Hadiah Ramadan

Hadiah Ramadan
Oleh: Kak QS Emmus
Cerpen spesial Ramadan kali ini ditulis oleh seorang penulis cerita anak yang luar biasa. Ia sudah menerbitkan 25 buku cerita anak. Puluhan cerpen karyanya juga telah dimuat di berbagai majalah anak. Spesial banget, kan? Baca naskahnya, yuk!

“Astaghfirullah!” seru Kak Rama sembari melompat kecil. Tiba-tiba muncul sesosok makhluk mencegat jalannya malam itu.

“Aduh, kaget!” Sosok kecil itu ikut memekik.

“Dadan?” tebak Kak Rama karena hapal suara itu.

Dadan pun menarik sarungnya. Dia memang sengaja menutupi tubuhnya dengan sarung putih kotak-kotak. Hanya sepasang mata bulat yang mengintip di celah kecil sarung itu. Ternyata Dadan kesusahan membuka ikatan sarung di kepalanya. Jadinya belibet sendiri.

“Ish, kamu itu lagi ngapain? Mau main ninja-ninjaan atau mau jadi guling?” gurau Kak Rama sembari turun tangan membantu anak kelas 5 SD itu. “Bikin kaget saja! Untung tadi Kakak belum sambit pakai sandal ini, Dan.”

“Bakiak?!” seru Dadan ngeri. “Tega amat sih Kak Ustaz!”

Kak Rama adalah ustaz di masjid kampung. Beliau pulang paling akhir setelah tarawih selesai. Walau masih muda, Kak Rama penggemar bakiak, sandal kayu tebal yang pasti bikin benjol bila kena kepala Dadan.

Setelah Dadan terbebas dari sarungnya sendiri, dia segera mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku baju kokonya. Lalu menyodorkan buku itu kepada Kak Rama.

Tentu saja ustaz muda itu segera mengenali. Buku itu adalah tanda peserta anak-anak mengaji yang ikut memperebutkan hadiah Ramadan. Jadi setiap tahun masjid Ridwan selalu mengadakan acara ini untuk menyemangati anak-anak dalam menjalankan ibadah puasa. Namun sebelumnya, Dadan tak pernah berminat mengikuti acara ini.

“Alhamdulillah,” cetus Kak Rama. “Akhirnya kamu mau ikutan juga, Dan!”

Dadan meringis malu. “Tapi jangan sampai ada teman yang tahu, ya, Kak. Rahasia!” pintanya lirih.

“Ah, jadi karena itu kamu minta tanda tangan Kakak di tengah jalan begini?”

“Ayah Bunda juga enggak boleh tahu!” tambah Dadan.

“Loh? Kenapa begitu, Dan?” tanyanya Kak Rama heran. “Padahal mereka pasti akan senang sekali kalau tahu.”

Kemudian Dadan membisikkan alasannya. Syukurlah Kak Rama tampak memaklumi dan mendukungnya. “Insya Allah niat baik Dadan akan mendapatkan ridho Allah SWT ya,” doa beliau.

“Aamiin …” sahut Dadan.

***

Dadan semakin giat mengikuti kegiatan di masjid Ridwan. Dari salat subuh berjamaah hingga tarawih. Salat lima waktu dia kerjakan di masjid. Bahkan dia tak pernah absen mengikuti tadarusan juga.

“Waduh, ada saingan pemenang hadiah Ramadan tahun ini!” sindir Abdul.

“Tapi harusnya kan, dia nggak perlu ikutan?” timpal Iwan. “Hadiah Ramadan bagi anak sekaya Dadan kan enggak ada artinya?”

Abdul, Iwan, dan teman-teman mengaji tahu siapa Dadan. Dadan kan anak salah satu penyumbang terbesar untuk kegiatan-kegiatan masjid Ridwan.

Tetapi Dadan diam tak menanggapi. Karena sejauh ini tak ada seorang pun yang mengetahui rahasia keikutsertaannya. Tak satupun teman mengaji yang melihatnya mengantre atau berebut meminta tanda tangan Kak Rama selesai salat tarawih.

***

Akhirnya hari itu tiba. Tepat di malam takbiran, Kak Rama siap dengan lima paket hadiah untuk lima anak terpilih. Anak-anak peserta mengaji di masjid Ridwan yang paling rajin dalam menjalankan ibadah puasa.

“Alhamdulillah, tahun ini hampir semua anak berusaha keras. Semoga kita semua mendapatkan pahala puasa di Ramadan kali ini ya,” ujar Kak Rama.

“Amiiin!” sahut anak-anak kompak. Sebenarnya mereka sudah tak sabar ikut rombongan takbir keliling kampung. Tapi melihat bingkisan lebaran telah berjejer, membuat semua anak bertahan di masjid.

“Pertama, adik-adik yang puasanya bolong … Sesuai kesepakatan kita, tidak lolos ya,” lanjut Kak Rama memulai menyebutkan beberapa nama peserta.

Anak-anak itu langsung mendesah, namun menerima dengan lapang dada. Termasuk Sulis, salah satu pemenang tahun lalu. Ramadan kali ini adalah yang paling berat bagi anak perempuan itu dan keluarganya, hingga dia terpaksa tidak bisa puasa.

“Kedua, adik-adik yang tarawihnya bolong … Tidak lolos juga.”

Akhirnya tersisa sepuluh buku kecil di tangan Kak Rama. Nama Abdul dan Iwan termasuk yang lolos hingga tahap ini. Tahun lalu keduanya belum beruntung. Jadi keduanya berharap banyak bisa membawa pulang hadiah Ramadan itu.

Dadan ikut gelisah bersama sepuluh anak itu. Walau tidak ada yang mengetahui, tapi Kak Rama masih memegang buku kecil miliknya. Aduh, bagaimana bagaimana kalau dia termasuk pemenang? Pikirnya bingung karena pasti akan ketahuan.

“Abdul, Iwan, Nisa, Rahma, dan … Hamba Allah,” ucap Kak Rama akhirnya. “Selamat untuk kalian berlima.”

“Hamba Allah?” ulang anak-anak saling berpandangan. Mereka penasaran dengan salah satu pemenang yang merasakan namanya.

Mendengar itu, Dadan menghela napas lega. Bahkan dia diam-diam bersyukur saat tak ada teman yang protes ketika hadiah kelima diberikan kepada Sulis.

Anak perempuan itu berkaca-kaca. Dia memang membutuhkan hadiah Ramadan. Terlebih saat tahun ini begitu susah untuk keluarganya. Apalagi selain paket lebaran berisi sembako dan aneka makanan, terselip amplop berisi uang.

“Sudah, tak perlu penasaran siapa Hamba Allah itu,” ujar Kak Rama meredakan bisik-bisik. “Jadikan ini contoh untuk berbagi. Cukup Allah yang tahu dan selalu bersyukurlah hanya kepada-Nya.”

Akhirnya, semuanya pulang dengan senang, walaupun ketinggalan rombongan takbir keliling. Namun Dadan sudah ditunggu sebuah mobil di depan masjid Ridwan.

“Ayah dan Bunda bangga sekali kepadamu,” ucap Ayah.

“Ayah Bunda tahu?” tanya Dadan.

Keduanya menggangguk dan tersenyum. “Sepertinya Ramadan tahun depan akan lebih seru,” cetus Bunda. “Yakin deh akan ada banyak Hamba Allah lainnya nanti.”

“Amiiin!” seru Dadan dan Ayah kompak.*

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *