataan Tesso.
“Tidak mungkin Tesso hanya usil karena iri atau ingin menyaingiku! Hah! Menyaingiku? Gawat!”
Lola sepertinya telah mendapat jawaban atas teka-teki yang dilontarkan Tesso. Ia segera kembali menyalakan monitor. Gadis berambut cokelat itu mulai mengutak-atik algoritma eksperimennya. Matanya fokus pada angka-angka dan simbol yang bertebaran di monitor. Entah sudah berapa lama pikirannya terperah karena terus-menerus menghitung, merangkai formula, dan melakukan simulasi uji coba melalui komputer.
“Bip! Bip! Bip!” Gelang penghitung energi di lengannya berbunyi.
“Tidak! Jangan sekarang! Aku masih belum selesai!”
Beberapa menit kemudian, Lola segera ambruk. Kepalanya terbentur keras ke meja. Ruang laboratorium mendadak senyap. Ia tak tahu, ada sepasang mata yang tengah mengawasinya.
Bersambung…
