Bapakku Seorang Petani
Oleh: Hasan Bendrat
Bapak menanam padi
Dari pagi hingga petang hari
Bekerja tiada henti
Menyiangi rumput hingga bersih
Istirahat hanya sejenak
Untuk mandi, makan dan sembahyang
Juga tidur di malam hari yang nyenyak
Dulu,
Bila padi-padi telah menguning runduk
Tanda padi makin berisi dan tua
Bapak tersenyun sambil mengangguk
Karena panen segera tiba
Bila alam sedang berpihak
Hama tak jadi kendala
Maka panen jadi semarak
Kami berpesta, bersorak suka cita
Perut kami terisi
Lumbung kami terisi
Rumah kami terisi
Bapak bisa beli baju baru untukku
Juga panci, cangkul dan perabot baru
Sekarang,
Alam tidak menjadi patokan
Sebab, ada yang lebih menakutkan menentukan
Bila pun alam berpihak
Bisa jadi saat panen kami terisak
Nasib kami lebih ditentukan
para pemimpin di gedung dewan
Apa artinya alam yang berpihak?
Bila para pemimpin lebih suka jadi tengkulak
Apa artinya panen berlimpah?
Bila harga gabah jatuh ke dasar lembah,
Suatu kali,
Ketika padi-padi tak lagi punya arti
Bapak lirih menasehati
“Belajar yang rajin, Nak, supaya pintar
dan jadi orang besar.
Tidak seperti bapak,
susah payah mengolah sawah
menanam harapan, merawat kehidupan
yang bapak tuai cuma kekecewaan.”
Aku bertanya dengan lugunya,
“Kalau bapak berhenti menanam,
Apa yang kita makan?”
Bapak hanya tersenyum
Meraih dan meletakkanku di atas pundaknya
Mengajakku bertamasya di pematang sawah
