Pupa-pupa di Liang Sembunyi (2)

Pupa-pupa di Liang Sembunyi (2)

Oleh: Rizka Amaliah

Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Seekor undur-undur kecil yang bentuk tubuhnya mirip dengan Pupa terpeleset dan berguling ke arahnya. Mereka pun bertubrukan dan berguling ke dasar liang. Tubuh mereka bertumpuk, bersusun seperti kue ulang tahun.

“Siapa kamu?” tanya Pupa sambil bergerak turun dari tubuh undur-undur yang datang tiba-tiba itu.

“Eh! Justru aku yang seharusnya bertanya. Siapa kamu? Mengapa kamu ada di sini?”

Mendengar jawaban ketus itu, Pupa tergagap. Jangan-jangan, undur-undur ini adalah penghuni liang yang baru pulang bepergian.

“Eh! Aku… Aku sedang mencoba beristirahat di sini.”

“Tidak mungkin! Undur-undur kan hanya beristirahat di lubang corong yang dibuatnya sendiri. Ayo cepat katakan! Apa yang kau lakukan di sini? Mau menyakiti temanku ya?”

“Menyakiti temanmu? Wow.. wow… wow…! Tunggu dulu! Aku bahkan tidak melihat siapa-siapa di lubang ini.”

“Menyingkir!” Undur-undur galak itu kemudian berjalan melintasi Pupa.

“Lalu ini siapa?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah bongkahan pasir yang besarnya nyaris empat kali lipat tubuh mereka.

“Hahahah..! Kamu bercanda!”

Pupa tertawa terbahak-bahak. Tentu saja ia tak bisa percaya pada perkataan tak masuk akal dari undur-undur kecil di hadapannya itu.

“Itu hanya butiran pasir raksasa. Kamu berteman dengan butiran pasir? Hahaha…!”

Pupa tidak bisa menghentikan tawanya. Ia bahkan sampai berguling-guling untuk meredakan tawa dan rasa geli di perutnya.

“Diam! Diam! Diam! Suara berisikmu akan mengganggunya, tau!”

Tawa Pupa mendadak berhenti.

“Kamu tidak sedang bercanda?”

“Apa kamu pikir aku bisa bercanda jika salah satu kawanku terjebak di situ?”

“Glek!”

Pupa menelan ludah. Terjebak? Rasa geli di perutnya tiba-tiba hilang dan berganti dengan nyeri. Pupa merasa seperti ada banyak serangga berkerumun dan berdengung di perutnya. Dadanya sesak. Tiba-tiba ia mematung tak bergerak.

“Kamu kenapa?” Undur-undur kecil itu menyentuh tubuh Pupa dengan dua taring panjang di kepalanya.

Pupa tak bergeming. Tubuhnya kembali melemas dan taring panjang di kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan.

“Apa maksudmu dengan mengatakan temanmu terjebak di situ?

“Hmm! Ya! Dia sudah beberapa hari berubah menjadi seperti itu. Aku takut dia akan mati. Tak hanya dia, beberapa undur-undur lain juga bernasib sama. Di sini, hanya tinggal aku sendiri saja. Setiap hari aku akan mendatangi liang demi liang untuk melihat keadaan mereka.”

“Jadi, semua undur-undur di sini berubah menjadi gumpalan pasir?”

Undur-undur kecil itu mengangguk. Ia kemudian merapatkan kakinya dan bersandar ke dinding liang.

“Sudah seminggu aku mendatangi lubang demi lubang. Tapi tak ada satu pun kawanku yang keluar dari gumpalan pasir-pasir itu.”

Pupa mengempaskan tubuhnya ke dinding.

“Apakah kita juga akan berakhir seperti mereka?” Tanya Pupa.

“Mungkin Iya, mungkin juga tidak.” Jawaban undur-undur kecil itu membuat Pupa menatap gelap bagian atas liang. Ia menahan napas. Lalu mengembuskannya dengan cepat.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *