Menjadi Ubur-ubur
Oleh: Kaam Aleia
(Kak Kaam Aleia adalah seorang penulis novel di platform digital. Ia juga salah satu kontributor tetap saungkanak.com yang berasal dari kota Malang)
Perjalanan menuju rumah Eyang Suti selalu menyenangkan. Banyak hal yang bisa Riri nikmati di sepanjang jalan Pantura. Laut, hutan, dan gedung-gedung tak sedikit pun luput dari matanya.
Tepat di sebuah pom bensin besar, di daerah Banyuglugur, mobil keluarga Riri berbelok. Bocah tambun itu berpikir bahwa ayahnya akan mengisi bensin. Namun, dugaannya salah. Sang ayah terus menyetir menembus pom bensin dan memarkir mobil di sebuah halaman luas. Di kanan kiri mobil keluarga Riri ada bus-bus besar yang juga sedang diparkir.
“Kita mau ke mana, Yah?” tanya Riri penuh selidik.
“Hmm, rahasia! Nanti kamu akan tahu.” Ayah mengerlingkan matanya. Riri tampak sedikit kesal karena sang Ayah bersikap sok misterius.
Mata Riri tajam mengamati sekeliling. Ada tulisan “Utama Raya Beach” dengan hiasan papan selancar di kanan kirinya.
“Kita akan ke pantai?” Riri berteriak pada ayah dan ibunya yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil yang mirip bus kecil, tetapi seluruh bagiannya terbuka. Ya, tak ada pintu ataupun jendela. Riri bisa memilih tempat duduk menghadap depan, samping, atau belakang.
Bocah itu segera berlari mengejar ayah dan ibunya. Ia senang sekali karena sudah lama keluarga Riri tak ke pantai.
Lokasi pantai tak jauh dari parkiran mobil. Riri langsung melompat-hambur menuju pantai.
“Wu!” Riri memekik riang. Ia segera menyusuri pantai yang tak seberapa panjang. Sementara, ayah dan ibu Riri memesan makanan ringan dan minuman di sebuah kafe megah di sisi luar pantai.
Riri mengamati semua wahana yang tersedia di lokasi wisata Utama Raya ini. Matanya mengernyit melihat sebuah speed boat menarik perahu pisang besar dengan banyak orang di atasnya. Orang-orang itu melesat dengan cepat dan beberapa kali terjun bebas ke lautan.
Bocah itu penasaran. Ia ingin memainkan wahana yang disebut banana boat itu. Riri pun mendekati ayah dan ibunya.
“Ayah, ibu! Bolehkah Riri main banana boat?” Bocah itu agak ragu-ragu karena khawatir orang tuanya tak mengizinkan.
“Riri kan nggak bisa berenang? Berani?” tanya sang ibu dengan tatapan serius.
“Kan ada pelampungnya, Bu. Kayaknya seru banget.” Riri memasang wajah termelasnya.
“Hmm, Riri yakin berani?” Ayah menimpali.
“Iya, Yah! 120 persen.” Riri tampak sangat yakin.
Ayah dan ibu pun mengizinkannya. Ayah Riri dan ibunya bahkan turut bergabung untuk menyemangati Riri.
“Nanti kalau perahu terbalik dan kamu tenggelam, bergeraklah seperti ubur-ubur! Naik ke permukaan!”
“Bukannya ada pelampung, Yah. Memangnya bisa tenggelam?” Riri terlihat penasaran.
“Ya, kamu nggak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, kan?” Ayah menepuk bahu Riri.
Ayah, ibu, Riri, dan beberapa orang lain mulai menunggangi perahu pisang. Riri memegang erat-erat pelana perahu agar tak tergelincir. Kata para pemandu, duduk di depan akan lebih sulit, karena akan ada semprotan air laut dari baling-baling speed boat yang membuat mata perih. Riri pun menurut. Ia duduk di tengah, di antara ayah dan ibunya.
Selang beberapa menit, speed boat mulai melaju kencang. Riri cukup hebat. Meski tubuhnya oleng, ia tak terjatuh ke laut. Bocah itu tersenyum. Namun belum kempis senyumnya itu, tiba-tiba speed boat melaju cepat dan berbelok tajam, membuat banana boat terbalik. Riri pun terlempar ke lautan.
Tubuh Riri tenggelam, butuh waktu untuk pelampung tipis itu mengapung ke permukaan. Riri panik. Ia tak bisa bernapas. Air laut yang sangat asin masuk ke tenggorokannya. Riri merasakan panas dan nyeri. Telinganya juga seperti tersumbat sebab air laut melesak masuk ke dalamnya.
Riri memejamkan matanya dan mencoba untuk tenang. Ia kemudian teringat kata-kata sang ayah.
“Aku harus jadi ubur-ubur.” Riri bergumam dalam hati.
Pelan-pelan ia mulai tenang dan mendorong tubuhnya ke atas. Riri juga merasakan pelampung terangkat dan memudahkan tubuhnya untuk terapung. Akhirnya, Riri pun bisa bernapas, meski air laut terus masuk dari hidung dan keluar dari mulutnya.
“Ayah! Aku berhasil. Aku jadi ubur-ubur,” teriak Riri.
Mendengar suara anaknya, Ayah Riri segera berenang mendekat. Ia pun mendorong Riri untuk bergerak ke arah tali tambang yang menghubungkan banana boat dan speed boat.
“Tenang, Yah! Aku bisa sendiri.” Riri menggerakkan lengan dan kakinya ke arah tambang. Sang ayah pun melongo. Ia heran karena selama ini Riri selalu kesulitan dalam kelas renang. Ia bahkan pernah tenggelam dan tak mau lagi berenang.
Riri dan keluarganya sudah berhasil naik ke atas speed boat. Ia tersenyum dan memekik girang.
“Riri selamat karena tadi berubah jadi ubur-ubur. Seperti kata Ayah.” Bocah itu menaikkan alisnya.
Ayah dan ibu Riri saling pandang. Rupanya, Riri sudah bisa mengalahkan rasa takutnya.
