Pupa-pupa di Liang Sembunyi (4-Tamat)

Pupa-pupa di Liang Sembunyi (4-Tamat)

Oleh: Rizka Amaliah

Pupa tidak bisa menerima kenyataan bahwa ia kembali sendirian. Bahkan, saat ini ia mulai merasa ketakutan. Sebab, cepat atau lambat, mungkin ia akan mengalami hal yang sama. Ditelan butiran pasir dan disulap menjadi gumpalan yang megerikan. Pupa tak mau itu terjadi. Ia segera keluar dan mencari tempat aman. Ia berlari menjauh, sejauh mungkin dari liang-liang undur-undur yang menyebar di lahan dengan butiran-butiran pasir halus yang mematikan.

Di kejauhan, Pupa melihat seekor serangga bersayap keluar dari salah satu liang.

“Apakah itu dia? Serangga itukah yang membuat Kakak Pupa dan teman-temannya terjebak dalam balutan pasir di rumah mereka sendiri?”

Pupa bergidik ketakutan. Serangga itu melirik Pupa. Ia segera menimbun tubuhnya dengan pasir agar serangga itu tak mengetahui keberadaannya. Serangga kecil itu kemudian mengepak-ngepakkan sayapnya perlahan. Entah kenapa, tubuhnya seperti belum seimbang saat hendak mengawali perjalanan terbangnya. Namun, beberapa detik kemudian ia sudah bisa terbang rendah dan menjauh perlahan, menghilang dari pandangan Pupa.

Setelah melihat kejadian itu, Pupa seperti teringat akan sesuatu. Ia melamun.

“Aku seperti pernah melihat serangga itu! Tapi di mana ya?” Pupa menggeleng-gelengkan kepalanya.

Ia merasa serangga itu tak asing. Namun, Pupa segera menepis pikirannya tentang serangga bersayap itu. Ia bergegas melaju ke arah liang undur-undur kecil. Ia tak ingin satu-satunya undur-undur yang telah ia anggap seperti kakak sendiri terancam bahaya. Meski tak tahu bahwa kakaknya itu masih hidup atau sudah mati, Pupa ingin menjaganya dari serangan serangga bersayap itu.  

Saat malam tiba, Pupa mengantuk. Matanya terasa sangat berat. Suara jangkrik dan katak yang bernyanyi di luar seperti kidung pengantar tidur bagi Pupa. Pelan-pelan kelopak matanya terkatup. Suasana menjadi begitu hening. Semua suara hilang dan Pupa tenggelam dalam lelap panjang dibalut tempias cahaya bulan.

Pagi ini Pupa bangun sambil menggoyang-goyangkan lehernya yang terasa kaku. Ia tak tahu sudah berapa lama tertidur di liang undur-undur kecil. Pupa lalu mengangkat bahunya dan merasa ada yang aneh dari tubuhnya. Saat membuka mata, Pupa juga merasakan ada benda keras yang membalut sekujur tubuh, dari kepala hingga ekornya.

Pupa kemudian menyundul-nyundul benda keras itu dengan kepalanya. Tampaknya benda itu adalah bongkahan pasir yang memadat karena menempel pada sesuatu yang mirip perekat. Ia mengerahkan seluruh tenaga untuk menghancurkan bongkahan pasir itu. Pupa pun berhasil membuat bongkahan pasir itu retak.

Setelah berhasil keluar dari bongkahan pasir itu, ia kemudian menengok sekitar. Ada dua bongkahan pasir lain yang sudah terbongkar berantakan. Pupa bergegas keluar. Rasanya senang sekali. Ia seperti sudah lama tidak menghidup udara luar dan menatap matahari. Matanya menyipit. Di sebuah ranting, bertengger seekor serangga bersayap yang pernah dilihatnya dulu.

Pupa mengernyit. Ia berjalan mundur. Tapi kakinya terasa berat. Pupa terseok dan terpeleset jatuh. Ia ketakutan.

“Hei! Pupa kecil! Kau mau ke mana?” Serangga itu menyapa Pupa dengan nada meledek.

“Bagaimana mungkin kau tahu namaku?”

Pupa beringsut. Ia berjalan maju, mendekat pada serangga itu.

“Hei, Adik kecil! Ini aku! Aku Kakak Pupa. Ah! Betah sekali kau di situ. Aku sudah lama menunggumu.”

Pupa tertegun. Ia mulai menyadari apa yang terjadi. Ia menengok ke belakang, Tubuhnya terlihat panjang dan ramping. Ia menggerakkan lengannya. Ada dua sayap yang kini menempel di bahunya. Kakak Pupa pun tertawa melihat tingkah Pupa.

“Ayo! Kita terbang bersama. Sayapmu itu tentu butuh latihan untuk bisa melesat sepertiku.”

Kakak Pupa menghampiri Pupa yang masih tampak tidak percaya. Mereka pun terbang rendah bersama, menyapa angin sambil menertawakan ketidaktahuan mereka. Pupa menyenggol tubuh Kakak Pupa dengan sayapnya. Kali ini, Pupa sudah tahu bahwa ia tak akan pernah lagi sendirian.

Tamat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *