Krayon Rara di Nisan Pahlawan
Oleh: Rizka Amaliah
(Penulis cerita anak yang berdomisili di Malang ini berprofesi sebagai pendidik. Kak Rizka juga merupakan founder saungkanak.com)
Sepulang sekolah, Rara mengayuh sepedanya. Ia sudah bertekad untuk mengunjungi taman makam pahlawan di Jalan Veteran. Keinginannya menggebu-gebu setelah mendengar cerita Pak guru tentang perjuangan para pahlawan di masa lalu. Ia ingin memberi hormat kepada mereka.
Rara melewati jalan kembar dengan taman di tengah-tengah. Taman rindang itu ditumbuhi banyak pohon trembesi yang menjulang tinggi. Cabang-cabangnya dipadati dedaunan. Untuk sampai di taman makam pahlawan, Rara harus melewati jalan memutar dan menyeberangi taman trembesi itu.
Selang beberapa menit, Rara telah sampai di sisi tempat berpagar yang sangat luas. Mungkin ada lebih dari seratus makam di dalamnya. Rara pun memarkir sepedanya. Ia masuk perlahan ke dalam taman dan melihat jajaran nisan yang tertata rapi.
“Jadi, kalian ini orang-orang yang sudah membuat Indonesia merdeka. Karena kalian, aku bisa sekolah. Terima kasih!” Rara meletakkan tangan kanan di pelipis. Ia memberi hormat pada para pahlawan yang telah meninggal.
Ya, hanya itu yang ingin Rara lakukan. Ia kemudian hendak berbalik. Namun, matanya tertuju pada sebuah nisan kotor yang posisinya miring. Tulisan di nisan itu juga sudah buram.
“Jangan sampai nama pahlawan ini menghilang. Nanti orang yang mencari makamnya akan kebingungan,” gumam Rara dalam hati.
Setelah bermenung sebentar, Rara pun menjentikkan jari.
“Aha! Aku punya ide.”
Rara mengeluarkan sekotak krayon. Ia pun menebalkan nama pahlawan yang ada di nisan.
“Su-kam-to!” Rara menebalkan sambil membaca nama yang tertulis. Tanggal kelahiran dan kematian juga turut ditebalkannya.
“Beres!” Pekiknya.
Rara senang karena tugasnya menunjukkan rasa hormat pada para pahlawan selesai. Namun, saat akan melangkah pergi, ia kembali dibuat bimbang,. Ternyata, ada banyak nisan yang tulisannya hampir luntur. Rara menepuk jidatnya.
“Baiklah! Hari ini tugas muliaku bertambah. Karena kalau tidak, kalian semua pasti menganggapku tidak adil,” Rara seolah sedang berbicara dengan semua pahlawan penghuni makam.
Gadis kecil itu kemudian mulai menebalkan tulisan pada nisan-nisan tua itu. Agar tugas mulianya makin menyenangkan, Rara menggunakan beragam warna krayon untuk menebalkan tulisan. Ia bahkan menggambar bendera merah putih pada beberapa nisan. Rara benar-benar sibuk siang itu.
Krucuk-krucuk
Suara perut Rara nyaring terdengar. Ia baru sadar kalau belum makan. Sudah banyak nisan yang rampung ditebalkan tulisannya. Rara senang sekali.
“Aku pulang dulu, ya! Sudah waktunya makan. Semoga kalian senang. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi untuk mengecek tulisan di nisan kalian.” Rara berpamitan. Ia pun kembali mengayuh sepedanya dan pulang ke rumah.
Keesokan harinya, sebuah berita menggemparkan muncul di televisi. Taman makam pahlawan penuh dengan orang. Tempat yang biasanya sepi itu menjadi ramai karena dikabarkan ada orang iseng yang mencoret-coret nisan.
Salah satu orang dalam berita berkata, “Mungkin pelakunya ingin kita lebih menghargai pahlawan.”
Rara tersenyum melihat berita itu. Ia sangat senang karyanya masuk televisi, meski krayon-krayonnya jadi lebih pendek sekarang.
